Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Revolusi Sinematik, AI Hidupkan Kisah Pangeran Diponegoro, Tampil Perdana di Layar Yogyakarta

Magang Radar Purworejo • Rabu, 12 November 2025 | 14:35 WIB
Berikut judul yang bisa langsung dicopas:  **Revolusi Sinematik: AI Hidupkan Pangeran Diponegoro di Layar Yogyakarta**
Berikut judul yang bisa langsung dicopas: **Revolusi Sinematik: AI Hidupkan Pangeran Diponegoro di Layar Yogyakarta**

 

Sebuah pertunjukan film berbasis Artificial Intelligence (AI) digelar pada Senin, 10 November 2025, pukul 13.00 WIB di Auditorium Taman Embung Giwangan, Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan oleh USKYA bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, menampilkan karya sinematik revolusioner yang menghidupkan kembali semangat Pangeran Diponegoro melalui pendekatan teknologi AI.

Film ini diproduseri oleh King Bagus, yang memadukan narasi sejarah dengan visual sinematik berbasis AI, sehingga menghasilkan pengalaman menonton yang berbeda dari film historiografi pada umumnya. Acara ini juga menghadirkan Soegimitro, pembuat AI film internasional sekaligus pakar digital branding, sebagai pembicara dalam seminar singkat tentang AI Film Maker.

Soegimitro menegaskan bahwa teknologi AI bukan pengganti manusia, melainkan alat bantu yang memperkuat kreativitas.

“AI bukan pengganti manusia. AI mempermudah pekerjaan kita dan berguna jika digunakan secara tepat. Dalam pembuatan lagu dan film Diponegoro pun, tetap dibutuhkan ide dan perasaan manusia. AI tidak bisa menggantikan emosi,” ujarnya.

Dalam paparannya, Soegimitro menjelaskan enam alur kerja utama dalam produksi film berbasis AI:

  1. Premis & Ide: Membangun fondasi cerita dengan empat pertanyaan kunci untuk menentukan kekuatan narasi.
    2. Diskusi Konsep dengan AI: Membentuk dunia, atmosfer, dan simbolisme visual.
    3. Storyboard & Style Visual: Merancang estetika visual, palet warna, dan arahan sinematografi.
    4. Produksi Visual: Menciptakan shot sinematik berkualitas tinggi.
    5. Musik & Sound Design: Menguatkan suasana dan emosi film.
    6. Editing & Publish Strategy: Penyelesaian film hingga strategi publikasi.

Para peserta terlihat antusias sepanjang acara. Ivana Situmorang mengaku tertarik untuk mempelajari AI lebih jauh dalam konteks kreatif.

“Sangat menarik mengenai talkshow AI karena relevan dengan kehidupan sekarang. Saya tertarik belajar AI,” ujarnya.

Sementara Putri Liana menyoroti sisi inovatif film berbasis AI.

“Film dengan AI unik dan jarang digunakan. Ternyata membuat film dengan AI memungkinkan, karena biasanya film membutuhkan biaya besar dan banyak aktor,” katanya.

Acara ini memberi peserta gambaran langsung tentang bagaimana AI dapat diterapkan dalam produksi film sejarah tanpa menghilangkan sentuhan humanis. Pertunjukan dan seminar ini diharapkan membuka wawasan baru mengenai pengembangan kreativitas kontemporer, terutama dalam menginterpretasi narasi tokoh sejarah Indonesia di era digital.

Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, SE, MM, menyatakan bahwa kegiatan ini penting bagi generasi muda untuk bijak memanfaatkan AI dalam berkarya.

“Saat ini pemerintah Yogyakarta sangat mendukung momen ini untuk membuat Jogja tetap unggul dalam seni, budaya, dan wisata. Kami berharap generasi muda dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar AI dan teknologi,” ujarnya.

Reporter: mg8 Clara Carista – mg10 Theresia Putri

 

Editor : Heru Pratomo
#Revolusioner #Embung Giwangan #Yogyakarta #Wawan Harmawan #sinematik #AI Film #ai #wakil wali kota #Pangeran Diponegoro