Ia merupakan putra dari Gusti Raden Mas Suraja dan R.A. Mangkawati. Seiring berjalannya waktu, beliau berganti nama menjadi Bendara Raden Mas Antawirya.
Kemudian berganti lagi menjadi Bendara Pangeran Harya Diponegoro setelah sang ayah naik takhta sebagai Sultan Hamengkubuwono III.
Sejak muda, Pangeran Diponegoro dikenal cedar, gemar membaca, dan memiliki pengetahuan mendalam tentang hukum Islam dan budaya Jawa. Ia lebih tertarik pada urusan spiritual dan keagamaan dibandingkan dengan politik Keraton.
Pangeran Diponegoro pernah ditawari untuk meneruskan takhta ayahnya, beliau menolak karena bukan anak dari permaisuri.
Selain itu, ia tidak menyukai kehidupan mewah di keraton dan memilih untuk hidup sederhana di tengah rakyat.
Penolakan ini juga dipengaruhi oleh rasa kecewa terhaddap campur tangan Belanda yang semakin kuat di lingkungan istana.
Karena itu, Diponegoro memilih tinggal di Tegalrejo, di dekat kediaman eyang buyutnya, Gusti Kanjeng Ratu Tegalrejo, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwono I.
Pemicu Perang
Kehidupan sederhana yang dijalani Pangeran Diponegoro di Tegalrejo bukan berarti tanpa gejolak.
Justru di Tegalrejo, benih perlawanan mulai tumbuh. Melihat penderitaan rakyat hingga campur tangan Belanda yang semakin dalam di urusan pemerintahan dan adat jawa membuat Pangeran Diponegoro gusar.
Puncaknya pada Mei 1825, Smissaert, seorang pejabat Belanda yang menjabat sebagai residen di Yogyakarta, mendapat tugas dari Pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jalan sekaligus rel kereta api.
Awalnya, jalur pembangunan direncanakan melintasi rute Yogyakarta-Magelang melalui Muntilan.
Namun rencana berubah dan arah jalan dialihkan melalui kawasan Tegalrejo, kediaman Pangeran Diponegoro.
Masalah muncul ketika patok-patok pembangunan jalan justru dipasang tepat di area makam leluhur Pangeran Diponegoro.
Bagi sang pangeran, tindakan itu bukan sekedar kesalahan teknis, melainkan bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai budaya dan kehormatan keluarganya.
Karena hal tersebut, Pangeran Diponegoro sangat marah. Ia segera memerintahkan rakyatnya mencabut patok-patok itu dan menggantinya dengan tombak, sebagai simbol dimulainya perlawanan terhadap Belanda.
Insiden ini memicu perang besar yang membuat Belanda harus menanggung kerugian untuk biaya berperang.
Perang ini dikenal dengan Perang Diponegoro atau Perang Jawa, salah satu perang paling monumental dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.
Alur Perang Jawa
20 Juli 1825, serdadu Belanda dari Yogyakarta dikirim untuk menangkap Pangeran Diponegoro, upaya tersebut justru memicu pertempuran hebat.
Tempat tinggal Pangeran Diponegoro, Tegalrejo dibakar habis oleh serdadu Belanda, menandai dimulainya Perang Diponegoro.
Dalam kekacauan itu, Pangeran Diponegoro bersama keluarga dan para pengikutnya berhasil melarikan diri.
Mereka menempuh perjalanan menuju wilayah Kulonprogo, hingga akhirnya menetap di Goa Selarong, sekitar lima kilometer di barat Kota Bantul.
Di sinilah Diponegoro menjadikan Goa Selarong sebagai markas utama perjuangannya melawan Belanda.
Semangat perlawanan Diponegoro dengan cepat menjalar ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Gerakan ini meluas hingga mejadi perang besar yang kemudian dikenak sebagai Perang Jawa, simbol kebangkitan dan perlawanan rakyat terhadap penindasan kolonial Belanda.
Di lansir dari buku Sejarah Indonesia Modern karya M.C. Ricklefs, lima belas pangeran dan empat puluh satu bupati bergabung mendukung Pangeran Diponegoro dalam melawan kolonial Belanda.
Untuk memperkuat perjuangannya, Pangeran Diponegoro menunjuk Kyai Mojo sebagai penasihat spiritual dan keagamaan.
Sementara itu, Sentot Ali Baharsyah Prawiradirja dipercaya sebagai penasihat militer yang membantu menyusun strategi perang.
Dalam menghadapi kekuatan Belanda, Pangeran Diponegoro menerapkan berbagai taktik perlawanan.
Salah satu strategi yang paling terkenal adalah perang gerilya, yaitu pola pertempuran yang dilakukan secara tersembunyi dan berpindah-pindah untuk mengecoh musuh.
Stategi ini juga digunakan untuk perang melawan kolonial Belanda oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Ia juga mengajak rakyat dari berbagai kalangan, terutama para petani, untuk bergabung dalam barisan perlawanan.
Selain itu, Diponegoro menyebarkan gagasan spiritual kepada masyarakat Jawa bahwa dirinya dalah Herucokro atau Ratu Adil, sosok yang diyakini oleh masyarakat Jawa akan membawa keadilan dan membebaskan rakyat dari penderitaan.
Pangeran Diponegoro mencatat sejumlah kemenangan penting dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.
Salah satunya terjadi pada 6 Agustus 1825, ketika pasukannya merebut daerah Pacitan dari tangan penjajah.
Tak berhenti di situ, Purwodadi juga berhasil dikuasai oleh pasukan Diponegoro.
Belanda juga mengalami kekalahan di beberapa wilayah strategis seperti Prambanan, Pleret, dan Kedu.
Deretan kemenangan tersebut semakin membangkitkan semangat perlawanan rakyat Jawa, sekaligus memperkuat posisi Pangeran Diponegoro sebagai simbol perjuangan dan harapan bagi masyarakat yang tertindas.
Dari sejumlah kekalahan tersebut, pada tahun 1827, Belanda mulai mengubah taktik dengan membangun sejumlah benteng pertahanan di berbagai wilayah Jawa. Strategi ini dikenal dengan nama “Benteng Stelsel” atau sistem benteng berantai.
Benteng-benteng tersebit dihubungkan dengan jalan strategis yang berfungsi untuk mempersempit ruang gerak dan memutus jalur komunikasi dan logistik pasukan Pangeran Diponegoro.
Tak hanya itu, belanda juga memperkuat pasukannya dengan mendatangkan ribuan tentara tambahan dari Sumatra Barat, yang sebelumnya disiapkan untuk menghadapi Perang Padri.
Langkah ini menunjukkan keseriusan Belanda dalam menumpas perlawanan besar yang digalang oleh Diponegoro dan Pengikutnya.
Strategi yang diterapkan Belanda akhirnya berhasil mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dan melemahkan kekuatannya. Perang yang berlangsung selama lima tahun ini membuat belanda mengalami kerugian 20 juta gulden atau jika dikonversi ke kurs sekarang sekitar Rp 417,575 triliun.
Karena kerugian ini, Belanda memutuskan untuk mengambil langkah tegas dengan menangkap Pangeran Diponegoro demi mengakhiri perlawanan yang telah mengguncang Jawa selama bertahun-tahun.
Akhir Perlawanan
Akhir dari Perang Diponegoro terjadi pada 28 Maret 1830, ketika Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang. Ia berhasil di tangkap karena jebakan Belanda.
Tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran etika dan pengkhianatan terhadap semangat perundingan.
Setelah ditangkap, Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia (kini Jakarta), dan pasukannya pun melemah karena kehilangan sosok pemimpin utama.
Ia sempat dipenjara di Stadhuis (kini Museum Fatahillah), lalu kemudian diasingkan ke Manado, sebelum akhirnya dipindahkan ke Makkasar.
Di sanalah Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya hingga ia wafat pada 8 Januari 1855 di Benteng Rotterdam, Makasar.
Perang yang berlangsung selama lima tahun ini menimbulkan kerugian besar di kedua belah pihak.
Lebih dari 200.000 jiwa, baik militer ataupun rakyat sipil, menjadi korban. Bagi Belanda, perang ini menjadi salah satu konflik paling mahal dan melelahkan sepanjang masa kolonial, bahkan hampir membuat Pemerintah Hindia Belanda mengalami kebangkrutan karena membiayai perang ini.
Perang Diponegoro bukan sekedar catatan sejarah, tetapi simbol perlawanan, kehormatan, dan keberanian seorang bangsawan Jawa yang memilih berdiri bersama rakyatnya melawan ketidakadilan.
Penulis: Alif Rizki Wahyu N K