RADAR PURWOREJO - Riset Kemenag 2025: Gen Z Terbukti Lebih Religius dan Terbuka pada Perbedaan
Dilansir dari rilis resmi Kementerian Agama (Kemenag), Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam yang menggandeng Alvara Strategic Research merilis "Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025" pada 31 Desember 2025.
Survei ini menunjukkan bagaimana para generasi muda lebih dapat menjaga kerukunan hidup beragama.
Berdasarkan temuan tersebut, Gen Z tercatat memiliki tingkat toleransi yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial maupun Baby Boomers.
Hal ini menjadi indikator kuat bahwa generasi muda Indonesia memiliki kematangan emosional dalam menghadapi perbedaan keyakinan di kehidupan sehari-hari.
Definisi toleransi dalam survei ini mencakup lingkup yang luas, mulai dari penerimaan ibadah umat agama lain, tidak melakukan pencelaan, hingga menolak keras praktik persekusi dan ujaran kebencian.
Gen Z Paling Anti Persekusi
Data survei ini tidak sekadar berbicara angka rata-rata, namun menyoroti perilaku spesifik yang kerap menjadi isu sensitif di tengah masyarakat.
Dalam salah satu indikator toleransi beragama, yakni sikap terhadap kegiatan ibadah agama lain, Gen Z menunjukkan penolakan paling kuat terhadap aksi pembubaran paksa ibadah agama lain.
Secara statistik, pada indikator "sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan aliran atau organisasi lain", Gen Z unggul dengan skor indeks mencapai 80,03.
Angka ini melampaui generasi Milenial yang mencatat skor 78,77, Gen X dengan 78,97, dan Baby Boomers di angka 78,81.
Baca Juga: Talut Longsor, Ruangan SDN Kokap Terbelah, Ruang UKS dan Dapur Ikut Ambles dan Miring 20 Derajat
Toleran dan Religius
Menariknya, tingginya rasa toleransi ini tidak berbanding lurus dengan lunturnya nilai keagamaan.
Gen Z justru menunjukkan keseimbangan spiritual yang unik, mereka sangat terbuka pada perbedaan, namun tetap memegang teguh ajaran agamanya.
Fakta ini ditunjukkan dari survei ini yang memperlihatkan bahwa kemampuan literasi Al-Qur'an Gen Z adalah yang terbaik dibandingkan generasi lainnya.
Untuk kemampuan membaca Al-Qur'an dengan tartil, Gen Z mencetak skor tertinggi sebesar 56,29.
Capaian ini mengungguli generasi Milenial (54,06), Gen X (53,97), dan bahkan Baby Boomers (50,95).
Ini menunjukkan bahwa di tengah gempuran budaya pop dan kehidupan urban yang dinamis, pemahaman keagamaan tetap menjadi modal intelektual dan spiritual yang kuat bagi anak muda.
Dominasi Skor Toleransi Secara Keseluruhan
Keunggulan Gen Z tidak hanya terlihat pada satu indikator spesifik, melainkan juga tercermin dalam skor toleransi secara menyeluruh.
Indeks pengamalan toleransi Gen Z tercatat berada pada angka 79,65.
Capaian ini menempatkan Gen Z pada posisi yang hanya terpaut tipis dari Generasi X yang mencatatkan skor 79,67.
Selisih yang sangat kecil ini menunjukkan kualitas toleransi yang setara dengan generasi yang lebih matang.
Namun, yang patut menjadi catatan penting adalah bagaimana Gen Z berhasil melampaui beberapa generasi generasi di atasnya.
Skor Gen Z terbukti lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial yang berada di angka 79,07 dan Baby Boomers di angka 78,63.
Optimis Indonesia Emas 2045
Merespons temuan ini, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menyambutnya dengan optimisme.
Ia menilai hasil survei ini sangat menggembirakan dan sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintah dalam membangun SDM unggul serta memperkokoh kerukunan sosial.
Arsad menekankan bahwa karakter toleran dan tingginya literasi kitab suci pada anak muda ini harus terus dikawal.
Hal ini penting agar menjadi karakter permanen bangsa dan menjadi rujukan kebijakan strategis ke depan.
Senada dengan Arsad, Lilik Purwandi, peneliti Alvara Strategic Research melihat posisi strategis Gen Z sebagai aset masa depan.
Menurutnya, survei ini dapat memperkuat rasa optimisme bagi Gen Z yang memiliki peran strategis sebagai motor penggerak menuju Indonesia Emas.
Sebagai informasi, validitas data ini didukung oleh metodologi yang ketat.
Survei dilakukan secara nasional di 34 provinsi dengan melibatkan 1.208 responden Muslim.
Pengambilan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan teknik multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 2,89% dan tingkat kepercayaan sebesar 95%.
Hasil riset ini menjadi pengingat bahwa masa depan harmoni Indonesia berada di tangan para generasi muda.
Diharapkan juga data dari survei ini bisa menjadi acuan untuk merancang program keagamaan yang lebih cocok bagi generasi muda, sehingga aspek toleransi dan pemahaman agama dapat berkembang beriringan dengan pengamalan ibadah sehari-hari secara berkelanjutan. (Aqbil Faza Maulana)
Editor : Meitika Candra Lantiva