RADAR PURWOREJO - Tidak ada kehidupan yang benar-benar bebas dari konflik.
Perbedaan pendapat bisa muncul kapan saja, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, kampus, tempat kerja, maupun di tengah masyarakat.
Bahkan, persoalan yang awalnya tampak sepele terkadang berkembang menjadi pertengkaran hanya karena masing-masing pihak enggan memahami sudut pandang orang lain.
Fenomena ini semakin mudah dijumpai di era digital.
Ruang media sosial membuat setiap orang bebas menyampaikan pendapatnya.
Baca Juga: New Evolution, Astra Motor Yogyakarta Resmi Kenalkan New Honda Vario Evo 160
Sayangnya, kebebasan tersebut tidak selalu diiringi dengan kemampuan mengendalikan emosi.
Kolom komentar sering berubah menjadi arena saling menyalahkan.
Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi ruang diskusi justru berakhir pada permusuhan.
Tidak sedikit pula hubungan yang renggang hanya karena kata-kata yang ditulis saat emosi sedang memuncak.
Dalam situasi seperti itu, manusia sering kali sibuk mencari pembenaran atas dirinya sendiri.
Baca Juga: Siasat Pasar Malam Bertahan di Era Digital: Andalkan Wisata Berbasis Pengalaman dan QRIS
Kita ingin didengar, ingin dimengerti, bahkan ingin dianggap paling benar.
Padahal, ketika ego menjadi yang paling depan, penyelesaian masalah justru semakin jauh dari harapan.
Sebagai seorang muslim, ada satu ikhtiar yang sering kali terlupakan ketika menghadapi konflik, yaitu berdoa.
Banyak orang baru mengingat doa ketika persoalan sudah berada di titik yang paling rumit.
Padahal, doa bukan sekadar pelengkap setelah semua usaha dilakukan.
Doa adalah cara seorang hamba menyadari bahwa ada kuasa yang lebih besar daripada kemampuan dirinya dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Baca Juga: Ubah Kawasan Padat Jadi Rindang, KWT Srikandi Sukses Kembangkan Urban Farming di Mrican Sleman
Berdoa memberikan ruang bagi hati untuk berhenti sejenak dari gejolak emosi.
Saat seseorang mengangkat tangan dan memohon petunjuk kepada Allah Swt, ia sedang belajar mengakui bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan amarah atau keinginan untuk menang sendiri.
Ada kalanya yang dibutuhkan bukan jawaban yang cepat, melainkan hati yang lebih tenang agar mampu melihat masalah dengan lebih jernih.
Ketika hati mulai tenang, cara seseorang memandang konflik pun ikut berubah.
Ia tidak lagi hanya memikirkan siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi mulai mencari jalan agar hubungan tetap terjaga tanpa mengorbankan nilai-nilai kebaikan.
Baca Juga: Masyarakat Takut Didata Pajak, Wabup Purworejo Luruskan Isu Sensus Ekonomi 2026
Dari sinilah doa menjadi kekuatan yang bekerja dari dalam diri.
Bukan menghilangkan masalah secara instan, melainkan membentuk sikap yang lebih dewasa dalam menghadapinya.
Namun, doa tentu bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Konflik tetap membutuhkan komunikasi yang baik, kesediaan mendengarkan, serta keberanian meminta maaf maupun memaafkan.
Dalam banyak keadaan, penyelesaian terbaik justru lahir ketika kedua belah pihak sama-sama bersedia menurunkan ego.
Doa menjadi penuntun agar setiap langkah menuju perdamaian dilakukan dengan hati yang lebih lapang.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa kelembutan memiliki kekuatan yang sering kali tidak dimiliki oleh kemarahan.
Ucapan yang baik mampu meredakan ketegangan, sedangkan perkataan yang lahir dari emosi justru meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.
Karena itu, sebelum mengirim pesan yang bernada kasar, membalas komentar dengan kemarahan, atau mengambil keputusan saat emosi memuncak, mungkin kita hanya perlu berhenti beberapa saat untuk berdoa.
Sesederhana itu, tetapi sering kali memberikan dampak yang besar.
Pada akhirnya, konflik bukanlah tanda bahwa kehidupan sedang berjalan buruk.
Konflik adalah bagian dari proses pendewasaan manusia.
Baca Juga: SPMB di Sragen Tercoreng Isu Siswa Titipan via Surat Wakil Bupati
Dari sanalah seseorang belajar mengendalikan diri, menghargai perbedaan, dan memahami bahwa tidak semua persoalan harus dimenangkan.
Barangkali, kemenangan yang sesungguhnya bukan ketika kita berhasil membuktikan bahwa diri kita benar.
Kemenangan yang lebih bermakna adalah ketika kita mampu menjaga hati tetap tenang, lisan tetap santun, dan hubungan antarsesama tetap terpelihara.
Semua itu berawal dari kesediaan untuk mengetuk pintu langit melalui doa, sebelum mengetuk pintu hati manusia.
Editor : Meitika Candra Lantiva