Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Panduan Puasa Ramadan bagi Diabetesi: Kenali Gejala Bahaya dan Kapan Harus Membatalkan Puasa

Heru Pratomo • Senin, 2 Maret 2026 | 22:25 WIB

Puasa Ramadhan.
Puasa Ramadhan.

 

Bulan Ramadan menjadi momen ibadah yang dinantikan umat Muslim, termasuk bagi masyarakat dengan riwayat diabetes. Namun, keputusan untuk berpuasa perlu melalui pertimbangan medis yang matang.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dokter spesialis penyakit dalam RS PKU Muhammadiyah Gamping dr. Wahyu Tri Kurniawan, Sp.PD., , menegaskan bahwa keamanan puasa sangat bergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien.

Dalam praktik kedokteran, terdapat proses stratifikasi risiko untuk menilai apakah pasien termasuk kategori rendah, sedang, atau tinggi sebelum menjalankan puasa. Penilaian ini mempertimbangkan kontrol gula darah serta riwayat kesehatan secara menyeluruh.

“Puasa Ramadan bagi pasien diabetes sebenarnya bisa saja dilakukan, tetapi harus dalam kondisi terkontrol. Kami menilai terlebih dahulu tingkat risikonya melalui stratifikasi. Jika risikonya rendah, biasanya masih diperbolehkan berpuasa. Namun, apabila termasuk kategori sedang atau tinggi, umumnya kami sarankan untuk tidak berpuasa karena potensi komplikasinya lebih besar,” jelas dr. Wahyu.

Penentuan kategori risiko tersebut tidak dapat diputuskan sendiri oleh pasien. Dokter akan mengevaluasi berbagai faktor, seperti lama menderita diabetes, riwayat gula darah yang pernah terlalu tinggi atau terlalu rendah, jenis obat yang digunakan termasuk insulin, adanya komplikasi, usia, hingga kondisi khusus seperti kehamilan.

 

Menurut dr. Wahyu, terdapat tiga komplikasi utama yang perlu diwaspadai penderita diabetes saat berpuasa, yakni dehidrasi, hipoglikemia (gula darah rendah), dan hiperglikemia (gula darah tinggi). Ketiganya dapat berujung pada kondisi serius apabila tidak ditangani dengan cepat.

“Hipoglikemia terjadi ketika gula darah berada di bawah 70 mg/dL, biasanya ditandai dengan tangan gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, hingga penurunan kesadaran. Sementara hiperglikemia umumnya terjadi saat gula darah di atas 300 mg/dL, dengan gejala rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, lemas, mual, nyeri perut, dan juga bisa menyebabkan penurunan kesadaran. Jika muncul gejala-gejala tersebut, jangan dipaksakan untuk melanjutkan puasa,” tegasnya.

Lebih lanjut, dr. Wahyu menjelaskan bahwa prinsip gizi bagi pasien diabetes selama Ramadan pada dasarnya sama seperti hari biasa. Komposisi makanan tetap harus lengkap dan seimbang, hanya waktu serta porsinya yang disesuaikan.

“Komposisinya tetap harus mencakup karbohidrat kompleks, protein, serat, lemak sehat, serta cairan yang cukup. Saat puasa, kebutuhan harian dapat dibagi dengan komposisi sekitar 30–40 persen saat sahur, 40–50 persen saat berbuka, dan 10–20 persen untuk camilan sehat setelah tarawih. Yang penting, jangan berlebihan dan hindari ‘balas dendam’ saat berbuka,” ujarnya.

Baca Juga: Menjemput Kemuliaan Allah Dengan Mengaji, Beberapa Surat dalam Al-Quran yang Mendapat Keutamaan Saat Dibaca di Bulan Suci Ramadan

Selain pola makan, penyesuaian juga perlu dilakukan pada konsumsi obat. Obat diabetes secara umum terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu insulin, obat yang berisiko menyebabkan hipoglikemia seperti golongan sulfonilurea, serta obat dengan risiko hipoglikemia rendah seperti metformin. Jadwal konsumsi atau penyuntikan obat perlu disesuaikan dengan waktu berbuka dan sahur, serta tetap dalam pengawasan dokter.

“Puasa adalah ibadah yang mulia, tetapi kesehatan tetap harus diutamakan. Jangan dipaksakan jika berisiko. Jika sudah dinyatakan aman oleh dokter, jalankan dengan disiplin, jaga pola makan, dan patuhi aturan obat agar tidak terjadi komplikasi,” tutup dr. Wahyu.

Editor : Heru Pratomo
#FKIK UMY #Wahyu Tri Kurniawan #PKU Muhammadiyah #diabetes #Ramadan #Bulan puasa