RADAR PURWOREJO - Pembuatan reklame lawasan yang masih serba manual, kini jumlahnya sudah sedikit di Jogjakarta. Itu lantaran perkembangan zaman yang memaksa teknologi turut campur, sehingga meninggalkan cara lama dalam membuat reklame atau sejenisnya. Medio awal 2000-an pembuatan reklame, spanduk dan sebagainya masih menggunakan banyak tenaga manusia. Tetapi, dewasa ini semuanya sudah banyak digantikan dengan menggunakan mesin cetak.
Kondisi tersebut berimbas ke semakin sedikitnya tempat pembuatan dan pekerja reklame lawasan yang masih manual. Bahkan, mungkin di DIJ sudah hilang perusahaan yang demikian beserta pekerjanya. Namun masih ada tokoh-tokoh yang dahulu bekerja pada perusahaan jasa pembuatan reklame lawasan. Satu di antaranya Anto Sukanto yang pernah berkarir di dunia itu pada 2003 lalu.
Menurutnya, bekerja selama 1,5 tahun di dunia itu sangat terkenang dalam hidupnya. Karena dari pekerjaan itu membuatnya memiliki dasar dan bisa lebih berkembang dalam kehidupannya. "Dahulu membuat spanduk, papan nama, dan neon box itu awal menjadi bekerja di Soly Advertaising, lokasinya di Jomegatan," katanya (22/12).
Kondisi dahulu awal 2000-an bila bicara advertaising atau reklame bahkan baliho, neon box, papan nama itu dominan dibuatnya secara manual semprot spray atau compresor. Sehingga, metode pembuatan printing pakai mesin cetak masih minim. Sekalipun ada, dulu ada offset yang cetaknya harus sekaligus banyak. Sedangkan kini bisa cetak satuan dengan mesin cetak yang semakin baik.
Anto mengungkapkan, sekarang masih ada yang pembuatannya secara manual tetapi sangat jarang sekali. Kini yang manual masih banyak dalam pembuatan papan nama. Sedangkan untuk spanduk sudah sangat sedikit.
"Kalau dahulu spanduk itu pas saya masih kerja, tekniknya masih di-cutting manual logonya," tambahnya. Menurutnya, dahulu menjelang momen Nataru seperti sekarang ini pesanannya cukup banyak.
Selain itu, ada juga teknik semprot yang menggunakan compresor dalam membuatnya. Warga Banguntapan, Bantul, ini menuturkan, untuk spanduk tidak terlalu detail. Sebaliknya untuk pembuatan papan nama dan neon box perlu detailing. Itu karena penggunaannya yang dalam jangka waktu panjang, tidak sebentar seperti spanduk.
Kondisi itu otomatis membuat harganya lebih mahal karena harus teliti dan bahan penggunaannya juga memakan biaya yang lebih. "Kalau dulu spanduk itu dari harga Rp 4 ribu-Rp 9 ribu permeter, biasanya bahannya kain tetron. Kalau harga yang lebih tinggi menggunakan kain drill," ungkap Anto.
Menurutnya, pembuatan secara manual lebih awet ketahanannya. Namun disadarinya bentuk eksplorasinya terbatas karena saat itu masih manual.
Oleh karena itu, pemesanan spanduk yang fungsinya hanya memberikan informasi dibuatnya mudah dan harganya lebih murah atau sesuai standar. Kecuali jika perpaduan warnanya yang dominan dan banyak detailing akan lebih mahal harganya.
Anto hanya bekerja selama 1,5 tahun di Soly Advertaising, setelahnya dia ke luar dan bekerja pada bidang yang lain. Namun, meski singkat pengalaman bekerja di situ, ia mengaku sangat bermanfaat baginya. Itu lantaran teknik pembuatan reklame di masa lalu masih ada sampai sekarang.
"Itu menjadi bekal. Bagi saya itu pengalaman yang luar biasa, mungkin sampai tua nanti ilmu itu tidak akan hilang," bebernya. Dianggapnya seperti itu karena sangat mendasar sekali, sehingga tidak sia-sia di zaman sekarang yang serba digital.
Teknik cutting zaman dahulu masih bisa digunakan sekarang, meski dengan teknologi yang lebih maju. Hanya saja butuh penyesuaian. Anto mengaku terkadang merindukan, mengimplementasikan teknik yang ada pada zaman dahulu. Itu karena sekarang sudah sangat jarang dilakukannya.
Menurutnya, teknik pembuatan reklame manual diaplikasikan sekarang akan sangat eksotis karena generasi saat ini banyak yang tidak mengetahui.
Sementara itu, mantan pekerja lainnya Dwi Setyawan menceritakan cara pembuatannya masih manual secara keseluruhan. Itu karena costumer ada yang datang membawa desain, ada yang belum punya.
"Zaman dahulu kalau mau bikin spanduk, ngeprintnya pakai plastik mika yang ukuran A4 untuk ngeprint transparan hitam dan putih," bebernya. Menurutnya, itu sudah diskala secara proporsional.
Selanjutnya diberikan ke bagian spanduk, dilakukan ngemal menggunakan overhet proyektor. Dari situ skalanya bisa diatur maju mundur sesuai ukuran desain yang ditetapkan.
Lantas menggunakan kertas karton disambung sebanyak dua atau tiga. Setelah itu, tinggal ngeblad atau tinggal menggambarkan. Proses selanjutnya yakni dicutter untuk dilubangi alas spanduknya sponati. (rul/laz)
Editor : Sevtia Eka Nova