RADAR PURWOREJO - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo tengah menyiapkan langkah besar agar geblek, makanan khas daerahnya, mampu menembus pasar nasional hingga mancanegara.
Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko menjelaskan geblek bukan hanya camilan tradisional, melainkan potensi ekonomi yang harus punya daya saing tinggi.
Pemkab bahkan mengganti jargon lama "Bela Beli Kulon Progo" menjadi lebih ambisius, yakni "Lokal, Nasional, to Global", lengkap dengan program pelatihan dan kolaborasi riset teknologi pangan agar geblek bisa bertahan lama dalam distribusi jarak jauh tanpa kehilangan cita rasa aslinya.
Baca Juga: Bukan Cuma Purworejo, Ini Alasan Sebenarnya Kenapa "Open Dumping" Harus Dihentikan Sebelum 1 Agustus
Sebelum itu, ada baiknya kita kenalan dulu dengan geblek itu sendiri.
Apa Itu Geblek?
Geblek adalah makanan tradisional khas Kabupaten Kulon Progo, berbahan dasar pati singkong, dengan cita rasa gurih dan bentuk menyerupai angka delapan, atau simbol infinity dalam matematika.
Cara membuatnya relatif sederhana.
Tepung kanji atau tapioka diuleni bersama bawang dan garam, dibentuk menyerupai angka delapan, lalu digoreng dalam minyak panas hingga matang.
Geblek biasanya disantap bersama tempe besengek sebagai pelengkap utama, meski sebagian orang juga menikmatinya dengan sambal bawang, sambal merah, atau sambal kecap sesuai selera.
Baca Juga: Bukan Sekadar Wangi di Awal: Mengapa Uji Ketahanan 10 Jam Jadi Kunci Memilih Parfum di Indonesia
Geblek dimaknai sebagai simbol kerja sama atau gotong royong antara laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki berperan menanam dan memanen singkong, sementara perempuan mengolah singkong itu menjadi pati hingga menjadi geblek siap santap.
Filosofi inilah yang menjadikan geblek lebih dari sekadar makanan, tapi juga representasi nilai kebersamaan masyarakat Kulon Progo secara turun-temurun.
Dengan latar belakang sejarah dan filosofi sekuat itu, ambisi Pemkab Kulon Progo membawa geblek ke pasar global jadi terasa lebih masuk akal.
Bukan sekadar menjual camilan gorengan biasa, tapi menjual cerita tentang kesederhanaan hidup petani, nilai gotong royong, dan identitas budaya yang sudah mengakar di kehidupan masyarakat Kulon Progo selama puluhan tahun.
Baca Juga: PSIM Jogja Depak Rahmatsho Rahmatzoda, Daftar Pemain yang Hengkang Kian Panjang
Tantangannya kini tinggal soal eksekusi, bagaimana rasa autentik dan makna di balik geblek bisa tetap terjaga.
Sekalipun nanti kemasannya sudah menembus rak-rak minimarket di luar Jawa, atau bahkan luar negeri.