YOGYAKARTA – Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Felyhart berhasil mengolah limbah ampas tebu menjadi pasir kucing organik bernilai tambah. Inovasi ini dirancang sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti pasir bentonite yang sulit terurai, sekaligus membantu pemantauan awal kesehatan saluran kemih kucing melalui indikator pH urine terintegrasi sistem digital.
Tim Felyhart beranggotakan lima mahasiswa lintas fakultas, yakni Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, dan Pratiwi Putri Hasibuan (Fakultas Teknik), Rayhan Farel Ramadhani (Fakultas Kedokteran Hewan), serta Humairo Labiiba (Sekolah Vokasi).
Di bawah bimbingan Dr. drh. Madarina Wassisa dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, mereka mengembangkan penelitian berjudul “Felyhart: Inovasi Pasir Kucing Organik Antimikroba Penekan Transmisi Fekal-Oral dengan Indikator pH Urine Terintegrasi Sistem Pemantauan Kesehatan Digital”.
Baca Juga: Satgas Kesulitan Ungkap Penyebab Keracunan di Kulon Progo, Duga Sampel MBG Dihilangkan
Ketua Tim Felyhart, Arsi Cahyani, menjelaskan bahwa pengembangan produk ini dilatarbelakangi oleh tingginya limbah pasir kucing konvensional yang berdebu dan tidak mudah terurai, serta risiko pertumbuhan bakteri akibat kelembapan tinggi.
“Dari situ muncul gagasan memanfaatkan limbah ampas tebu yang melimpah sebagai bahan dasar pasir yang mudah terurai (biodegradable). Kami juga menambahkan natrium propionat untuk menghambat pertumbuhan bakteri serta menekan biaya produksi agar lebih terjangkau,” ujar Arsi, Rabu (2/9/2026).
Uniknya, pasir Felyhart dilengkapi dengan indikator pH alami yang akan mengubah warna gumpalan pasir saat terkena urine kucing. Produk ini juga terintegrasi dengan situs web khusus yang dapat memindai dan menganalisis warna gumpalan tersebut untuk memberi informasi perkiraan nilai pH.
Baca Juga: Dengan Modal Rp 2,5 M, Taman Bunga di Taman Kyai Langgeng Magelang Kembali
Meski demikian, hasil pemindaian bersifat deteksi dini dan bukan diagnosis medis mutlak. Pemilik diimbau tetap melapor ke dokter hewan jika menemukan gejala klinis seperti kesakitan atau darah saat kucing berkemih.
Dosen pendamping, Dr. drh. Madarina Wassisa, menambahkan bahwa kebersihan pasir organik ini efektif menekan risiko penularan penyakit berbasis kontaminasi fekal-oral. Sementara dari sisi pengguna, daya serap Felyhart dinilai mampu membentuk gumpalan yang lebih kering sehingga memudahkan pembersihan.
Melihat populasi kucing peliharaan dan tren pet parenting yang terus meningkat di Indonesia, Tim Felyhart optimistis produk ini memiliki potensi pasar yang luas, khususnya bagi pemilik hewan yang peduli pada isu kesehatan sekaligus kelestarian lingkungan.
Editor : Heru PratomoSumber : ugm.ac.id