RADAR PURWOREJO - Gunungkidul selain terkenal dengan keindahan pantainya ternyata juga memiliki makanan tradisional yang khas berasal dari daerah tersebut dan sering dijadikan buah tangan oleh wisatawan.
Makanan itu bernama tiwul dan gatot, meskipun secara umum keduanya sama sama berasal dari singkong dan sama sama sebagai pengganti karbohidrat namun ternyata dua makanan ini berbeda.
Lalu apa perbedaan kedua makanan tradisional ini?
Baca Juga: Mengenal Hordeolum: Infeksi Kelopak Mata yang Sering Disebut Bintitan Bukan Sekadar Jerawat
Tiwul
Tiwul berasal dari tepung singkong yang sudah ditumbuk halus atau disebut dengan tepung gaplek.
Tepung gaplek tersebut kemudian diolah dengan cara diberikan sedikit gula lalu dikukus hingga matang, setelah matang biasanya akan dimakan bersamaan dengan parutan kelapa.
Melansir dari Indonesiakaya.com tiwul tidak hanya disajikan sebagai hidangan yang manis namun juga dapat dijadikan hidangan asin, untuk hidangan asin anda dapat mengkonsumsinya bersama dengan urap, ikan asin, atau beberapa lauk lainnya.
Tekstur tiwul berbentuk seperti butiran halus dan lembut serta berwarna coklat muda.
Baca Juga: Ratusan Uang Palsu hingga Sabu Dimusnahkan Kejari Boyolali, Bukti Ketegasan Penegakan Hukum
Tiwul ini makanan tradisional yang dikonsumsi untuk menggantikan karbohidrat pada zaman dahulu, selain cara pembuatannya yang cukup mudah tiwul memiliki kalori yang rendah dibandingkan nasi pada umumnya.
Semakin maju perkembangan zaman ini tiwul kini memiliki beragam jenis dan rasa bahkan saat ini banyak tersedia tiwul dalam kemasan yang biasanya dijadikan sebagai oleh oleh dari Gunung Kidul.
Gatot
Sama dengan tiwul yaitu terbuat dari singkong namun ternyata cara pembuatan gatot membutuhkan waktu yang cukup lama.
Gatot dibuat dari gaplek (singkong yang dijemur kering) yang direndam dan dibiarkan fermentasi selama 1 hingga 2 hari, proses fermentasi inilah yang membuat proses gatot cukup lama.
Baca Juga: Bukan April Mop, Mensesneg Pastikan Harga BBM Tidak Naik per 1 April 2026
Setelah direndam ditiriskan, dicuci, lalu diambil kulit arinya dan dipotong kecil kecil lalu direndam dan baru dikukus.
Hampir sama dengan tiwul gatot juga dicampur dengan sedikit gula merah dan kelapa agar menghasilkan rasa yang manis dan gurih.
Gatot memiliki tekstur yang cenderung padat, kenyal dan terbentuk potongan potongan kecil, selain itu warna gatot berwarna kecoklatan dan kehitam hitaman yang berasal dari fermentasi hasil jamur dan bakteri alami.
Terbuat dari singkong makanan ini juga dijadikan sebagai pengganti nasi, namun karena rasanya yang manis gatot kini dijadikan cemilan dan juga dijadikan buah tangan dari Gunung Kidul oleh wisatawan.
Bahkan tiwul dan gatot dapat dikonsumsi secara bersamaan karena kombinasi yang pas.
Pada intinya perbedaan antara tiwul dengan gatot ada pada cara pengolahannya.
Tiwul hanya cukup dengan singkong dihaluskan hingga menjadi tepung dan di kukus, sedangkan gatot memerlukan proses fermentasi pada gapleknya tersebut kemudian baru dapat dikukus.
Selain cara pengolahan tekstur serta warna juga menjadi letak perbedaan antara kedua makanan ini.
Baca Juga: Bina 33.532 UMKM dan Ratusan Koperasi, Dinas KUKMP Purworejo Berkomitmen Tumbuhkan Ekonomi Lokal
Itulah perbedaan antara tiwul dan gatot yang menjadi makanan khas daerah Gunung Kidul yang kini sudah cukup populer.
Apakah anda tertarik mencobanya? (Safira Ratih)
Editor : Meitika Candra Lantiva