Mitos! Jago Hitung-hitungan Dicap Dominan "Otak Kiri", Jago Gambar dan Kreatif Langsung Dibilang "Otak Kanan"

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:17 WIB
Ilustrasi otak manusia. (Unsplash)
Ilustrasi otak manusia. (Unsplash)

 


RADAR PURWOREJO - Label semacam ini rasanya sudah jadi bahasa sehari-hari, bahkan dipakai guru dan orang tua untuk menjelaskan tentang bakat anak.

Sayangnya, klaim itu cuma mitos.

Melansir dari International Journal of Innovation, riset ilmiah sudah membantahnya, bahkan sejak lebih dari satu dekade lalu.

Dr Kelly-Ann Allen dari Monash University dan Dr Rick van der Zwan, ahli neurosains kognitif asal Australia menegaskan hal ini dalam kajian mereka yang terbit di International Journal of Innovation, Creativity and Change tahun 2019.

Baca Juga: Lurah Pangenjurutengah Purworejo Dibebastugaskan Sementara Karena Diduga Nikah Siri Tanpa Izin

Gagasan bahwa seseorang "didominasi" otak kiri atau otak kanan adalah salah satu mitos ilmu saraf paling tua dan paling susah hilang, meski riset sudah berulang kali membuktikan sebaliknya.

Bukti paling valid datang dari studi neuroimaging Universitas Utah tahun 2013.

Tim peneliti memindai otak 1.011 orang berusia 7 sampai 29 tahun, memeriksa lebih dari 7.200 wilayah otak untuk mencari pola dominasi salah satu sisi.

Hasilnya nihil.

Baca Juga: OTT Bupati Pemalang Berlanjut, KPK Periksa Belasan Orang di Mapolres Pemalang


Tidak ditemukan bukti bahwa jaringan otak kiri atau kanan seseorang bekerja lebih dominan secara keseluruhan dibanding sisi satunya.

Faktanya, kedua belahan otak justru bekerja sama nyaris terus-menerus lewat corpus callosum, berkas serat saraf tebal yang menghubungkan keduanya. Saling bertukar informasi dalam hitungan milidetik.

Memang benar ada beberapa fungsi spesifik yang cenderung terpusat di satu sisi.

Baca Juga: Usung People Development Plan, Telkom Sabet Lestari Award 2026 Kategori Talent Management


Bahasa misalnya, diproses dominan di otak kiri pada sekitar 95 persen orang bertangan kanan.

Tapi itu jauh berbeda dari klaim bahwa seluruh gaya berpikir seseorang, termasuk soal logika vs kreativitas ditentukan oleh sisi otak mana yang lebih "menguasai".


Lantas, dari mana asal mitos ini?

Akar mitos ini diduga berasal dari penelitian pasien split-brain di era 1960-an.

Ketika dokter memutus corpus callosum sebagian pasien epilepsi untuk mengurangi kejang.

Baca Juga: Pertahankan Predikat PTS Terbaik Kedu, UMPWR Tembus 10 Besar PTS Terbaik di Jawa Tengah

Karena bahasa jadi sulit diakses sisi kanan otak pasien-pasien ini, muncul kesan keliru bahwa otak kiri itu tempat logika sedangkan otak kanan itu tempat emosi dan kreativitas.

Padahal itu simplifikasi kasar dari kondisi otak yang sudah dioperasi, bukan gambaran otak orang normal sehari-hari.

Mitos ini bukan sekadar obrolan santai tanpa dampak.

Industri produk dan program belajar yang mengklaim bisa melatih otak kanan atau mengoptimalkan otak kiri ikut tumbuh subur karena kepercayaan ini.

Baca Juga: Tangis Pedagang Pasar Bayat Klaten usai Kebakaran, Modal Kulakan Puluhan Juta Lenyap dalam Sekejap

Jadi, jika ada tes online yang bilang kamu "89 persen otak kanan", boleh saja untuk hiburan.

Tapi jangan buru-buru percaya bahwa itu menentukan kelebihan di bidang seni atau lemah di matematika.

Kemampuan berhitung atau berkarya lebih ditentukan oleh cara belajar, latihan, dan pengalaman, bukan oleh sisi otak mana yang katanya lebih dominan. 



Editor : Meitika Candra Lantiva
Jago Hitung-hitungan Dominan Jago Gambar dan Kreatif Otak Kanan mitos