Menjemput Kemuliaan Allah Dengan Mengaji, Beberapa Surat dalam Al-Quran yang Mendapat Keutamaan Saat Dibaca di Bulan Suci Ramadan
Magang Radar Purworejo• Senin, 2 Maret 2026 | 12:17 WIB
Tadarus Al-Quran saat bulan Ramadan.
RADAR PURWOREJO - Dalam islam, bulan Ramadan merupakan bulan terbaik di antara bulan lainnya.
Sebab, segala amalan dan tindakan positif penuh keberkahan.
Selain berpuasa, pada bulan ini terdapat amalan-amalan yang baik bagi umat muslim dalam menggapai kemuliaan Allah SWT.
Waktu yang tidak boleh terlewatkan salah satunya malam Lailatul Qodr, merupakan malam terbaik dari seribu bulan.
Yang mana malam ini terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan.
Seperti malam ganjil mulai dari hari ke 21, 23, 25, 27 dan 29.
Selain itu menjemput keberkahan bagi umat muslim di bulan Ramadan di antaranya dengan membaca ayat suci Al-Quran.
Membaca Al-Quran sekaligus memahami, akan mendapatkan keutamaan yang besar dari Allah SWT.
Ada beberapa rekomendasi Surat dalam Al-Quran yang mendapatkan keutamaan ketika dibaca pada bulan Ramadan, Yakni;
1. Surah Al-Baqarah ayat 185
Al-Baqarah merupakan surat ke dua dalam Al-Quran. Dalam surat ini terdapat ayat yang membahas tentang anjuran tentang menjalankan puasa dan memberikan peringatan tentang qadha.
Syahru ramadānallażī unzila fīhil-qur'ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān(i), fa man syahida minkumusy-syahra fal-yaṣumh(u), wa man kāna marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar(a), yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usr(a), wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la‘allakum tasykurūn(a).
Artinya:
"Bulan Ramadan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil. Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan dia tidak berpuasa, maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain."
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah ayat 2:185)
2. Surah Al-Qadr
Surat Al-Qodr meruapak surat ke-97 dalam Al-Quran.
Surah ini, terdiri dari 5 ayat, membawa pesan yang sangat penting tentang malam Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr. Wa mâ adrâka mâ lailatul-qadr. Lailatul-qadri khairum min alfi syahr. Tanazzalul-malâ'ikatu war-rûḫu fîhâ bi'idzni rabbihim, ming kulli amr. Salâmun hiya ḫattâ mathla‘il-fajr.
Artinya:
"Sesungguhnya kami telah menurunkannya Al-quran pada malam qadar dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar."
3. Surah Al-Fath
Surat Al-Fath termasuk surat Madaniyyah yang terdiri dari 29 Ayat. Surat ke-48 dalam Al-Quran ini memiliki arti kemenangan.
Keutamaan membaca surah ini adalah mendapatkan penjagaan dari Allah SWT dan tidak akan memperoleh kesusahan.
اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ ١
Innâ fataḫnâ laka fat-ḫam mubînâSesungguhnya.
Artinya: Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata.
Liyaghfira lakallâhu mâ taqaddama min dzambika wa mâ ta'akhkhara wa yutimma ni‘matahû ‘alaika wa yahdiyaka shirâtham mustaqîmâagar
Artinya: Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, menunjukimu ke jalan yang lurus.
وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيْزًا ٣
wa yanshurakallâhu nashran ‘azîzâdan agar.
Artinya: Allah menolongmu dengan pertolongan yang besar.
Huwalladzî anzalas-sakînata fî qulûbil-mu'minîna liyazdâdû îmânam ma‘a îmânihim, wa lillâhi junûdus-samâwâti wal-ardl, wa kânallâhu ‘alîman ḫakîmâ.
Artinya: Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Liyudkhilal-mu'minîna wal-mu'minâti jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ wa yukaffira ‘an-hum sayyi'âtihim, wa kâna dzâlika ‘indallâhi fauzan ‘adhîmâ.
Artinya: (Hal itu) agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dia pun akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu menurut Allah suatu keuntungan yang besar.
Wa yu‘adzdzibal-munâfiqîna wal-munâfiqâti wal-musyrikîna wal-musyrikâtidh-dhânnîna billâhi dhannas-saû', ‘alaihim dâ'iratus-saû', wa ghadliballâhu ‘alaihim wa la‘anahum wa a‘adda lahum jahannam, wa sâ'at mashîrâ.
Artinya: (Juga agar) Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk. Allah pun murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Litu'minû billâhi wa rasûlihî wa tu‘azzirûhu wa tuwaqqirûh, wa tusabbiḫûhu bukrataw wa ashîlâ.
Artinya: Agar kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, baik pagi maupun petang.
Innalladzîna yubâyi‘ûnaka innamâ yubâyi‘ûnallâh, yadullâhi fauqa aidîhim, fa man nakatsa fa innamâ yangkutsu ‘alâ nafsih, wa man aufâ bimâ ‘âhada ‘alaihullâha fa sayu'tîhi ajran ‘adhîmâ.
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji (setia itu), maka sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar.
Sayaqûlu lakal-mukhallafûna minal-a‘râbi syaghalatnâ amwâlunâ wa ahlûnâ fastaghfir lanâ, yaqûlûna bi'alsinatihim mâ laisa fî qulûbihim, qul fa may yamliku lakum minallâhi syai'an in arâda bikum dlarran au arâda bikum naf‘â, bal kânallâhu bimâ ta‘malûna khabîrâ.
Artinya: Orang-orang Arab Badui yang ditinggalkan (karena tidak mau ikut ke Hudaibiah) akan berkata kepadamu, “Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.”
Mereka mengucapkan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki mudarat terhadap kamu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu? Bahkan, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Bal dhanantum al lay yangqalibar-rasûlu wal-mu'minûna ilâ ahlîhim abadaw wa zuyyina dzâlika fî qulûbikum wa dhanantum dhannas-saû', wa kuntum qaumam bûrâ.
Artinya: Bahkan, (semula) kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sama sekali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya dan dijadikan terasa indah yang demikian itu di dalam hatimu. Kamu telah berprasangka buruk. Oleh sebab itu, kamu menjadi kaum yang binasa.
Wa mal lam yu'mim billâhi wa rasûlihî fa innâ a‘tadnâ lil-kâfirîna sa‘îrâ.
Artinya: Siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).
Wa lillâhi mulkus-samâwâti wal-ardl, yaghfiru limay yasyâ'u wa yu‘adzdzibu may yasyâ', wa kânallâhu ghafûrar raḫîmâ.
Artinya: Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sayaqûlul-mukhallafûna idzanthalaqtum ilâ maghânima lita'khudzûhâ dzarûnâ nattabi‘kum, yurîdûna ay yubaddilû kalâmallâh, qul lan tattabi‘ûnâ kadzâlikum qâlallâhu ming qabl, fa sayaqûlûna bal taḫsudûnanâ, bal kânû lâ yafqahûna illâ qalîlâ.
Artinya: Apabila kamu nanti berangkat untuk mengambil rampasan perang, orang-orang Badui yang ditinggalkan itu akan berkata, “Biarkanlah kami mengikutimu.” Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.” Maka, mereka akan berkata, “Sebenarnya kamu dengki kepada kami,” padahal mereka tidak mengerti kecuali sedikit sekali.
Qul lil-mukhallafîna minal-a‘râbi satud‘auna ilâ qaumin ulî ba'sin syadîdin tuqâtilûnahum au yuslimûn, fa in tuthî‘û yu'tikumullâhu ajran ḫasanâ, wa in tatawallau kamâ tawallaitum ming qablu yu‘adzdzibkum ‘adzâban alîmâ.
Artinya: Katakanlah kepada orang-orang Arab Badui yang ditinggalkan itu, “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah. Jika kamu mematuhi (ajakan itu), Allah akan memberimu balasan yang baik. Akan tetapi, jika kamu berpaling seperti yang kamu perbuat sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.”
Laisa ‘alal-a‘mâ ḫarajuw wa lâ ‘alal-a‘raji ḫarajuw wa lâ ‘alal-marîdli ḫaraj, wa may yuthi‘illâha wa rasûlahû yudkhil-hu jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâr, wa may yatawalla yu‘adzdzib-hu ‘adzâban alîmâ.
Artinya: Tidak ada dosa atas orang-orang yang buta, orang-orang yang pincang, dan orang-orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam surga yang mengalir bawahnya sungai-sungai. Akan tetapi, siapa yang berpaling, dia akan diazab oleh-Nya dengan azab yang pedih.
Laqad radliyallâhu ‘anil-mu'minîna idz yubâyi‘ûnaka taḫtasy-syajarati fa ‘alima mâ fî qulûbihim fa anzalas-sakînata ‘alaihim wa atsâbahum fat-ḫang qarîbâ.
Artinya: Sungguh, Allah benar-benar telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menganugerahkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan berupa kemenangan yang dekat.
Wa ‘adakumullâhu maghânima katsîratan ta'khudzûnahâ fa ‘ajjala lakum hâdzihî wa kaffa aidiyan-nâsi ‘angkum, wa litakûna âyatal lil-mu'minîna wa yahdiyakum shirâtham mustaqîmâ.
Artinya: Allah telah menjanjikan kepadamu rampasan perang yang banyak yang (nanti) dapat kamu ambil, maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu. Dia menahan tangan (mencegah) manusia dari (upaya menganiaya)-mu (agar kamu mensyukuri-Nya), agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin, dan agar Dia menunjukkan kamu ke jalan yang lurus.
Wa ukhrâ lam taqdirû ‘alaihâ qad aḫâthallâhu bihâ, wa kânallâhu ‘alâ kulli syai'ing qadîrâ.
Artinya: (Allah menjanjikan pula rampasan perang) lain yang kamu belum dapat menguasainya, tetapi sungguh Allah telah menguasainya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Sekiranya orang-orang yang kufur itu memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik melarikan diri (kalah), kemudian mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong.
Wa huwalladzî kaffa aidiyahum ‘angkum wa aidiyakum ‘an-hum bibathni makkata mim ba‘di an adhfarakum ‘alaihim, wa kânallâhu bimâ ta‘malûna bashîrâ.
Artinya: Dialah (Allah) yang menahan tangan (mencegah) mereka dari (upaya menganiaya) kamu dan menahan tangan (mencegah) kamu dari (upaya menganiaya) mereka di tengah (kota) Makkah setelah Dia memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Humulladzîna kafarû wa shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi wal-hadya ma‘kûfan ay yablugha maḫillah, walau lâ rijâlum mu'minûna wa nisâ'um mu'minâtul lam ta‘lamûhum an tatha‘ûhum fa tushîbakum min-hum ma‘arratum bighairi ‘ilm, liyudkhilallâhu fî raḫmatihî may yasyâ', lau tazayyalû la‘adzdzabnalladzîna kafarû min-hum ‘adzâban alîmâ.
Artinya: Merekalah orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi kamu (masuk) Masjidilharam dan (menghalangi pula) hewan-hewan kurban yang terkumpul sampai ke tempat (penyembelihan)-nya. Seandainya tidak ada beberapa orang laki-laki dan perempuan yang beriman yang tidak kamu ketahui (keberadaannya karena berbaur dengan orang-orang kafir, yaitu seandainya tidak dikhawatirkan) kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa kamu sadari, (maka Allah tidak akan mencegahmu untuk memerangi mereka).
Itu semua) karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, tentu Kami akan mengazab orang-orang yang kufur di antara mereka dengan azab yang pedih.
Idz ja‘alalladzîna kafarû fî qulûbihimul-ḫamiyyata ḫamiyyatal-jâhiliyyati fa anzalallâhu sakînatahû ‘alâ rasûlihî wa ‘alal-mu'minîna wa alzamahum kalimatat-taqwâ wa kânû aḫaqqa bihâ wa ahlahâ, wa kânallâhu bikulli syai'in ‘alîmâ.
Artinya: (Kami akan mengazab) orang-orang yang kufur ketika mereka menanamkan kesombongan dalam hati mereka, (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. (Allah) menetapkan pula untuk mereka kalimat takwa. Mereka lebih berhak atas kalimat itu dan patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Laqad shadaqallâhu rasûlahur-ru'yâ bil-ḫaqq, latadkhulunnal-masjidal-ḫarâma in syâ'allâhu âminîna muḫalliqîna ru'ûsakum wa muqashshirîna lâ takhâfûn, fa ‘alima mâ lam ta‘lamû fa ja‘ala min dûni dzâlika fat-ḫang qarîbâ.
Artinya: Sungguh, Allah benar-benar akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, (yaitu) bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala, dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.
Huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḫaqqi liyudh-hirahû ‘alad-dîni kullih, wa kafâ billâhi syahîdâ.
Artinya: Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.
Muḫammadur rasûlullâh, walladzîna ma‘ahû asyiddâ'u ‘alal-kuffâri ruḫamâ'u bainahum tarâhum rukka‘an sujjaday yabtaghûna fadllam minallâhi wa ridlwânan sîmâhum fî wujûhihim min atsaris-sujûd, dzâlika matsaluhum fit-taurâti wa matsaluhum fil-injîl, kazar‘in akhraja syath'ahû fa âzarahû fastaghladha fastawâ ‘alâ sûqihî yu‘jibuz-zurrâ‘a liyaghîdha bihimul-kuffâr, wa‘adallâhulladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti min-hum maghfirataw wa ajran ‘adhîmâ.
Artinya: Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya).
Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya.
(Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Lintang Perdana Shynatrya)