RADAR PURWOREJO - Bentrokan pecah di Kampung Tuguran RT 4/RW 6, Potrobangsan, Magelang Utara, Kota Magelang, Rabu (24/4), tengah malam.
Dari video yang beredar, dua kelompok remaja tampak mengacungkan senjata tajam.Kejadian ini mengakibatkan kaca jendela rumah warga pecah terkena sabetan celurit.
Wali Kota Magelang Muchamad Nur Aziz menyayangkan kejadian tersebut. Dia menyebut, bentrokan itu baru kali pertama terjadi di Tuguran. "Nanti dicari tahu penyebabnya apa. Orang tuanya dipanggil,” ungkapnya.
Dia menyebut, sebetulnya tawuran yang menyebabkan bentrok antarkelompok sudah terjadi sejak lama. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, cukup kompleks. Karena harus mencari akar permasalahannya terlebih dahulu.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua harus lebih mengawasi aktivitas anaknya. Termasuk mengajarkan etika kepada anak. "Persoalannya kemungkinan berasal dari rumah, keluarga. Sehingga rumah harus benar-benar layak dihuni," katanya.
Saat disinggung terkait pembentukan Peraturan Daerah (Perda) jam malam bagi pelajar, masih membutuhkan kajian lebih dalam. Aziz pun mendukung agar perda tersebut segera dibuat. Supaya anak-anak tidak berkeliaran melebihi pukul 22.00. “Kerja sama dengan Kesbangpol, Disporapar, dan Disdikbud," imbuhnya.
Warga Tuguran Bana Fauzi, 39 menuturkan, bentrokan tersebut terjadi sekitar pukul 00.00, yang mana sebagian besar warga sudah terlelap.Tiba-tiba, ada segerombolan orang mengendarai motor melintas di wilayahnya sembari membunyikan klakson dan berteriak.
Hanya saja, dia tidak berani keluar rumah dan hanya mengintip dari celah jendela. Lantaran dia melihat sebagian pelaku bentrokan, membawa sajam berupa celurit panjang. "Mereka lempar-lemparan botol kaca sama bawa celurit panjang," sebutnya.
Fauzi menyebut, bentrokan itu hanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Namun, kaca jendela rumah saudaranya pecah dan diduga akibat sabetan celurit. Warga juga sempat menghubungi kepolisian. Namun, para pelaku membubarkan diri sebelum polisi datang.
Kapolsek Magelang Utara Kompol Purwanto mengatakan,dua kelompok yang terlibat bentrokan itu, diduga berasal dari luar Tuguran. Namun, dia tidak menjelaskan kronologi secara lengkap. "Kemungkinan orang luar. Bukan (warga) daerah situ. Sekarang masih lidik," bebernya.(aya/din)