Di tengah kota yang tetap bising dan bergerak cepat, muncul kebutuhan akan ruang tenang untuk menunggu waktu berbuka tanpa harus ikut arus keramaian.
Selama ini, ngabuburit seringkali identik dengan mal, kafe, atau bazar makanan. Ruang-ruang itu ramai, konsumtif, dan sering kali melelahkan, apalagi saat perut kosong.
Niat awal yang hanya “menunggu buka”, ujung-ujungnya keluar uang, terjebak keramaian, dan pulang dengan badan yang lelah.
Dari situ, alternatif tempat yang lebih adem dan ramah energi jadi terasa makin relevan.
Di momen ini, perpustakaan terlihat sebagai pilihan yang sering kali diabaikan. Suasanya tenang, tempat duduknya tidak dikenakan biaya, dan udaranya nyaman.
Kita dapat membaca buku ringan, menyelesaikan tugas, menulis, atau sekadar duduk dengan hening hingga azan maghrib berkumandang.
Keputusan untuk mengunjungi perpustakaan juga dapat diartikan sebagai kritik halus terhadap budaya konsumsi selama Ramadan.
Bulan puasa sering kali menjadi ajang belanja dan agenda buka puasa yang tidak ada habisnya.
Bersantai seolah-olah mengharuskan untuk membeli. Perpustakaan, sebagai ruang yang tidak berorientasi pada profit, menawarkan pengalaman yang berbeda, yaitu hadir tanpa tekanan untuk melakukan transaksi.
Membaca, merenung, dan menenangkan pikiran selaras dengan semangat Ramadan, yaitu menahan diri, memperlambat ritme, dan memberikan ruang untuk merenung.
Menunggu waktu berbuka tidak harus selalu dipenuhi dengan keramaian. Terkadang, keheningan dan membaca justru memberikan makna yang lebih dalam.
Perpustakaan mengingatkan kita bahwa Ramadan bukan hanya berkaitan dengan keramaian dan konsumsi, tetapi juga tentang mencari tempat hening di tengah kota, sebuah ruang kecil untuk hidup lebih sadar dan cukup.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.