RADAR PURWOREJO - Bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah, diperkirakan akan dimulai pada 16 Juli 2026.
Di sejumlah kalangan masyarakat, bulan ini masih dikaitkan dengan anggapan sebagai bulan sial atau penuh musibah.
Terutama pada hari Rabu terakhir, yang dipercaya sebagai puncak turunnya kesialan untuk sepanjang tahun.
Namun, anggapan ini sebenarnya sudah lama dibantah dalam ajaran Islam.
Baca Juga: Dilantik di Pendopo Kabumian, PWI Kebumen Diminta Jaga Kuantitas dan Kualitas
Rasulullah SAW secara tegas menolak keyakinan tersebut melalui sebuah hadits riwayat Bukhari yang artinya: "Tidak ada wabah yang menyebar dengan sendirinya, tidak ada tanda kesialan, tidak ada burung tanda kesialan, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
Dalam hadits yang sama, Nabi juga mengingatkan untuk menjauhi penyakit menular seperti kusta, sebagaimana seseorang menjauh dari singa.
Bukan karena mitos kesialan, melainkan sebagai bentuk ikhtiar menjaga kesehatan yang wajar.
Baca Juga: Investasi Lampu Mandala Krida Terganjal Kasus Hukum Lama, Erick Thohir Janji Carikan Solusi ke KPK
Menurut penjelasan Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam kitab Jam'ul Jawami', anggapan buruk soal Safar berakar dari kepercayaan masyarakat Arab jahiliyah.
Ada dua versi kepercayaan yang berkembang saat itu. Pertama, masyarakat Arab meyakini ada semacam ular atau cacing dalam perut bernama "as-Safar" yang akan menyerang dan menular saat seseorang lapar.
Kedua, sebagian meyakini Safar berkaitan dengan praktik an-nasi', yaitu kebiasaan menunda bulan Muharram ke Safar dan menjadikan Safar sebagai bulan yang dihormati (haram) menggantikan Muharram.
Islam datang untuk membantah kedua keyakinan tersebut.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari.
Ia mencatat bahwa masyarakat Arab jahiliyah dahulu mengharamkan peperangan di bulan Safar dan justru menghalalkannya di bulan Muharram, bertolak belakang dari ketentuan yang seharusnya.
Nabi Muhammad SAW kemudian meluruskan praktik ini melalui sabdanya menolak anggapan "La Safar".
Baca Juga: Disdik Sleman Sebut Partisipasi Siswa untuk Sambut Prabowo-Modi Bersifat Sukarela
Berdasarkan penjelasan para ulama tersebut, dapat disimpulkan bahwa anggapan Safar sebagai bulan sial tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Keyakinan itu murni warisan tradisi dan tahayul masa jahiliyah yang telah diluruskan oleh Nabi Muhammad SAW.
Islam mengajarkan bahwa segala musibah maupun kebaikan terjadi semata-mata atas kehendak Allah SWT, bukan karena bulan atau waktu tertentu.