YOGYAKARTA – Fenomena pasar malam yang belakangan dikeluhkan sepi oleh para pedagang ternyata tidak sepenuhnya disebabkan oleh berkurangnya jumlah pengunjung. Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menilai persoalan utamanya justru terletak pada perubahan pola konsumsi masyarakat urban yang kini jauh lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY, Diah Setyawati Dewanti, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa penurunan transaksi di pasar malam dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni melemahnya daya beli masyarakat dan bergesernya perilaku konsumen menuju ekosistem digital. Warga pada dasarnya masih berbondong-bondong datang untuk menikmati kemeriahan suasana, namun menahan diri untuk melakukan pengeluaran konsumsi di lokasi acara.
Baca Juga: Edukasi Lewat TikTok, Peternak Muda Lulusan UGM Bagikan Formula Sukses Bisnis Kambing dan Domba
Menurut Diah, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa volume pengunjung di berbagai pasar malam relatif stabil. Sayangnya, para pelaku UMKM di sana tetap mengeluhkan pendapatan yang terus merosot tajam. Banyak pengunjung yang kini memilih membawa makanan dan minuman sendiri dari rumah, atau sekadar berjalan-jalan tanpa membeli apa pun akibat lonjakan biaya hidup, mulai dari ongkos transportasi hingga tarif retribusi kawasan hiburan.
Jika tren ini dibiarkan berlarut-larut, dampaknya tidak hanya memukul para pedagang kecil, tetapi juga bisa merembet ke perekonomian daerah yang lebih luas. Penurunan permintaan barang akan menekan pendapatan pelaku usaha, memperlambat perputaran ekonomi lokal, bahkan dalam jangka panjang berisiko memicu lingkaran setan kemiskinan atau poverty trap.
Meski demikian, Diah optimistis pemerintah akan bergerak cepat memperkuat program ekonomi lokal, termasuk mendampingi UMKM agar bisa beradaptasi melalui digitalisasi. Pedagang pasar malam tidak bisa lagi hanya pasrah menunggu keramaian fisik, melainkan harus mulai memperluas jangkauan pasar lewat platform digital karena harus bersaing ketat dengan hiburan layar gawai yang jauh lebih praktis.
Baca Juga: Diduga Berbau Solar, Bulog Tarik MinyaKita di Tiga Kabupaten Jateng dan Sidak Pabrik Produsen
Untuk memikat generasi muda, pasar malam dinilai masih memiliki masa depan cerah asalkan mau bersolek mengikuti zaman dengan memanfaatkan tren experience-based tourism atau wisata berbasis pengalaman. Pengelola pasar malam disarankan untuk mulai menghadirkan konsep yang lebih interaktif dan tematik.
Langkah tersebut dapat diwujudkan melalui perpaduan pertunjukan budaya lokal yang dikemas secara modern, pelibatan musisi lokal secara berkala, hingga penyediaan wahana permainan interaktif yang sedang populer di media sosial. Melalui kombinasi atraksi ini, pasar malam tidak lagi sekadar menjadi tempat berbelanja, melainkan ruang rekreasi yang menawarkan pengalaman emosional baru bagi pengunjung.
Di samping inovasi atraksi, aspek kenyamanan dan keamanan mutlak ditingkatkan, terutama standar keselamatan pada wahana permainan. Pengelola juga perlu mengadopsi teknologi digital secara masif, mulai dari penyediaan metode pembayaran non-tunai melalui QRIS, fasilitas Wi-Fi publik, peta digital informasi lokasi pedagang, hingga promosi kreatif di media sosial.
Sebagai penutup, Diah menegaskan bahwa proyek revitalisasi pasar malam ini harus berjalan beriringan dengan kebijakan makro pemerintah untuk memulihkan daya beli masyarakat. Langkah mempercantik destinasi wisata tradisional tidak akan membuahkan hasil yang optimal jika kondisi dompet masyarakat di akar rumput masih tipis.
Editor : Heru Pratomo