RADAR PURWOREJO - Sejak kecil, banyak dari kita diajari bahwa makan tiga kali sehari mulai dari sarapan, makan siang, dan makan malam adalah pola makan normal dan bahkan dianggap sehat.
Jadwal ini begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari sampai jarang dipertanyakan.
Namun, jika ditelusuri lebih jauh, pola makan tiga kali sehari ternyata bukanlah hasil rekomendasi ilmiah tentang tubuh manusia, melainkan kebiasaan sosial yang lahir dari sejarah panjang, terutama di Eropa pada masa Revolusi Industri.
Pada masa sebelum masyarakat modern terbentuk, manusia tidak makan dengan jadwal yang kaku seperti sekarang.
Di era Romawi Kuno, misalnya, kebanyakan orang hanya makan satu kali sehari, biasanya di sekitar tengah hari.
Sarapan seperti yang kita kenal hari ini bahkan belum dianggap perlu.
Makan terlalu sering justru dipandang sebagai bentuk kerakusan.
Pandangan ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan sangat dipengaruhi nilai sosial dan kepercayaan zamannya, bukan kebutuhan biologis semata.
Perubahan mulai terjadi ketika Eropa memasuki periode religius dan feodal.
Menggali sejarah, di abad pertengahan hingga awal modern, sarapan perlahan muncul, tetapi hanya di kalangan tertentu.
Awalnya, sarapan adalah simbol kemewahan dan hanya dinikmati oleh bangsawan dan orang kaya yang punya waktu luang serta akses makanan.
Bahkan di Inggris abad ke-17 dan ke-18, rumah bangsawan memiliki ruang khusus untuk sarapan, menandakan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari gaya hidup elite, bukan kebutuhan semua orang.
Titik balik besar terjadi saat Revolusi Industri pada abad ke-19 di Inggris.
Sistem kerja pabrik menuntut jam kerja yang panjang dan teratur.
Para pekerja harus datang pagi dan bekerja hingga sore hari, sehingga tubuh mereka dipaksa mengikuti jadwal baru.
Sarapan menjadi penting agar pekerja punya tenaga sebelum masuk pabrik, makan siang diperlukan sebagai jeda singkat di tengah jam kerja, dan makan malam hadir sebagai bentuk hadiah setelah seharian bekerja keras.
Dari sinilah pola makan tiga kali sehari mulai mengakar luas di masyarakat.
Pola ini tidak hanya diterapkan oleh buruh, tetapi juga diadopsi oleh para pemilik pabrik dan kelas menengah.
Makan tiga kali sehari menjadi simbol kehidupan modern yang teratur dan disiplin.
Pemerintah di Eropa dan Amerika Serikat bahkan ikut mempromosikan pentingnya sarapan pada awal abad ke-20, terutama untuk mendukung produktivitas kerja.
Artinya, pola makan ini sejak awal lebih berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan ritme kerja, bukan hasil riset kesehatan.
Makan siang pun lahir dari kebutuhan serupa.
Di tengah jam kerja yang padat, pekerja membutuhkan makanan yang cepat disantap dan mengenyangkan.
Inilah sebabnya makanan praktis seperti roti isi, pie, dan makanan cepat saji mulai populer di sekitar kawasan industri.
Waktu makan siang sering kali singkat, tetapi dianggap sangat penting agar pekerja bisa bertahan hingga jam pulang.
Sementara itu, makan malam berkembang sebagai momen sosial.
Setelah hari kerja yang melelahkan, malam menjadi waktu istirahat dan berkumpul bersama keluarga.
Pada era pasca-Perang Dunia II, terutama sejak 1950-an, makan malam bersama keluarga mulai dipopulerkan sebagai simbol kehangatan rumah tangga.
Lagi-lagi, maknanya lebih sosial dan budaya ketimbang biologis.
Namun, para sejarawan dan ilmuwan modern mulai mempertanyakan: apakah makan tiga kali sehari benar-benar ideal untuk tubuh manusia?
Menurut profesor dan sejarawan dari Yale University, Paul Freedman, kebiasaan ini bertahan karena kenyamanan dan tradisi, bukan karena tubuh manusia membutuhkannya secara mutlak.
Ia menegaskan bahwa pola makan sangat ditentukan oleh konteks sosial dan gaya hidup, bukan hukum alam.
Penelitian modern justru menunjukkan bahwa tubuh manusia lebih cocok dengan pola makan yang fleksibel dan memiliki jeda puasa yang cukup panjang.
Puasa intermiten, misalnya, memungkinkan sistem pencernaan beristirahat dan memberi waktu bagi tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak.
Peneliti klinis di Salk Institute for Biological Studies di California, Emily Manoogian, menyebut bahwa puasa selama 12 jam atau lebih dalam sehari dapat membantu mengontrol kadar gula darah dan mengurangi peradangan.
Rozalyn Anderson, profesor di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Wisconsin, meneliti bagaimana pembatasan asupan kalori berperan dalam menekan peradangan di dalam tubuh.
Temuannya menunjukkan bahwa memberi jeda makan secara teratur dapat membantu tubuh menjalankan proses pemulihan dan pemeliharaan sel secara lebih optimal.
“Puasa selama periode tertentu setiap hari dapat memberikan beberapa manfaat. Ini berdasarkan gagasan bahwa puasa membuat tubuh lebih siap untuk memperbaiki kerusakan, dan membersihkan protein yang salah lipat,” kata Anderson.
Sebagian ilmuwan bahkan berpendapat bahwa makan terlalu sering justru mendorong konsumsi kalori berlebihan.
Semakin sering kita terpapar makanan, semakin besar kemungkinan kita makan meski tidak benar-benar lapar.
Dalam sejarah manusia, makan besar satu kali sehari bukanlah hal aneh, dan tubuh sebenarnya mampu beradaptasi dengan pola tersebut, meski tidak dianjurkan untuk semua orang, terutama penderita diabetes.
Di sisi lain, ada juga peneliti yang menyarankan makan dua hingga tiga kali sehari dengan porsi terbesar dikonsumsi pada siang hari.
Alasannya, metabolisme tubuh bekerja lebih optimal di siang hari, sementara makan terlalu malam berisiko meningkatkan kadar gula darah dan penyakit kardiometabolik.
Intinya, sains belum sepakat pada satu pola makan ideal untuk semua orang.
“Kalau Anda makan sebagian besar makanan Anda lebih awal, tubuh Anda dapat menggunakan energi yang Anda makan sepanjang hari, alih-alih menyimpannya dalam sistem sebagai lemak,” kata Emily Manoogian.
Gaya hidup modern turut mengubah kebiasaan makan.
Jam kerja yang panjang, pekerjaan fleksibel, budaya lembur, hingga penggunaan gadget membuat jadwal makan tiga kali sehari semakin sulit dipertahankan.
Banyak orang kini lebih sering ngemil daripada makan besar.
Industri camilan pun tumbuh pesat di berbagai negara, menandakan pergeseran besar dari pola makan terstruktur ke pola makan yang lebih spontan.
Semua ini menunjukkan bahwa makan tiga kali sehari bukanlah aturan mutlak yang paling sehat.
Pola tersebut adalah produk sejarah dan warisan dari kaum bangsawan Eropa serta sistem kerja Revolusi Industri Inggris.
Tubuh manusia sendiri jauh lebih adaptif daripada jadwal makan yang kita anggap normal selama ini.
Pola makan bukan soal mengikuti tradisi lama, tetapi memahami kebutuhan tubuh di zaman yang terus berubah. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva