Padahal, puasa tidak otomatis membuat otot menyusut jika dijalani dengan strategi yang tepat.
Justru, Ramadan bisa menjadi momentum untuk lebih sadar terhadap kebutuhan tubuh, khususnya dalam hal asupan protein, aktivitas fisik, dan waktu istirahat.
Saat berpuasa, tubuh mengalami fase kekurangan energi dalam waktu tertentu.
Jika asupan nutrisi, terutama protein, tidak mencukupi, tubuh berpotensi menggunakan protein otot sebagai sumber energi cadangan.
Inilah yang membuat sebagian orang merasa tubuh melemah atau massa otot menurun selama Ramadan.
Namun, kondisi ini sebenarnya bisa dicegah dengan pengelolaan pola makan yang lebih terencana.
Peran protein menjadi kunci utama dalam menjaga massa otot selama puasa.
Penelitian yang dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul Effects of Intermittent Fasting on Body Composition and Clinical Health Markers in Humans (2015) menjelaskan bahwa puasa tidak secara langsung menyebabkan penurunan massa otot selama kebutuhan protein tercukupi dan tubuh tetap mendapatkan stimulus latihan.
Studi tersebut menegaskan bahwa asupan protein yang memadai membantu mempertahankan sintesis protein otot, meskipun waktu makan terbatas.
Oleh karena itu, sahur dan berbuka sebaiknya dimanfaatkan sebagai waktu utama untuk memenuhi kebutuhan protein harian.
Mengonsumsi protein berkualitas, baik hewani maupun nabati, membantu perbaikan jaringan sekaligus mencegah pemecahan otot selama puasa.
Pembagian asupan protein di dua waktu makan ini juga dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan satu waktu makan besar.
Selain asupan nutrisi, aktivitas fisik tetap berperan penting. Latihan ringan hingga sedang, terutama latihan ketahanan seperti gerakan tubuh sederhana atau angkat beban ringan, dapat membantu menjaga kekuatan dan massa otot.
Waktu terbaik biasanya setelah berbuka atau menjelang sahur, ketika tubuh sudah mendapatkan asupan energi.
Menjaga massa otot di bulan puasa bukan soal menghindari puasa itu sendiri, melainkan soal bagaimana menyesuaikan pola hidup selama Ramadan.
Dengan asupan protein yang cukup, aktivitas fisik yang terukur, dan istirahat yang memadai, puasa tetap bisa dijalani tanpa mengorbankan kesehatan dan kekuatan otot.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.