Di era ketika layar media sosial kita dibombardir oleh flexing, jet pribadi, dan klaim "sukses muda tanpa kerja keras," mentalitas instan perlahan menjangkiti isi kepala.
Kita dipaksa menyaksikan standar hidup yang melompat tinggi. Akibatnya, bekerja secara wajar terasa lambat dan menjadi kaya secara mendadak berubah menjadi obsesi baru.
Saat algoritma digital menawarkan jalan pintas fiktif lewat investasi bodong atau judi online, dunia nyata sebenarnya sudah lama menyediakan replikanya yang lebih mistis, yakni jalur pesugihan.
Masyarakat Indonesia pasti akan langsung tertuju pada satu titik geografis yang dikenal keramat yaitu Gunung Kawi yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Tempat ini bukan hanya sekadar sebagai pusat mitos pesugihan. Gunung Kawi sebenarnya adalah cermin besar bagi kita yang hidup di era modern. Cermin untuk melihat kembali, sejauh mana kita mampu menjaga rasa syukur di tengah gempuran ambisi kaya raya secara instan.
Baca Juga: Jerhemy Owen Tebang 10 Hektar Kebun Sawit Ilegal, Kawasan Hutan Lindung Disiapkan untuk Direstorasi
Ada banyak sekali mitos yang ada di Gunung Kawi, salah satunya adalah menjatuhkan daun dari pohon Dewandaru. Di balik udaranya yang sejuk, tempat ini menyimpan narasi panjang tentang perburuan kekayaan materi.
Bagi sebagian orang, fenomena Gunung Kawi adalah simbol keputusasaan, namun bagi yang lain, itu adalah wujud keserakahan yang terorganisir.
Jebakan kaya instan sangat menggoda karena manusia sering kali keliru mengartikan kekayaan sebagai akhir dari semua masalah.
Padahal, dalam narasi pesugihan apa pun, selalu ada harga mahal yang harus dibayar misalnya tumbal, ketenangan hidup yang hilang, hingga hilangnya iman. Pola yang sama terjadi pada korban pesugihan modern seperti judi online yang mengakibatkan sebuah lingkaran hutang yang menjerat, hancurnya hubungan keluarga, hingga depresi.
Jalur instan tidak pernah benar-benar memberikan kekayaan dan ia hanya meminjamkan kesenangan sesaat dengan bunga berupa kehancuran hidup di masa depan.
Menolak jalur Gunung Kawi dengan merawat rasa syukur dari sudut pandang modern seharusnya memantik sebuah kesadaran spiritual yang mendalam. Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat dan menuntut kita untuk selalu memiliki segalanya, syukur adalah rem darurat terbaik untuk membentengi diri dari gempuran flexing dan godaan kaya instan bisa dimulai dengan beberapa langkah.
Kita bisa memaami lag apa arti cukup yang sesungguhkan. Kekayaan sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita pamerkan, melainkan seberapa sedikit kita merasa ketergantungan pada hal-hal di luar kendali kita.
Kita juga bisa mulai kembali untuk belajar menikmati proses settiap keringat dari pekerjaan yang halal memiliki nilai spiritual yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh lembaran uang hasil jalan pintas yang haram.
Menikmati segala proses juga akan membentuk karakter untuk bisa lebih bijaksana melihat ke bawah dan mulai bersyukur kembali.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial memaksa kita mendongak hingga leher kita pegal sehingga cobalah sesekali melihat ke bawah untuk menyadari bahwa apa yang kita keluhkan hari ini mungkin adalah kemewahan yang diimpikan orang lain.
Upaya lain juga bisa kita jalani dengan mengamalkan doa dan lebih mendekatkan diri lagi lepada Sang Pencipta. Bagi pemeluk agama Islam, kita bisa berdoa meminta perlindungan dari perbuatan syirik yang disadari maupun tidak disadari contohnya seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat untuk menangkal syirik yang samar (seperti riya atau ingin dipuji).
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika wa ana a'lamu, wa astaghfiruka lima laa a'lamu
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad).
Selain itu juga ada doa memohon keteguhan iman karena sering kali sebagai manusia hatinya goyah. Rasulullah SAW sangat sering membaca doa ini agar hatinya tetap di atas ketaatan dan tauhid.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'ala diinik
Artinya: "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi).
Editor : Bahana.