RADAR PURWOREJO - Menghadapi anak yang menolak makan sering kali membuat orang tua khawatir dan frustasi.
Anak terlihat tidak lapar, hanya memainkan makanan, atau menolak menu yang sudah disiapkan.
Kondisi ini sebenarnya umum terjadi pada balita dan anak usia dini.
Yang terpenting bukan memaksa anak menghabiskan makanan, melainkan membantu mereka membangun hubungan yang sehat dengan makanan dalam jangka panjang.
Melansir carefulparents.com, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membuat jadwal makan yang teratur.
Anak cenderung lebih nyaman dengan rutinitas.
Tetapkan waktu makan utama seperti sarapan, makan siang, makan malam, serta satu atau dua kali camilan sehat di antaranya.
Beri jeda sekitar dua hingga tiga jam agar anak memiliki waktu untuk merasa lapar.
Kebiasaan makan sedikit-sedikit sepanjang hari dapat mengurangi nafsu makan saat waktu makan utama.
Suasana saat makan juga sangat menentukan.
Jika waktu makan dipenuhi tekanan atau paksaan, anak dapat mengembangkan persepsi negatif terhadap makanan.
Oleh karena itu, ciptakan suasana yang tenang dan menyenangkan.
Makan bersama keluarga dapat menjadi contoh yang baik karena anak cenderung meniru perilaku orang tua.
Hindari menggunakan makanan sebagai hadiah atau hukuman karena hal tersebut dapat membentuk pola pikir yang kurang sehat terhadap makanan.
Dalam memperkenalkan makanan baru, orang tua perlu bersabar.
Anak mungkin perlu mencoba suatu jenis makanan berkali-kali sebelum akhirnya menerimanya, bahkan bisa lebih dari sepuluh kali percobaan.
Jika anak menolak, tidak perlu khawatir.
Cobalah kembali di lain waktu atau kombinasikan dengan makanan yang sudah disukai.
Preferensi rasa pada anak dapat berubah seiring waktu.
Penyajian makanan yang menarik juga dapat membantu meningkatkan minat anak.
Variasi warna, bentuk, dan tekstur dapat membuat makanan terlihat lebih menggugah selera.
Sajikan dalam porsi kecil terlebih dahulu agar anak tidak merasa kewalahan.
Jika mereka ingin menambah, barulah diberikan tambahan. Pendekatan ini dapat membuat anak merasa lebih nyaman saat makan.
Melibatkan anak dalam proses menyiapkan makanan dapat menjadi strategi yang efektif.
Ajak anak memilih bahan makanan atau membantu tugas sederhana di dapur sesuai usianya.
Keterlibatan ini membuat anak merasa memiliki peran dan lebih tertarik untuk mencoba makanan yang telah mereka bantu siapkan.
Selama waktu makan, usahakan untuk meminimalkan gangguan seperti televisi, mainan, atau gadget.
Lingkungan yang fokus dan tenang membantu anak mengenali rasa lapar dan kenyang mereka.
Dengan demikian, anak belajar mengatur asupan makan berdasarkan kebutuhan tubuhnya sendiri.
Orang tua juga dianjurkan untuk mendorong anak makan sendiri sesuai tahap perkembangannya.
Meskipun prosesnya bisa berantakan dan lebih lambat, makan mandiri membantu anak merasa lebih percaya diri dan mandiri.
Selain itu, anak menjadi lebih peka terhadap sinyal tubuhnya, termasuk kapan merasa lapar dan kapan sudah kenyang.
Hindari memaksa anak menghabiskan makanan jika mereka sudah tidak ingin makan.
Perlu diingat bahwa kapasitas lambung balita jauh lebih kecil dibandingkan orang dewasa, sehingga porsinya memang tidak bisa disamakan.
Selama anak tumbuh dengan baik, aktif, dan terlihat sehat, kemungkinan besar kebutuhan gizinya terpenuhi.
Namun, jika orang tua merasa khawatir terhadap pola makan atau pertumbuhan anak, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap disarankan. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva