Setelah Ramadan berlalu, bukan berarti semangat berpuasa ikut berakhir. Justru Rasulullah saw memberikan petunjuk tentang puasa sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa, yaitu puasa di bulan Muharram.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Baca Juga: Indeks Bahasa Inggris Indonesia Peringkat 80 Dunia, EF EFEKTA Dorong Peningkatan Kualitas SDM
Hadis ini menunjukkan kedudukan istimewa bulan Muharram di antara bulan-bulan lainnya. Jika Ramadan merupakan bulan puasa yang diwajibkan, maka Muharram adalah bulan yang paling utama untuk memperbanyak puasa sunnah. Tidak ada bulan lain yang memperoleh pujian sedemikian tinggi dari Rasulullah saw setelah Ramadan selain Muharram.
Menariknya, dalam hadis tersebut Rasulullah saw menyebut Muharram dengan ungkapan Syahrullah atau “bulan Allah”. Padahal seluruh bulan adalah milik Allah. Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran Muharram kepada nama Allah merupakan bentuk pemuliaan dan pengagungan.
Baca Juga: Hendak Disidang, Eks Dirut Percada Sukoharjo Juga Terdakwa Kasus Korupsi Meninggal Dunia
Keutamaan Muharram juga tidak dapat dilepaskan dari statusnya sebagai salah satu bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah Swt. Allah berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS. at-Taubah [9]: 36)
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari kemaksiatan serta memperbanyak amal saleh. Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwa dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki konsekuensi yang lebih berat, sementara amal saleh yang dilakukan pada bulan tersebut mendapatkan perhatian dan keutamaan yang lebih besar di sisi Allah.
Baca Juga: Perampok Sadis di Jenar Sragen Terancam Hukuman Mati, Penyidik Bakal Jerat Penadah
Karena itu, puasa di bulan Muharram bukan hanya bernilai sebagai ibadah sunnah biasa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memuliakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah.
Di antara hari-hari yang paling utama dalam Muharram adalah hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Hari ini memiliki sejarah yang sangat penting dalam tradisi para nabi. Ketika Nabi Muhammad saw tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa hari tersebut adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Mendengar penjelasan itu Rasulullah saw bersabda:
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. al-Bukhari)
Baca Juga: Gelar Winongo Art Festival, Kemantren Ngampilan Jadikan Bantaran Sungai Ruang Budaya dan Ekonomi
Puasa Asyura menjadi simbol syukur atas pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Puasa ini mengingatkan bahwa sejarah umat manusia pada akhirnya adalah sejarah kemenangan kebenaran atas kebatilan, meskipun jalan menuju kemenangan itu sering kali panjang dan penuh ujian.
Rasulullah saw bahkan memberikan perhatian yang sangat besar terhadap puasa Asyura. Ibnu Abbas ra berkata:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw begitu bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan melebihi hari lainnya selain hari Asyura.” (HR. al-Bukhari)
Baca Juga: Klaim Lebih Hemat, Masyarakat Mulai Beralih ke Pertalite Imbas Kenaikan Pertamax
Untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi, Rasulullah saw juga berkeinginan menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram atau yang dikenal dengan puasa Tasu’a. Beliau bersabda:
“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)
Karena itu, ketika Muharram datang, janganlah berlalu sebagai bulan biasa. Jadikanlah bulan Allah ini sebagai momentum memperbanyak puasa sunnah, memperbanyak istigfar, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melakukan berbagai amal kebajikan lainnya.
Editor : Heru Pratomo