RADAR PURWOREJO - Belakangan ini nama kimpul ramai diperbincangkan di media sosial.
Umbi-umbian yang dulu identik sebagai makanan tradisional ini kembali mencuri perhatian setelah banyak konten kreator membagikan berbagai olahan berbahan dasar kimpul.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, kimpul bukan makanan yang asing.
Umbi ini biasanya diolah dengan cara direbus, dikukus, digoreng, hingga dijadikan camilan.
Rasanya yang gurih dengan tekstur lembut membuat kimpul kembali diminati, terutama oleh gen z yang penasaran dengan makanan tradisional.
Baca Juga: Macan Kumbang Masuk Rumah Warga di Batang, Ternak Warga Jadi Mangsa
Viralnya kimpul juga menunjukkan bahwa makanan lokal masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Tidak sedikit pelaku usaha kuliner mulai mengolah kimpul menjadi menu yang lebih modern, seperti keripik, perkedel, hingga kolak berbahan dasar umbi tersebut.
Selain rasanya yang khas, kimpul juga dikenal memiliki kandungan karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral yang cukup baik bagi tubuh.
Karena itu, umbi ini sering dijadikan alternatif sumber karbohidrat selain nasi, singkong, maupun ubi.
Baca Juga: BBWSSO Keruk Sungai Serang, Hasil Sedimentasi untuk Timbun Lahan Stadion Cangkring Kulon Progo
Fenomena ini menjadi angin segar bagi petani dan pelaku UMKM.
Ketika makanan tradisional kembali viral, permintaan pasar berpotensi meningkat sehingga membuka peluang usaha baru sekaligus membantu melestarikan pangan lokal yang mulai jarang dikonsumsi.
Meski begitu, masyarakat tetap diimbau mengolah kimpul dengan benar sebelum dikonsumsi.
Beberapa jenis kimpul mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal jika tidak dimasak hingga matang.
Merebus atau mengukus hingga benar-benar matang menjadi salah satu cara untuk mengurangi efek tersebut.
Editor : Meitika Candra Lantiva