KULON PROGO - Kabar duka datang dari Arab Saudi, satu calon jemaah haji (CJH) asal Kulon Progo meninggal dunia usai menjalankan Umroh Sunnah. Jamaah itu, Ngadikin,59, asal kloter 1 YIA dengan domisili Kalurahan Plumbon Kapanewon Temon.
Kepala Seksi Pembinaan Layanan Haji dan Umroh Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kankemenhaj) Kulon Progo Kholistin Arifiyani menyebutkan, satu CJH asal Kulon Progo meninggal dunia sekitar pukul 03.00 waktu Arab Saudi, Jumat (8/5).
CJH tersebut sempat dirawat di Al Noor Specialist Hospital, Makkah. "Keterangan dokter, beliau mengalami serangan jantung karena kelelahan," ucap Kholistin,Jumat (8/5).
Kholistin menjelaskan, CJH mengeluhkan rasa sesak dada usai menjalankan umrah sunnah. Jamaah juga sempat terlihat menjalankan ibadah di Masjidil Haram. Namun, timbul gejala serangan jantung hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit terdekat,
Ngadikin memiliki riwayat penyakit sakit jantung, namun memenuhi laik terbang dengan disertai obat dan pengawasan dokter rombongan. Sayanganya, sebelum menjalankan ibadah haji, CJH merasakan gejala serangan jantung. Hal ini diduga faktor kelelahan, mengingat umrah sunnah tak hanya menguras mental tetapi juga fisik.
Umrah sunnah saat ini tergolong sulit saat musim haji. Pasalnya, banyak CJH dari berbagai belahan dunia lain turut beribadah. Di samping itu, jarak antara Masjidil Haram dengan penginapan cukup jauh.
CJH harus menggunakan bus yang jadwalnya tak dapat dipastikan. "Nanti akan langsung dikuburkan di sana (Makkah)," ungkapnya.
Kholistin menjelaskan, jenazah akan dishalatkan di Masjidill Haram dan langsung dikebumikan. Hal ini didasari regulasi kebijakan Arab Saudi saat CJH meninggal dunia.
Biaya haji yang telah dibayarkan juga akan dikembalikan 100 persen. Sedangkan, ibadah haji akan diwakilkan oleh petugas yang berada di sana. "Beliau berangkat bersama istri, dan istrinya dipastikan tetap menjalankan haji," ungkapnya.
Menurutnya, ibadah haji merupakan ibadah fisik. Pihaknya mengimbau agar CJH dapat menjaga diri. Terutama tak memaksakan ibadah sunah, justru fokus ibadah diarahkan ke rukun haji. Sebab puncak haji akan jatuh pada 27 Mei mendatang. Selama puncak itu, CJH akan berjubel di beberapa titik yang akan menghabiskan waktu dan tenaga.
Sementara itu, anak sulung Ngadikin Khafid Pradana menuturkan, ayahnya mendaftar sejak 2010 silam, dan baru berangkat 2026. Sosok ayahnya dikenal sebagai guru yang mengajar di SDN Bugel dan menjadi panutan warga sekitar."Bisa dibilang, ayah jadi panutan warga di sini," ungkapnya. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo