RADAR PURWOREJO - Riyadhoh menjadi salah satu istilah yang kerap muncul dalam kajian tasawuf dan pembinaan spiritual umat Islam.
Praktik ini dikenal sebagai bentuk latihan rohani untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pembiasaan ibadah harian.
Secara bahasa, riyadhoh berasal dari kata Ar-Riyadhu atau Ar-Raudhu yang maknanya sama dengan At-Tamrin yang berarti latihan atau melatih diri.
Sementara secara istilah dalam ilmu tasawuf, riyadhoh diartikan sebagai upaya melakukan amalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan cara menyendiri menjalankan ritual ibadah guna menundukkan hawa nafsu.
Proses riyadhoh dalam tasawuf disebut ath-thariqah.
Dalam praktiknya, riyadhoh memiliki empat rukun utama: uzlah (mengasingkan diri dari keramaian untuk fokus beribadah), menjaga lisan dengan diam atau berbicara seperlunya, bangun malam untuk beribadah seperti tahajud dan berdzikir, serta menahan lapar lewat puasa sunnah.
Surat Al-Maidah ayat 35 menjadi dasar amalan ini, yang pada intinya berisi seruan untuk bertakwa dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu terdapat juga hadits Qudsi riwayat Thabrani yang menjelaskan bagaimana kedekatan seorang hamba dengan Allah dapat diraih lewat konsistensi menjalankan amalan sunnah.
Baca Juga: Festival Layang-Layang Nasional 2026 Digelar di Pantai Ketawang, Diikuti 31 Tim dari Empat Negara
Riyadhoh dalam ilmu tasawuf dibagi menjadi dua jenis.
Pertama, riyadhoh al-jisim, yaitu latihan fisik untuk kesehatan jasmani.
Kedua, riyadhoh al-nafs, yaitu olah batin lewat olah pikir dan olah hati untuk mencapai kesadaran serta kualitas rohani.
Riyadhoh al-nafs disebut lebih utama karena jiwa merupakan pembimbing manusia menuju jalan kebenaran.
Di lingkungan pesantren, riyadhoh seringkali diwujudkan dalam bentuk amalan harian yang lebih rinci.
Baca Juga: Menjelajahi Serpihan Surga: 8 Rekomendasi Wisata Alam Terbaik di Kebumen
Misalnya menjaga shalat sunnah, rutin membaca dzikir dan ayat-ayat tertentu, serta berupaya menjauhi perbuatan-perbuatan yang dianggap merusak jiwa.
Praktik semacam ini disebut dapat membentuk kebiasaan yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari seorang mukmin.
Riyadhoh, baik dalam bentuk fisik maupun batin, dinilai sebagai sarana melatih konsistensi ibadah sekaligus mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Islam.
Editor : Meitika Candra Lantiva