Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Wujudkan Sinema Inklusif bagi Disabilitas dan Perempuan, Kemenbud Tekankan Kesetaraan Bukan Belas Kasih

Heru Pratomo • Jumat, 26 Desember 2025 | 00:40 WIB
Film  Bu Tejo Sowan Jakarta. (Cinema 21)
Film Bu Tejo Sowan Jakarta. (Cinema 21)

 

 

Direktorat Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, M. Sanggupri menyatakan Kementerian Kebudayaan saat ini memiliki visi untuk membangun kebudayaan yang inklusif. Hal ini didasarkan pada kesetaraan untuk memberikan kesempatan yang sama terhadap potensi yang dimiliki, bukan pada rasa belas kasih.

 

Sanggupri, melalui sambutannya pada Workshop: “Suara, Narasi, Kekuatan: Merajut Kembali Kisah Kesetaraan Disabilitas dan Perempuan di Layar” yang diselenggarakan oleh Yayasan Happyself Harmony Family dan difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan menyebut, setiap masyarakat dengan berbagai latar belakang berhak berpartisipasi dan berkolaborasi dalam membangun kebudayaan, termasuk bagi penyandang disabilitas (16/12).

Baca Juga: Waspada! Berenang di Area Rip Current, Empat Wisatawan Terseret Ombak Parangtritis: Berhasil Diselamatkan

Putri Ayudya, seorang aktris, model, dan pembawa acara yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, mendefinisikan film sebagai media penyampai cerita melalui gambar dan suara yang mampu menangkap emosi serta pengalaman manusia. Namun, menurutnya, kehadiran teman tuli memberi pemaknaan lain terhadap film, sehingga kini mulai muncul film bisu yang tidak menyertakan dialog sama sekali sebagai bentuk inklusivitas dalam bahasa visual (16/12).

 

Untuk mewujudkan visi inklusivitas dalam perfilman, Kementerian Kebudayaan bersama Komunitas Cinta Film Indonesia menerbitkan buku berjudul Panduan Perfilman Inklusi yang dibuat sebagai acuan untuk mewujudkan proses produksi film yang setara dan inklusif tanpa pandang bulu.

 

Terbatasnya ruang gerak penyandang disabilitas, terutama dalam industri kreatif masih terjadi hingga saat ini bukan semata karena kondisi fisik dan mental mereka, melainkan peran lingkungan sekitar yang menganggap mereka tidak berdaya.

Baca Juga: Lagi Liburan di Yogyakarta! Catat Nomor Darurat untuk Pertolongan Pertama dan Donor Darah PMI di Setiap Wilayah di DIY

Dalam mewujudkan inklusivitas di dunia film, hal yang perlu dilakukan tidak hanya memberikan akses bagi penonton melalui closed caption atau deskripsi audio, tetapi juga memberi kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk berperan di balik layar dan merepresentasikan diri sendiri di dalam layar.

 

“Cara kerja otak penyandang disabilitas memiliki perbedaan. Mereka dapat mengalami perubahan mood dengan cepat, sehingga mereka tidak cocok dengan sistem kerja normal yang mengerjakan satu hal selama 8 jam,” ucap Prisca Priscilla, Ketua Yayasan Happyself Harmony Family (16/12).

 

Berdasarkan neurosains, Pris menyebut, perbedaan cara kerja otak penyandang disabilitas ini membuat mereka lebih cocok dengan dinamika menyalurkan kreativitas dalam membuat film ataupun konten. Hal ini menjadi tonggak awal bagi inisiasi yang digagas oleh Yayasan Happyself Harmony Family untuk mewujudkan inklusivitas dalam dunia perfilman melalui proyek Sinema Inklusif Nusantara yang rencananya akan direalisasikan pada 2026.

Baca Juga: Tak Hanya Jualan Sembako, Koperasi Merah Putih di Kramat Selatan, Magelang Jadi Coffee & Eatery

Proyek Sinema Inklusif Nusantara yang diinisiasi oleh Yayasan Happyself Harmony Family merupakan upaya untuk memberdayakan ekonomi kreatif, menyuarakan kelompok marginal, membangun kesadaran publik, serta membangun ekosistem yang berkelanjutan. 

 

Upaya tersebut sejalan dengan pernyataan Ketua Yayasan Gerak Imajinasi Kreatif, Budi Sumarno, yang turut hadir dalam workshop, bahwa setiap orang berhak untuk berpartisipasi dalam ekosistem film. Selain untuk mewujudkan hak asasi dan keadilan sosial, partisipasi penyandang disabilitas melalui representasi dapat memperkaya nilai budaya, menambah keberagaman cerita, serta melahirkan inovasi baru. 

 

Dengan mengedepankan prinsip inklusi, setiap orang dengan berbagai perbedaan dan keberagaman, akan memiliki kesempatan, akses, dan perlakuan setara dalam kehidupan sosial, pendidikan, serta budaya, tanpa diskriminasi.

Editor : Heru Pratomo
#putri ayudya #musik #Kementerian Kebudayaan #film #yayasan #inklusif #direktorat