Nama Zulkarnain (Dzulqarnain) menduduki posisi yang sangat istimewa dalam literatur Islam. Diabadikan secara khusus dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi ayat 83-98, sosoknya digambarkan sebagai pemimpin dunia yang diberi kelimpahan kekuasaan, keahlian strategi, serta ketakwaan yang amat mendalam.
Meskipun sebagian masyarakat awam kerap menyapa sosok ini dengan sebutan "Nabi Zulkarnain", mayoritas ulama dan pakar tafsir klasik hingga modern lebih cenderung mengategorikannya sebagai seorang raja saleh yang bijaksana (al-malik ash-shalih) dan waliyullah yang dianugerahi keistimewaan serta petunjuk, ketimbang seorang nabi resmi yang membawa syariat baru.
Secara etimologi, kata Dzulqarnain dalam bahasa Arab memiliki arti harfiah "Pemilik Dua Tanduk" atau "Pemilik Dua Ujung". Gelar ini mengandung beberapa penafsiran teologis dan historis yang kaya. Para mufasir memaknai "dua ujung" sebagai metafora atas jangkauan kekuasaan politik dan militer Zulkarnain yang sangat luas, membentang dari belahan bumi barat hingga belahan bumi timur.
Penafsiran lain merujuk pada bentuk fisik atau mahkota kebesarannya yang memiliki dua tonjolan menyerupai tanduk, hingga makna alegoris mengenai kemampuannya memimpin dua generasi atau menyatukan dua kekuatan besar dunia pada masanya.
Dalam wawasan Al-Qur'an, perjalanan ekspansi Zulkarnain terbagi menjadi tiga penjelajahan utama yang sarat akan nilai moral dan keadilan. Pengembaraan pertamanya mengarah ke belahan bumi barat, di mana ia sampai di suatu tempat yang dideskripsikan melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam ('ainin hamiah).
Di wilayah tersebut, Zulkarnain diuji dengan kekuasaan penuh atas kaum setempat. Ia menegaskan prinsip kepemimpinannya secara adil, menindak tegas siapa saja yang berbuat zalim dan merugikan orang lain, namun memberikan perlindungan, hadiah, serta kemudahan bagi masyarakat yang beriman dan beramal saleh.
Setelah menegakkan keadilan di barat, Zulkarnain melanjutkan ekspedisinya ke belahan bumi timur hingga sampai di tempat terbitnya matahari. Di sana, ia menemukan suatu masyarakat bersahaja yang hidup sangat menyatu dengan alam tanpa adanya bangunan atau pelindung dari teriknya sengatan sinar matahari. Zulkarnain tidak memperlakukan mereka sebagai bangsa jajahan yang harus dieksploitasi, melainkan membiarkan tata cara hidup mereka berjalan dengan damai seraya tetap memberikan bimbingan serta perlindungan hukum yang berkeadilan.
Puncak kisah pengembaraan Zulkarnain terjadi saat ia melakukan perjalanan ke kawasan antara dua gunung (baina as-saddain). Di sana, ia bertemu dengan suatu kaum yang sangat terisolasi hingga hampir tidak memahami bahasa luar.
Masyarakat tersebut hidup dalam ketakutan hebat akibat ancaman suku Ya'juj dan Ma'juj, sekelompok manusia pembuat kerusakan yang sering keluar dari celah gunung untuk merusak pemukiman dan merampas sumber daya mereka. Warga setempat yang putus asa bahkan menawarkan imbalan harta dan pajak apabila Zulkarnain bersedia membangun dinding pemisah untuk melindungi mereka.
Zulkarnain menunjukkan integritas moral seorang pemimpin sejati dengan menolak imbalan materi tersebut secara halus. Ia menegaskan bahwa kekuasaan dan rezeki yang dikurniakan Allah kepadanya jauh lebih baik daripada materi yang mereka tawarkan.
Ia hanya meminta bantuan tenaga kerja dan bahan baku lokal dari warga. Dengan kecerdasan teknik arsitektur yang melampaui zamannya, Zulkarnain memerintahkan pengumpulan potongan-potongan besi untuk menutupi celah di antara kedua gunung hingga rata. Setelah besi-besi itu dibakar hingga membara, ia mengalirkan tembaga cair di atasnya, menciptakan sebuah dinding komposit raksasa yang tidak hanya sangat kokoh dan rapat, tetapi juga licin sehingga tidak bisa didaki ataupun dilubangi oleh Ya'juj dan Ma'juj.
Baca Juga: Stasiun Gambir dan Yogyakarta Jadi Destinasi Paling Diminati Penumpang Daop 2 Bandung
Karakter utama yang membuat sosok Zulkarnain begitu diagungkan adalah kerendahan hatinya yang luar biasa (tawadhu'). Ketika benteng megah itu berhasil diselesaikan dan warga bersorak gembira atas keselamatan mereka, Zulkarnain tidak menyombongkan keahlian arsitekturnya atau kekuatan tentaranya. Ia justru berucap bahwa pembangunan benteng tersebut semata-mata adalah rahmat dari Tuhannya, dan mengingatkan bahwa kelak ketika janji Allah tiba, dinding kokoh tersebut akan hancur dan diratakan dengan tanah sebagai penanda makin dekatnya hari kiamat.
Hingga saat ini, identitas historis Zulkarnain masih menjadi bahan penelitian dan diskusi yang hangat di kalangan akademisi serta pakar sejarah Islam. Sebagian literatur klasik sempat mengaitkannya dengan Alexander Agung dari Makedonia (Alexander the Great), namun pandangan ini banyak dikoreksi oleh ulama modern karena Alexander sejarah dikenal sebagai penganut polyteisme/pagan, sedangkan Zulkarnain yang dikisahkan Al-Qur meyakini ketauhidan secara mutlak.
Teori modern yang dinilai lebih kuat oleh beberapa peneliti seperti Abul Kalam Azad mengarah pada tokoh Cyrus Agung (Cyrus the Great) dari Persia yang dikenal memiliki mahkota bertanduk dua, berjiwa toleran, membebaskan bangsa-bangsa terjajah, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terlepas dari perdebatan figur historisnya, narasi Zulkarnain tetap menjadi cermin abadi tentang bagaimana sebuah kekuasaan mutlak di tangan hamba yang beriman dapat mendatangkan kemakmuran, keamanan, dan keadilan bagi dunia.
Editor : Bahana.