Tidak Semua Nikmat Berarti Istidraj, Begini Cara Memahaminya dalam Islam

Seli Sulistiani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi mencari perlindungan Allah SWT.
Ilustrasi mencari perlindungan Allah SWT.

 RADAR PURWOREJO - Di tengah kehidupan yang serba cepat, tak sedikit orang menganggap kelancaran rezeki, karier yang terus menanjak, atau hidup yang penuh kemewahan sebagai tanda bahwa Allah SWT sedang meridai dirinya.

Sebaliknya, saat ditimpa kesulitan, sebagian orang justru merasa sedang dijauhi oleh-Nya.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa ukuran cinta Allah tidak bisa dinilai hanya dari mudah atau sulitnya kehidupan seseorang.

Dalam Islam dikenal istilah istidrajyaitu ketika seseorang terus diberikan kenikmatan dunia, padahal ia semakin jauh dari ketaatan kepada Allah SWT.

Baca Juga: Duh, 620 Permohonan PBG Masih Mandek: DPMPTSP Kota Jogja Targetkan Tuntaskan Agustus

Kenikmatan itu bukan selalu menjadi tanda kasih sayang, melainkan bisa menjadi bentuk penangguhan sebelum datangnya balasan atas perbuatannya.

Namun, para ulama juga mengingatkan:

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 44, “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa."

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kenikmatan dunia bisa menjadi ujian apabila membuat seseorang lalai dan semakin jauh dari mengingat Allah.

Baca Juga: Saparan Mantran Wetan Jadi Tradisi yang Lebih Meriah daripada Lebaran, Per KK Bisa Keluarkan Rp 7 Juta untuk Sukseskan Acara

Sebaliknya, seorang muslim yang mendapatkan rezeki, kesehatan, maupun kedudukan hendaknya menjadikan semua itu sebagai sarana untuk semakin bersyukur dan meningkatkan ibadah.

Nikmat yang disertai rasa syukur, kepedulian kepada sesama, dan ketaatan kepada Allah merupakan anugerah yang patut dijaga, bukan sesuatu yang perlu dicurigai sebagai istidraj.

Karena itu, daripada sibuk menilai apakah orang lain sedang mendapat istidraj atau tidak, Islam mengajarkan umatnya untuk lebih banyak bermuhasabah.

Setiap nikmat yang diterima semestinya menjadi pengingat agar hati tidak sombong, sementara setiap ujian menjadi kesempatan untuk memperkuat kesabaran dan keimanan. 

Baca Juga: Ibrahim Al Abrar Dapat Beasiswa Penuh AI dari PLAI BMD, Apresiasi atas Temuan Celah Keamanan NASA

Pada akhirnya, yang menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah seberapa banyak harta atau jabatan yang dimiliki, melainkan seberapa dekat seorang hamba kepada-Nya dan seberapa baik ia memanfaatkan nikmat yang telah diberikan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
kelancaran rezeki cinta Allah kenikmatan dunia Allah SWT berfirman istidraj