Istidraj: Istilah dalam Islam yang Bisa Jelaskan Kenapa Sebagian Orang "Terlihat" Kaya Mendadak Setelah Pesugihan

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:16 WIB
Seorang laki-laki sedang meminta bantuan dukun untuk melakukan pesugihan. (AI Generated)
Seorang laki-laki sedang meminta bantuan dukun untuk melakukan pesugihan. (AI Generated)

 

RADAR PURWOREJO - Belakangan ini, nama Gunung Kawi di Malang, Jawa Timur, ramai diperbincangkan di media sosial yang bermula dari konten Pesulap Merah.

Di tengah ramainya spekulasi soal pesugihan ini, satu pertanyaan jawabannya perlu dimengerti oleh umat Muslim adalah: bagaimana sebenarnya Islam memandang praktik pesugihan?

Menurut Ustaz Muhammad Faizar dalam sebuah Reels yang diunggah di Instagram-nya, pesugihan pada dasarnya setara dengan konsep sihir.

Ia menjelaskan, para ulama membedakan sihir dari mukjizat dan karomah, dua hal yang sama-sama datang dari Allah.

Sedangkan sihir mendapat bantuan dari setan. 

Baca Juga: Stasiun Gambir dan Yogyakarta Jadi Destinasi Paling Diminati Penumpang Daop 2 Bandung

Sihir sendiri bisa dilakukan manusia dalam bentuk sulap atau oleh bangsa jin lewat fasilitas gaib yang tidak diketahui manusia biasa.

Yang menarik, Ustadz Faizar menyinggung satu konsep penting yang bisa menjelaskan kenapa praktik semacam pesugihan kadang "terlihat" berhasil membuat seseorang mendadak kaya, yaitu istidraj.

Dalam Surah Al-An'am ayat 44 menggambarkan bagaimana Allah membiarkan seseorang larut dalam kenikmatan dan kemudahan duniawi, sampai akhirnya kenikmatan itu berbalik menjadi jebakan yang menjatuhkan mereka secara tiba-tiba.

Baca Juga: Cegah Stunting Sejak Dini, Tim Peneliti UGM dan Mitra Manfaatkan Pangan Lokal Tempe dan Pisang

QS Al-An'am Ayat 44

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ ۝٤٤


Fa lammâ nasû mâ dzukkirû bihî fataḫnâ ‘alaihim abwâba kulli syaî', ḫattâ idzâ fariḫû bimâ ûtû akhadznâhum baghtatan fa idzâ hum mublisûn


Artinya: Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.

Baca Juga: Investigasi Sementara Kasus Keracunan MBG di SMPN 3 Wates, Masak tanpa APD dan Tak Ada Batas Waktu Konsumsi

Tapi tidak ada bantuan setan yang benar-benar gratis.

Berkaitan dengan Surah Al-Jin ayat 6, yang menjelaskan bagaimana manusia yang meminta perlindungan pada jin justru membuat jin semakin menambah kesesatan bagi mereka.

QS Al-Jinn, Ayat 6

وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ ۝٦


Wa annahû kâna rijâlum minal-insi ya‘ûdzûna birijâlim minal-jinni fa zâdûhum rahaqâ


Artinya: Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.

Semakin seseorang bergantung pada bantuan gaib semacam ini, semakin dalam pula ia terjerumus.

Baca Juga: Praperadilan Ditolak, Status Tersangka Pemilik TikTok Kang Margo Sragen Sah secara Hukum

Konsep ini juga disebut berkaitan dengan Surah Al-Isra ayat 64, yang menggambarkan janji-janji iblis kepada manusia.

QS Al-Isra' Ayat 64

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَاَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ وَعِدْهُمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا ۝٦٤

Wastafziz manistatha‘ta min-hum bishautika wa ajlib ‘alaihim bikhailika wa rajilika wa syârik-hum fil-amwâli wal-aulâdi wa ‘id-hum, wa mâ ya‘iduhumusy-syaithânu illâ ghurûrâ


Perdayakanlah (wahai Iblis) siapa saja di antara mereka yang engkau sanggup dengan ajakanmu. Kerahkanlah pasukanmu yang berkuda dan yang berjalan kaki terhadap mereka. Bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, lalu berilah janji kepada mereka.”

Setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.

Janji yang pada akhirnya tidak pernah benar-benar menguntungkan siapa pun yang memercayainya.

Baca Juga: Bukan Mata Pelajaran Baru, Kemenag Akan Sisipkan Materi Pencegahan Budaya LGBTQ dalam Pendidikan Agama

Fenomena viral Gunung Kawi sendiri sebenarnya lebih rumit dari sekadar isu pesugihan semata.

Pengelola resmi kawasan wisata religi ini, lewat akun media sosial resminya, menegaskan bahwa tempat tersebut sejak lama dikenal sebagai lokasi ziarah dan doa, khususnya ke makam dua tokoh yang dihormati, Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Soedjono. 

Jadi bukan tempat transaksi kekayaan instan seperti yang kerap dipersepsikan publik.

Bahkan sempat viral pula foto papan tarif paket selamatan dan nazar di kawasan tersebut, yang oleh sebagian warganet disalahpahami sebagai "daftar harga pesugihan".

Padahal itu merujuk pada kawasan pesarean yang berbeda dari kawasan yang diulik dalam video-video viral soal ritual gaib.

Baca Juga: Dari Sawah ke Meja Makan, Apa Kaitan Sektor Pertanian dengan Badan Gizi Nasional?


Terlepas dari simpang siur fakta di lapangan, pesan inti dari penjelasan ustaz ini tetap relevan jauh melampaui isu Gunung Kawi semata. 

Bahwa jalan pintas menuju kekayaan lewat bantuan selain Allah, dalam bentuk apa pun dan di lokasi mana pun, pada akhirnya tidak pernah benar-benar menguntungkan.

Jadi daripada mencari jalan pintas semacam itu, lebih baik kembali menghamba sepenuhnya kepada Allah.



Editor : Meitika Candra Lantiva
gunung kawi Pesugihan Ustaz Muhammad Faizar istidraj islam