Di Indonesia, peringatan ini umumnya jatuh pada 17 Ramadan dan sering diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, hingga tadarus Al-Qur’an di masjid maupun komunitas.
Namun, Nuzulul Qur’an bukanlah sekadar acara seremonial, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan bagaimana Al-Qur’an pertama kali diturunkan sebagai panduan hidup bagi umat manusia.
Secara bahasa, kata nuzul berarti “turun”, sehingga Nuzulul Qur’an merujuk pada peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Nabi Muhammad sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua di Jabal Nur, Makkah. Dalam peristiwa itulah Nabi menerima wahyu pertama yang kemudian menjadi awal turunnya Al-Qur’an.
Wahyu pertama yang diturunkan adalah QS. Al-‘Alaq ayat 1–5, yang diawali dengan perintah membaca:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Perintah tersebut sering dimaknai sebagai ajakan untuk membuka diri terhadap ilmu pengetahuan dan memahami kehidupan dengan kesadaran spiritual.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa bulan Ramadan memiliki hubungan erat dengan turunnya kitab suci ini. Hal tersebut disebutkan dalam firman Allah:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ...” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab suci untuk dibaca, tetapi juga menjadi pedoman hidup bagi umat manusia.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah, moral, hingga hubungan sosial.
Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Tidak hanya membaca, tetapi juga memahami maknanya dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Nuzulul Qur’an bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan pengingat bahwa Al-Qur’an adalah sumber petunjuk yang tetap relevan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.