Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Sheriff Koboy: Wadah Bersenang-senang Pecinta Board Game Jogjakarta yang Terbuka bagi Siapa Saja

Iwan Nurwanto • Minggu, 19 April 2026 | 05:50 WIB
Menjaga Nyala Interaksi Tanpa Gawai: Kisah Komunitas Koboy Merawat Tradisi Board Game di Jogja

Dua Dekade Koboy Bertahan: Siasat Para
Menjaga Nyala Interaksi Tanpa Gawai: Kisah Komunitas Koboy Merawat Tradisi Board Game di Jogja Dua Dekade Koboy Bertahan: Siasat Para 'Sheriff' Melawan Arus Permainan Digital lewat Papan Strategi Eksistensi Komunitas Koboy: Saat Papan Permainan Jadi Jembatan Silaturahmi di Tengah Gempuran Gadget

 

 

Hingar-bingar permainan digital menggunakan gawai terus berkembang. Namun, ada sejumlah pemuda yang terus menjaga nyala permainan interaksi nyata. Mereka adalah Koboy atau Komunitas Board Game Yogyakarta.

Pemandangan berbeda tampak di sebuah kafe di Kota Jogja belum lama ini. Sejumlah orang yang mengatasnamakan sebagai sheriff tengah sibuk mengocok dadu dan memindahkan bidak seraya beradu strategi di atas meja. Gelak tawa mereka pecah tanpa handphone menyala.

Sheriff sendiri merupakan sebutan bagi anggota Koboy. Komunitas board game yang sudah ada sejak dua dekade dan masih eksis sampai sekarang. Meski harus diakui ada tantangan dalam hal regenerasi, lantaran permainan papan belum terlalu populer di Indonesia. Paling-paling yang dikenal hanya monopoli dan ular tangga.

Baca Juga: Keren! Emak-Emak Pembudidaya Ikan di Kulon Progo Belajar Ilmu Penyakit Ikan Langsung dari Dosen UGM


Salah satu Sheriff Koboy, Dipet Rama mengatakan komunitasnya berupaya merawat sebuah hobi yang mungkin bagi sebagian orang dianggap klasik. Sebab di zaman serba modern ini mungkin permainan gawai lebih populer karena mudah dimainkan dan tidak perlu pertemuan langsung.


Dipet menceritakan, embrio Koboy berawal dari grup WhatsApp bernama Dakon. Para anggota grup kemudian bertemu pada sebuah toko board game yang berada tidak jauh dari kampus swasta di Bantul. Tempat tersebut menjadi basecamp sejak 2014. Namun kemudian tutup di tahun 2016.


Kehilangan basecamp tak lantas menyurutkan semangat para pemainnya. Pada 2017, sisa-sisa anggota dari grup Dakon mulai mencari cara untuk kembali berkumpul. Berbekal izin dari perintis grup sebelumnya, mereka mengubah nama menjadi Koboy.

Baca Juga: Respon Cepat Pemkab Gunungkidul Tangani Keluhan Wisatawan di Pantai Ngobaran, Selang Sehari Langsung Ditindaklanjuti

Sebuah nama baru yang membawa semangat kebersamaan hingga hari ini.“Koboy memiliki kegiatan berupa playday. Jadi kami memainkan board game setiap seminggu sekali, dan biasanya diadakan pada hari Rabu,” ujar Dipet kepada Radar Jogja.


Dipet menyatakan, bahwa di tengah tantangan regenerasi anggota yang semakin bertambah dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing. Koboy masih terbuka bagi siapa pun yang ingin bergabung. Tidak memandang latar belakang.


Anggota baru juga tidak perlu takut kesulitan memainkan board game. Karena Koboy bisa menyesuaikan kemampuan anggotanya. Misal jika baru mengenal, maka akan dipilih permainan papan yang mudah dipahami. “Kalau ada anggota baru, sengaja kami bawakan yang light agar mudah beradaptasi,” katanya.

Baca Juga: Susu Oat atau Susu Almond? Mana yang Lebih Bagus?


Dipet mengakui, menjaga nyala permainan interaksi nyata seperti board game di Indonesia memang bukan yang mudah. Sebab bagi negara-negara Asia Tenggara, board game masih dianggap permainan yang tersegmentasi.


Berbeda dengan di Eropa atau Amerika yang cenderung menganggap board game sebagai bagian tidak terpisahkan. Karena merupakan permainan yang asyik ketika ada tradisi kumpul keluarga setiap akhir pekan.


Dipet bercerita, Koboy pernah berupaya keras menjalankan program regenerasi agar ada tongkat estafet bagi para anggota lama yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Namun ambisi tersebut dikesampingkan. Saat ini Koboy fokus hanya sekedar sebagai wadah bersenang-senang.


“Prinsip Koboy saat ini cuma satu, menjadi wadah. Kalau ada yang mau main, ya ayo. Kalau tidak ada, ya sudah,” tandas Dipet. 

Editor : Heru Pratomo
#koboy #gim digital #papan strategi #sheriff #kafe