Jalanan yang pada umumnya sepi di pagi buta tiba-tiba menjadi ramai oleh arak-arakan sepeda motor dan mobil.
Bagi sejumlah orang, berbagi makanan di jalanan adalah bentuk aksi sosial. Namun, di balik itu semua, SOTR menyimpan narasi sosial yang lebih mendalam.
SOTR merupakan kegiatan membagikan makanan sahur kepada masyarakat yang masih beraktivitas di malam hari.
Fenomena ini mulai naik daun di daerah perkotaan, seiring berkembangnya komunitas anak-anak muda dan organisasi sosial yang ingin mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan yang memiliki makna.
Secara historis, SOTR mulai terkenal di Indonesia pada awal tahun 2000-an, bersamaan dengan meningkatnya budaya komunitas motor dan anak muda di perkotaan.
Aktivitas ini tumbuh tanpa ada struktur yang baku, berawal dari semangat untuk berbagi dan bersatu di bulan suci tersebut.
Seiring berjalannya waktu, SOTR berevolusi menjadi kegiatan yang lebih terencana. Komunitas sosial, organisasi kepemudaan, bahkan kelompok keagamaan mulai mengintegrasikannya ke dalam agenda tahunan.
Di kota-kota besar, SOTR tidak hanya menjadi aktivitas sahur, tetapi juga menjadi bagian dari kalender Ramadan perkotaan yang melibatkan perencanaan, pendanaan, serta dokumentasi.
Dalam konteks sosial, SOTR mencerminkan perbedaan dalam pelaksanaan praktik keagamaan antara masyarakat di kota dan desa.
Jika di desa sahur identik dengan kebersamaan di dalam keluarga atau lingkungan sekitarnya, di kota sahur justru beralih ke ruang publik.
Fenomena ini sejalan dengan penelitian yang terdapat dalam jurnal Ramadan Tradition and Social Piety Reproduction in Indonesia (2024), yang menguraikan bahwa kesalehan sosial di kawasan urban sering kali muncul dalam bentuk praktik-praktik publik yang simbolik dan terpengaruh oleh gaya hidup modern.
Namun, SOTR juga mengangkat pertanyaan-pertanyaan kritis. Para penerima yang mendapatkan sahur umumnya berasal dari kelompok marginal seperti pemulung, tunawisma, atau pekerja malam.
Hubungan antara pemberi dan penerima sering kali satu arah dan temporer. Ada solidaritas yang terwujud, tetapi tidak selalu membangun ikatan sosial yang langgeng.
Makna SOTR terus mengalami transformasi. Dari tindakan spontan menjadi tradisi tahunan, dari rasa empati individu menjadi agenda kolektif yang penuh dengan simbolisme.
Meskipun demikian, SOTR tetap mencerminkan bagaimana masyarakat perkotaan merayakan bulan Ramadan. Tantangannya bukan untuk mengakhiri tradisi ini, melainkan untuk menjadikannya lebih reflektif, teratur, dan berfokus pada empati yang berkelanjutan.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.