Jin Sekelas Ifrit Saja Tak Tahu, Ini Alasan Setan Mustahil "Perbudak" Roh Manusia di Balik Isu Pesugihan Gunung Kawi Menurut Ustadz Faizar

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 12:04 WIB
Berbagai macam sesajen dengan dupa yang telah dibakar. (Unsplash)
Berbagai macam sesajen dengan dupa yang telah dibakar. (Unsplash)

 


RADAR PURWOREJO - Isu pesugihan di Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, belakangan viral di media sosial.

Kehebohan ini bermula dari video Pesulap Merah, Marcel Radhival, saat berbincang dengan seorang juru kunci di kawasan tersebut hingga menyeret sejumlah nama publik figur dan pejabat.


Kemudian, muncul pula berbagai konten susulan di media sosial.

Mulai dari pengakuan mantan asisten artis, cerita mantan buruh proyek yang mengaku pernah mengantar bosnya berziarah, hingga isu daftar tarif ritual yang sempat viral awal Juli lalu.

Baca Juga: Misi Baru Sang Jurnalis, Manajer Baru Laskar Mataram Iksan Mahar Bawa Pengalaman Dunia ke PSIM Jogja


Di tengah gelombang konten itu, satu ketakutan yang paling sering muncul dalam narasi pesugihan adalah soal tumbal manusia. 

Konon jika sampai merenggut nyawa, roh korban dipercaya akan "diperbudak" oleh setan atau iblis di alam gaib.

Ketakutan semacam inilah yang coba dijawab langsung oleh pendakwah Muhammad Faizar lewat sebuah video reels di akun Instagram pribadinya

Menurut Ustadz Faizar, ketika seseorang meninggal dunia, rohnya berpindah ke sebuah alam yang jauh lebih gaib dibanding alam jin itu sendiri.

Baca Juga: Gerah dengan Pernyataan Hotman Paris, PWI Pusat: Wartawan Bekerja untuk Publik, Bukan untuk Direndahkan


Ia menjelaskan, bahkan jin sekelas ifrit, golongan jin yang dikenal memiliki kekuatan besar dalam berbagai riwayat, sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang proses pencabutan nyawa seseorang oleh malaikat maut.


Penjelasan ini ia kaitkan dengan Surat Saba ayat 14, yang menceritakan kisah wafatnya Nabi Sulaiman.

Para jin yang saat itu bekerja untuknya bahkan tidak menyadari kematiannya hingga tongkat yang menyangga tubuhnya dimakan rayap dan akhirnya roboh.


Dari kisah tersebut, Ustadz Faizar menyimpulkan, jika jin saja tidak mengetahui proses kematian seorang nabi yang berada tepat di dekat mereka, mustahil rasanya jin atau setan mampu "memperbudak" roh manusia yang telah meninggal dunia, termasuk dalam konteks korban tumbal pesugihan.

Baca Juga: PSIM Jogja Resmi Rekrut Alwi Fadilah, Solusi Muda untuk Lini Belakang


Penjelasan semacam ini sejalan dengan sikap resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, yang sebelumnya juga ikut buka suara merespons viralnya isu Gunung Kawi.


MUI Jatim menegaskan, jika memang benar ada praktik ritual yang melibatkan sesajen dan permintaan kepada selain Allah, maka hukumnya jelas tergolong kemusyrikan dan haram secara mutlak.


Persoalan ini ada dalam lingkup akidah, bukan sekadar cerita horor semata.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa narasi mistis sepopuler apa pun, tetap perlu disandingkan dengan penjelasan yang berpijak pada sumber ajaran agama. 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Setan Roh Manusia di Balik Isu Pesugihan Gunung Kawi Ustadz Faizar jin