Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Menilik Filosofi Motif Batik dalam Pernikahan Jawa, Apa Saja Motif Batik yang Boleh Digunakan dalam Pernikahan?

Magang Radar Purworejo • Senin, 16 Maret 2026 | 14:23 WIB

Orang membatik.
Orang membatik.

 

RADAR PURWOREJO - Pernikhan merupakan momen sakral.

Penyatuan dua insan dan insani dengan ikatan resmi.

Menggelar pernikahan umumnya memerlukan perencanaan yang mantang.

Mulai dari riasan wajah, pakaian yang dikenakan, dekorasi pernikahan hingga hidangan untuk tamu.

Di dalam budaya Jawa, pakaian pengantin sangat menentukan kedalaman momen tersebut.

Menjadi ruang refleksi tentang makna dari pernikahan, terutama dalam budaya Jawa.

Pakaian mempelsi mengandung filosofis yang mendalam.

Busana pernikahan Jawa, tak lepas dari kain batik pada jarik, bawahan yang membalut kedua mempelai.

Di balik keindahan kain batik yang kerap dikenakan dalam upacara pernikahan adat, tersimpan filosofi mendalam tentang kesetiaan, keseimbangan, dan perjuangan menjaga harmoni.

Lalu, apa saja motif batik yang boleh digunakan dalam pernikahan?


1. Sido Mukti


Sido Mukti berasal dari dua kata yakni sido dan mukti. Dalam bahasa jawa “sido” berarti jadi atau terus menerus, sedangkan mukti memiliki arti hidup berkecukupan dan Bahagia.

Kain batik Sido Mukti bisa diartikan sebagai sebuah harapan agar kedua mempelai hidup dalam kasih sayang selamanya.

Elemen yang menonjol pada motif ini adalah garuda, meru, singgasana truntum, kupu-kupi, dan motif prada.

2. Sido Luhur


Secara filosofis, motif batik Sido Luhur memiliki arti harapan, sebuah harapan agar kedua mempelai bisa memiliki sifat luhur (terpuji), bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan pernikahan dengan Bahagia.

Elemen yang menonjol pada motif ini adalah pohon hayat, garuda bersayap satu, meru, dan burung.

3. Sido Asih


Motif batik Sido Asih ini menggambarkan harapan agar kedua mempelai senantiasa hidup dalam kasih sayang dan penuh cinta, serta hubungan dalam rumah tangga yang selalu harmonis.

Elemen dalam motif batik ini tersusun secara teratur, terdapat sulur, daun, kuncup bunga, dan gunung yang bergaya dinamis semi-abstrak.


Baca Juga: Mabuk Sambil Nyetir, Pria asal Jakarta Gasak Mobil Warga di Fajar Indah Solo, Begini Nasibnya

4. Grompol


Kata “grompol” dalam bahasa Jawa artinya berkumoul atau Bersatu. Kain batik motif grompol memiliki arti filososfis sebagai sebuah keberkahan.

Orang zaman dulu menganggap arti dari motif batik ini adalah harapan agar kedua mempelai mendapatkan masa depan yang cerah dalam kehidupan berkeluarganya, seperti mudah rezeki, cepat diberi momongan, dan kehidupan rumah tangga yang rukun.

Elemen yang menonjol pada motif ini adalah bunga yang memiliki empat kelopak serta putik di tengahnya yang tersusun secara geometris.

5. Truntum


Motif batik truntum biasanya digunakan oleh orang tua pengantin atau digunakan oleh mempelai perempuan saat malam midodareni.

Motif batik truntum ini memiliki arti filosofis sebagai bentuk cinta kasih yang terus berkembang.

Elemen yang paling menonjol adalah bunga kecil-kecil yang tersusun secara geometris dan berulang. (Nauralya Dhiya UNY Isshafa)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Motif Batik yang Boleh Digunakan dalam Pernikahan #momen sakral #Filosofi motif batik #motif batik #pernikahan Jawa #Busana pernikahan Jawa