Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Serba Tujuh dalam Upacara Adat Mitoni, Ada Pula Prosesi Layaknya USG Bayi

Heru Pratomo • Selasa, 27 Februari 2024 | 02:29 WIB
SIRAMAN: Calon ibu mengikuti proses siraman sebagai abgaindari upacara adat mitoni yang digelar Kundha Kabudayan Kota Jogja.
SIRAMAN: Calon ibu mengikuti proses siraman sebagai abgaindari upacara adat mitoni yang digelar Kundha Kabudayan Kota Jogja.

 

RADAR PURWOREJO - Upacara adat daur hidup mitoni sarat dengan angka tujuh. Beberapa rangkaian acara mitoni mensyaratkan barang tujuh item atau prosesi hingga tujuh kali. Hal itu terlihat dalam upacara adat daur hidup mitoni yang digelar Kundha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan Kota Jogja di Hotel Kimaya Jogja Senin (26/2).

Prosesi dimulai dengan sungkeman kemudian siraman untuk menyucikan secara lahir dan batin sang ibu dan calon bayi. Airnya disyaratkan dari tujuh sumber air. Enam sumber air dari luar dan satu air dari sumber rumah sendiri.

Dua cengkir yang sudah digambar Kamajaya dan kamaratih pun dimasukkan ke air siraman tersebut. Dalam prosesi silepan kedua cengkir dimasukkan air mana. Cengkir yang muncul lebih dulu menjadi perkiraan jenis kelamin bayi. Layaknya USG zaman dulu.

Selanjutnya calon bapak memutus janur yang dilingkarkan di perut istrinya dengan keris. Setelah itu calon bapak langsung mundur tiga langkah, berbalik dan berlari. Kemudian prosesi brojolan saat kedua calon eyang putri menerima kelapa bergambar Wayang Kamajaya dan Wayang Kamaratih.

Selanjutnya adalah prosesi pantes-pantesan, dalam tahap ini sang ibu akan berganti busana sebanyak tujuh kali sampai pantas. Undangan akan serempak menjawab tidak pantas sampai baju ke-6. Selanjutnya, pada baju ke-7 dibilang pantas. Inilah baju yang akan dipakai si ibu.

Memasuki puncak prosesi, calon ibu dan suaminya bersama-sama memotong tumpeng. Ini dinamakan dahar kembul dengan piring layah dari tanah liat. Selanjutnya memakan bubur procot yang bermakna agar melahirkan dengan lancar.

Setelah rangkaian prosesi, kemudian calon ibu berjualan dawet dan rujak dengan uang kreweng, yang sudah dibagiakan kepada tamu undangan. Filosofinya usaha sebagai calon orang tua untuk bisa memenuhi kebutuhan anaknya kelak, dengan harapan anak mendapatkan rejeki untuk dirinya dan kedua orang tua mereka.

Kepala Kundha Kabudayan Kota Jogja Yetti Martanti menyebut, banyak rangkaian upacara adat di Kota Jogja yang wajib dilestarikan dan dikembangkan sebagai potensi dan aset. Termasuk harus diinformasikan, terutama dikenalkan pada generasi muda.

Supaya kontekstual, dia pun, berharap upacara adat bisa dilaksanakan di berbagai tempat. "Termasuk di hotel seperti ini, karena mungkin keterbatasan di rumah dan sekaligus sebagai syiar budaya," ungkapnya.

Sekretaris Daerah Kota Jogja Aman Yuriadijaya menambahkan, kegiatan ini jadi bagian upaya Pemkot Jogja dalam menjalankan amanat konstitusi. Yaitu UU nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIJ. Yang salah satu pilarnya adalah kebudayaan.

Aman pun mendorong supaya kelurahan rintisan budaya, kelurahan budaya hingga Dinas Pariwisata bisa menangkap potensi dan atraksi tersebut sebagai daya tarik. "Tak sekadar pelestarian dan pengembangan kebudayaan tapi juga bisa meningkatkan daya saing ekonomi berkelanjutan," tuturnya. (pra)

Editor : Heru Pratomo
#mitoni #Tujuh #Kota Jogja #Kamaratih #upacara adat #Kundha Kabudayan #KAMAJAYA #dinas kebudayaan