Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Tren Slow Living di Kalangan Gen Z, Pelarian dari Tekanan Hidup Modern

Magang Radar Purworejo • Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:23 WIB
Tren slow living di kalangan anak muda.
Tren slow living di kalangan anak muda.

RADAR PURWOREJO - Di tengah ritme hidup yang serba cepat, generasi Z justru mulai melambat.

Bukan karena tertinggal, melainkan karena lelah.

Tekanan akademik, tuntutan karier, ekspektasi sosial, hingga banjir informasi di media sosial membuat banyak anak muda memilih jalan berbeda.

Tren slow living bukan soal bermalas-malasan atau menunda ambisi.

Bagi Gen Z, ini adalah cara bertahan.

Mereka mulai memilah mana yang benar-benar penting, mengurangi distraksi, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Alih-alih mengejar produktivitas tanpa henti, slow living menekankan keseimbangan.

Aktivitas sederhana seperti menikmati kopi tanpa terburu-buru, membaca buku fisik, berjalan kaki sore hari, hingga membatasi waktu bermain media sosial menjadi bagian dari gaya hidup ini.

Hal-hal kecil yang dulu dianggap sepele, kini justru terasa menenangkan.

Media sosial berperan besar dalam perubahan ini.

Jika beberapa tahun lalu linimasa dipenuhi konten pamer pencapaian, kini semakin banyak Gen Z yang berbagi potret hidup sederhana.

Hal ini terlihat kamar yang rapi, catatan harian, tanaman di sudut meja, atau momen tenang tanpa narasi berlebihan.

Konten seperti ini terasa lebih jujur dan mudah diterima karena dekat dengan realitas.

Tekanan hidup modern memang tidak ringan.

Persaingan kerja yang ketat, biaya hidup yang terus naik, serta standar sukses yang sering kali tidak realistis membuat sebagian Gen Z mengalami kelelahan mental sejak usia muda.

Slow living hadir sebagai respons alami, bukan untuk menyerah, tetapi untuk menata ulang ritme hidup agar lebih manusiawi.

Menariknya, tren ini juga mengubah cara Gen Z memaknai kesuksesan.

Sukses tak lagi melulu soal gaji besar atau jabatan tinggi di usia muda, melainkan tentang hidup yang terasa cukup, sehat secara mental, dan punya waktu untuk diri sendiri.

Konsep quiet success pun semakin popular, yaitu berhasil tanpa harus selalu terlihat.

Meski begitu, slow living bukan berarti menolak kemajuan.

Banyak Gen Z tetap ambisius, kreatif, dan melek teknologi.

Bedanya, mereka kini lebih sadar batas.

Mereka belajar kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus berhenti sejenak.

Di tengah dunia yang terus menuntut lebih, slow living menjadi pengingat bahwa hidup bukan sekadar lomba.

Bagi generasi Z, melambat bukan tanda kalah, melainkan bentuk keberanian untuk memilih hidup yang lebih sadar dan bermakna. (Raka Adichandra)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#tren #tekanan hidup #Slow Living #Gen Z #pelarian