RADAR PURWOREJO - Bencana kekeringan yang diakibatkan kemarau panjang, sering kali melanda wilayah Indonesia.
Hal ini berdampak pada sulitnya masyarakat mencari air bersih.
Di sisi lain, kebakaran rawan terjadi dan cepat meluas yang disebabkan faktor keteledoran manusia, kejahatan yang disengaja untuk pembukaan lahan hutan, ada juga murni karena alam.
Percikan api kemudian merambat hingga menyebabkan kebakaran hebat.
Selain melakukan usaha fisik untuk menangani bencana yang terjadi, doa dan salat yang penting dilaksanakan dan dipanjatkan ketika menghadapi bencana tersebut.
Baca Juga: Pertamina Hidupkan Kembali Potensi Sumur Sepinggan V-7 Balikpapan, Produksi Capai 710 BOPD
Salat Istisqa’ Untuk Meminta Hujan
Salat Istisqa’ adalah salat sunnah muakkadah yang dilakukan untuk meminta curahan air hujan pada saat keadaan darurat.
Salat ini pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada saat musim kemarau.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. disebutkan:
خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوماً يستسقي فصلى بنا ركعتين بلا أذان ولا إقامة ثم خطبنا ودعا الله عز وجل وحول وجهه نحو القبلة رافعاً يديه ثم قلب ردائه فجعل الأيمن الأيسر والأيسر الأيمن
Artinya: “Nabi Muhammad SAW keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau salat dua rakaat bersama kita tanpa azan dan ikamah, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah Swt dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya.” (HR. Imam Ahmad)
Baca Juga: Berkreasi dengan Daun, Stan Batik Stamping di FKY 2026 Jadi Rebutan Pengunjung
Salat ini dilakukan secara berjamaah di tanah lapang, dan memiliki tata cara salat sebagaimana salat ‘Id.
Waktu paling utama untuk dilaksanakan salat Istisqa’ adalah di waktu Dhuha ketika matahari baru saja naik.
Akan tetapi salat Istisqa’ tetap boleh dilaksanakan kapan saja asalkan bukan di waktu terlarang ditunaikannya salat.
Salat ini dapat dilaksanakan oleh pemerintah dan warga di wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan yang terus semakin parah akibat kemarau panjang dan ekstrim.
Baca Juga: Akan Dibangun Setinggi 15 Meter, Monumen Paku Bumi Bakal Jadi Landmark Baru Kota Magelang
Tata Cara Melaksanakan Salat Istisqa
Niat Shalat Istisqa
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
(Ushallii sunnatal istisqaa'i rak'ataini mustaqbilal qiblati imaaman/ma'muuman lillaahi ta'aala)
Artinya: "Aku berniat shalat sunnah istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."
Salat Istisqa dilaksanakan tanpa azan dan iqamah.
Baca Juga: Tas Penumpang Keluarkan Asap di Stasiun Rawa Buntu, Petugas KRL Gerak Cepat Evakuasi
Rakaat Pertama
Melakukan takbiratul ihram.
Bertakbir tambahan sebanyak 7 kali (di luar takbiratul ihram).
Membaca surat Al-Fatihah dan surat pendek dengan suara dikeraskan (jahr).
Melanjutkan ruku, iktidal, dan dua sujud seperti shalat biasa.
Rakaat Kedua
Bangkit dari sujud dan bertakbir sebanyak 5 kali.
Membaca surat Al-Fatihah dan surat pendek dengan suara dikeraskan.
Melakukan ruku, sujud, duduk tasyahud akhir, lalu salam.
Baca Juga: Berkreasi dengan Daun, Stan Batik Stamping di FKY 2026 Jadi Rebutan Pengunjung
Khutbah dan Doa
Setelah salam, khatib menyampaikan dua khutbah.
Sebelum memulai khutbah pertama, khatib dianjurkan membaca istighfar sebanyak 9 kali, dan sebelum khutbah kedua membaca istighfar 7 kali.
Saat berdoa di khutbah kedua, imam/khatib dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon hujan serta membalikkan selendang atau ridanya sebagai simbol perubahan keadaan dari kering menjadi subur.
Catatan Doa
Dalam pelaksanaan shalat Istisqa, terdapat beberapa riwayat doa yang diajarkan untuk memohon hujan yang bermanfaat, menjauhkan diri dari putus asa, serta memohon agar hujan diturunkan di tempat yang tepat (seperti bukit, lembah, dan sekitar wilayah yang membutuhkan tanpa membahayakan).
Baca Juga: Geruduk Kantor Gubernur DIY, Buruh Protes Celah Kontrak Kerja Lebih dari Empat Tahun dalam RUU Baru
Beberapa lafaz doa utama yang sering diamalkan meliputi:
- Doa memohon hujan yang lebat dan merata:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مُرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Allahummasqina ghaitsan mughitsan mari-an muri-an, nafi'an ghaira dharri 'ajilan ghaira ajil.
Artinya:"Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda."
- Doa agar tidak berputus asa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ
الرِّجَالِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-hazan, wa a‘ūdzu bika minal-‘ajzi wal-kasal, wa a‘ūdzu bika minal-jubni wal-bukhl, wa a‘ūdzu bika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijāl.
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari rasa pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain."
Baca Juga: Tas Penumpang Keluarkan Asap di Stasiun Rawa Buntu, Petugas KRL Gerak Cepat Evakuasi
- Doa saat menghadap kiblat dan membalik selendang (sorban/rida') pada pelaksanaan shalat Istisqa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلاَ تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلاَ هَدْمٍ، وَلاَ غَرَقٍ، وَلاَ بَلَاءٍ
Allaahummaj'alhaa suqyata rahmatin, wa laa taj'alhaa suqyata 'azaabin, wa laa hadmin, wa laa gharaqin, wa laa balaa'in.
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah ia (hujan ini) sebagai rahmat dan jangan jadikan ia sebagai siksa, kehancuran, tenggelam, dan bencana."
Nah, itulah tata cara melaksanakan Salat Istisqa’ untuk mengundang hujan saat dilanda bencana kekeringan berkepanjangan.
Editor : Meitika Candra Lantiva