MAGELANG - Sebanyak 43 biksu dari empat negara itu memulai perjalanan spiritualnya dari Vihara Buddha Jayanti Wungkal Kasap, Semarang pada Rabu (15/5). Hingga akhirnya tiba di tujuan akhirnya, di Candi Borobudur untuk bertemu dengan Sang Buddha pada Senin (20/5).
Thudong merupakan sebuah perjalanan dengan berjalan kaki dan melakukan beberapa praktik spiritual lainnya. Meski jarak tempuh lebih pendek, namun mereka mendapat pengalaman baru demi mencapai tujuannya. Setiap harinya, mereka berjalan lebih dari 10 km per hari.
Tradisi thudong yang dilakukan oleh para biksu tersebut menjadi satu upaya untuk belajar bersabar. Karena Sang Buddha mengatakan bahwa kesabaran adalah praktik dharma yang paling tinggi. Selain itu, juga mengkampanyekan toleransi beragama yang ada di Indonesia.
Selama perjalanan, kata dia, ada banyak hal yang diperoleh. Banyak masyarakat yang bersiap di kanan-kiri jalan untuk memberikan makanan, minuman, maupun sandal. "(Perjalanan) 60 km itu, (kami) tidak pernah kesepian. Anak-anak sekolah maupun kecamatan, banyak yang mengundang untuk mampir," ujarnya, Senin (20/5).
Dia menyebut, masyarakat kali ini sudah lebih mengenal thudong. Mereka sengaja keluar dari rumah, sekolah, maupun kantor untuk menyambutnya. Hal itu semakin memupuk rasa persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
"Kami pernah (mulai) jalan (kaki) jam 5 pagi. Di samping jalan, kami kaget. Ada masyarakat, tidak hanya dari umat Buddha, tapi mereka menghormati kami dengan memberi bunga. Berarti mereka sudah bangun sebelum jam 5," lontarnya.
Bhante Kamsai merasa, pemberian dari masyarakat itu menjadi bekal bagi para biksu agar tiba di Candi Borobudur dengan selamat. "Untuk (prosesi thudong) Waisak kali ini, kami bahagia sepanjang 60 km," sambungnya.
Baca Juga: Jalan 1.300 Kilometer, 24 Biksu Thudong Tiba di Candi Borobudur 20 Mei 2024
Sebelum memulai perjalanan, para biksu bertekad untuk melatih diri dan melepaskan diri dari kemelekatan. Atau segala sesuatu yang melekat di tubuh dan yang bersifat keduniawian. Hal itu sesuai dengan ajaran Sang Buddha.
Selama lima hari perjalanan, mereka singgah di sejumlah tempat. Baik vihara, kelenteng, maupun masjid. Dia mengakui, mereka tidak membawa modal apapun selama perjalanan. Dengan sambutan hangat yang diberikan, menjadi satu hal yang berarti bagi mereka.
Seorang biksu asal Thailand, Phraathikan Suphit mengaku baru kali ini mengikuti thudong ke Indonesia. Dia juga bangga dengan masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui selama perjalanan menuju Candi Borobudur.
Bahkan, dia baru pertama kali mengunjungi Indonesia. Dia sempat berpikir bahwa warga negara Indonesia didominasi oleh agama Islam dan khawatir akan mendapat masalah. Termasuk kehadirannya yang tidak diterima dengan baik. Ternyata, hal itu hanyalah pemikiran yang tidak mendasar.
Baca Juga: Jarang Diketahui! Mengenal Buah Manggis Putih: Varietas Cantik Asal Lombok dan Khasiat Luar Biasa
Menurutnya, masyarakat dari berbagai latar belakang agama justru menyambutnya dengan tangan terbuka. Bahkan, selama berjalan kaki, para biksu mendapat pengamanan dari aparat TNI, Polri, dan lainnya. "Semua memberikan jalan dan masyarakatnya baik," sebutnya.
Kendati baru pertama kali melakukan prosesi thudong di Indonesia, tapi dia kerap melaksanakannya di negara masing-masing. Namun, tidak ada penyambutan khusus seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Sebab, prosesi itu menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat setempat.
Terlebih, ritual thudong dianggap sebagai meditasi. Sehingga masyarakat setempat memberikan ruang kepada mereka agar lebih khusyuk dalam memanjatkan puja bakti.
"Memang banyak yang tidak menyangka Indonesia seperti ini (menyambutnya dengan hangat)," timpal Bhante Kamsai.
Editor : Heru Pratomo