RADAR PURWOREJO - Magelang Tempo Doeloe (MTD) menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan. Sebab, pada gelaran tersebut menyajikan sejumlah barang lawasan hingga kudapan yang sudah jarang ditemui. Hal itu membuat pengunjung serasa bernostalgia dan menjadi obat rindu.
NAILA NIHAYAH, Magelang
Alun-alun Kota Magelang berubah jadi kota lama. Mulai dari kuliner lawasan, rekam jejak sejarah Kota Magelang, markas gerilyawan, hingga barang-barang antik. Seperti radio, mobil, motor, dan sepeda.
Pameran MTD ini mempersembahkan keberagaman di masa lampau. Tujuannya untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi generasi muda. Agar mereka tidak meninggalkan sejarah. Terutama soal pelestarian budaya bangsa.
Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 2006. Yang diprakarsai oleh komunitas sepeda tua Magelang bernama VOC. "MTD merupakan sajian sejarah yang dikemas secara artistik," beber Ketua panitia MTD 2024 Andritopo, Sabtu (20/7).
Saat itu VOC memiliki banyak sepeda lawas dan arsip foto yang berkaitan dengan Magelang tempo dulu. Lantas, mereka berpikir agar semua itu harus terekspos agar warga Magelang mengetahuinya.
Dengan biaya yang tak seberapa, mereka mulai bekerja bakti mengecat tembok Karesidenan Kedu. Saat itu, hanya bermodalkan Rp 150 ribu. Kegigihan mereka untuk memberi edukasi warga, membuat pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan tersebut.
Pada 2007, kata dia, MTD pindah di Museum BPK RI dengan konsep yang lebih besar. Kegiatan tersebut terus berjalan hingga 2017. Saat itu, mereka bisa mengundang berbagai komunitas pertunjukan seni. Seperti tari, teater, dan sebagainya.
Setiap tahun, MTD menyajikan tema dan tampilan yang berbeda. Adapun tema yang diusung kali ini adalah Centrum Van Industrie. Yang berarti Magelang sebagai pusat industri. Terdapat 14 komunitas, 15 konten acara, dan puluhan stan yang turut andil dalam kegiatan ini.
Kepala Disporapar Kota Magelang Sarwo Imam Santosa menuturkan, kegiatan ini sudah dipersiapkan sejak dua bulan yang lalu bersama sejumlah komunitas. Tujuannya untuk menghadirkan suasana tempo dulu yang dikemas dalam bentuk unik dan menarik.
Dengan begitu, lanjut dia, dapat mendatangkan wisatawan ke Kota Magelang. "Kemudian mendorong industri pariwisata lokal serta menjadi wadah apresiasi bagi para pelaku seni dan budaya lokal dan luar Kota Magelang," paparnya. (pra)
Editor : Satria Pradika