Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Panen Raya Kopi Arabika di Lereng Gunung Merapi Capai Delapan Ton Kopi Basah, Hasilkan 200 Kg Green Bean

Naila Nihayah • Jumat, 26 Juli 2024 | 14:00 WIB

MELIMPAH: Ketua Kelompok Tani Tumpang Sari Dusun Babadan II Poni memperlihatkan persediaan kopi basah di Dusun Babadan II, Paten, Dukun, Kamis (25/7).NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
MELIMPAH: Ketua Kelompok Tani Tumpang Sari Dusun Babadan II Poni memperlihatkan persediaan kopi basah di Dusun Babadan II, Paten, Dukun, Kamis (25/7).NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
 

RADAR PURWOREJO - Hasil panen raya kopi arabika di lereng Gunung Merapi melimpah. Tahun lalu, petani hanya bisa memanen sekitar lima hingga enam ton kopi basah (ceri). Sementara tahun ini, mereka semringah karena hasil panennya mencapai delapan ton kopi basah. Selain faktor musim yang mendukung, sejumlah petani juga mulai menambah tanaman kopinya.


Salah satu daerah penghasil kopi arabika di Kabupaten Magelang adalah Dusun Babadan II, Paten, Dukun. Penanamannya dilakukan dengan sistem tumpang sari di area pematang sawah dengan luas total 20-30 hektare. Sebab sejak dulu, mayoritas petani di dusun tersebut lebih memilih untuk menanam sayur-mayur.

MELIMPAH: Ketua Kelompok Tani Tumpang Sari Dusun Babadan II Poni memperlihatkan persediaan kopi basah di Dusun Babadan II, Paten, Dukun, Kamis (25/7).NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
MELIMPAH: Ketua Kelompok Tani Tumpang Sari Dusun Babadan II Poni memperlihatkan persediaan kopi basah di Dusun Babadan II, Paten, Dukun, Kamis (25/7).NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA


Ketua Kelompok Tani Tumpang Sari Dusun Babadan II Poni tidak menampik, panen kopi tahun ini lebih menggairahkan dibanding tahun lalu pada periode yang sama. Panen raya sudah 1,5 bulan lalu sampai Agustus. “Sekarang (tahun ini panen) delapan ton kopi basah. Tahun lalu lima sampai enam ton, ada kenaikan dua sampai tiga ton kopi basah," ujar dia di rumahnya, Kamis (25/7).


Poni menilai, kenaikan hasil panen ini dipengaruhi oleh faktor musim yang mendukung. Banyak bunga yang tidak gugur. Selain itu, saban tahun, sejumlah petani juga menambah area tanam kopi. Sehingga hasil panennya akan semakin melimpah. Dari delapan ton kopi basah, kata dia, bisa menghasilkan 200 kilogram (kg) green bean.


Masing-masing green bean, kata dia, memiliki harga yang beragam. Untuk anaerob natural Rp 185 ribu per kg, full wash classic Rp 160 ribu per kg, dan honey anaerob Rp 170 ribu per kg. Adapun peminat kopi arabika Dusun Babadan II ini berasal dari seluruh Indonesia. "Dari Jogja, Jakarta, dan hampir seluruh daerah di Indonesia sudah pernah kami kirim," katanya.


Kendati sudah dikirim ke beberapa daerah, namun dia belum mengetahui persis keunggulan dari kopi arabika Babadan II. Menurutnya, cara menilai kopi bukan hanya dilihat dari kualitas semata. Melainkan dari sugesti masing-masing penikmatnya. "Penilaiannya beda-beda. Ada yang bilang asam manis. Mungkin (khasnya) karena tanah, ketinggian, dan porsesnya dimaksimalkan," imbuh dia.

Dia menyebut, ada 24 petani yang tergabung dalam kelompok tani tersebut. Dari jumlah itu, 15 di antaranya menanam kopi dan sayur-mayur. Sedangkan sisanya belum menanam kopi. Sistemnya, para Poni akan membeli hasil panen kopi basah milik petani tersebut. Harganya Rp 10 ribu per kg.Namun, biji kopi basah yang dibeli hanya saat sudah berwarna merah. Ketika masih berwarna hijau, Poni enggan membelinya.


Warga Ngluwar Mukti Bakhtiyar menyebut, sudah tidak mengonsumsi kopi sejak tiga tahun lalu. Mengingat penderita asam lambung seperti dirinya memang sebisa mungkin menghindari kopi. Namun, dia mengaku penasaran dengan rasa kopi arabika dari Babadan II. Setelah dicoba, ternyata tidak berdampak buruk terhadap tubuhnya.


Dia mengatakan, rasa kopi arabika dari Babadan II cenderung sama seperti kopi lainnya. Tapi, sedikit lebih asam. "Biasanya kalau (minum) kopi hitam, langsung sesak (napas). Setelah minum kopi arabika itu dan habis sebungkus, tidak ada efek sampingnya," sebutnya. (aya/pra)

Editor : Satria Pradika
#Gunung Merapi #kopi arabika #tani #panen raya #lereng gunung