Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Tutup Akses Jalan Blumbang Roto bagi Wisatawan, Pemkab Sebut Ada Miskomunikasi dan Perlu Duduk Bersama

Naila Nihayah • Rabu, 31 Juli 2024 | 14:00 WIB

DIPASANG PAPAN: Warga Prampelan, Adipuro, Kaliangkrik resmi menutup akses jalan untuk wisatawan karena dinilai mengganggu aktivitas petani.Dok: Waluyo untuk Radar Jogja
DIPASANG PAPAN: Warga Prampelan, Adipuro, Kaliangkrik resmi menutup akses jalan untuk wisatawan karena dinilai mengganggu aktivitas petani.Dok: Waluyo untuk Radar Jogja
 

 

 


RADAR PURWOREJO - Pemerintah Desa (Pemdes) Adipuro secara resmi menutup akses jalan menuju Blumbang Roto untuk wisatawan. Mereka menilai, kedatangan wisatawan justru dinilai mengganggu aktivitas petani. Mengingat akses jalannya cukup sempit, sehingga mereka memarkirkan kendaraannya di sepanjang jalan.


Blumbang Roto terletak di Prampelan, Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik. Area tersebut disebut sebagai hidden gem-nya Magelang dan menjadikannya sebagai spot foto yang menarik. Sebab menyajikan lanskap alam dan gagahnya Gunung Sumbing. Jika beruntung, area itu akan diselimuti hamparan awan.

DIPASANG PAPAN: Warga Prampelan, Adipuro, Kaliangkrik resmi menutup akses jalan untuk wisatawan karena dinilai mengganggu aktivitas petani.Dok: Waluyo untuk Radar Jogja
DIPASANG PAPAN: Warga Prampelan, Adipuro, Kaliangkrik resmi menutup akses jalan untuk wisatawan karena dinilai mengganggu aktivitas petani.Dok: Waluyo untuk Radar Jogja


Karena itu, banyak wisatawan dari berbagai daerah yang sengaja datang ke sana untuk menyaksikan keindahan alam di Blumbang Roto. Mereka menjadikannya sebagai objek foto, lalu mengunggahnya ke media sosial (medsos) masing-masing hingga viral. Namun, keberadaan mereka menuai protes dari masyarakat. Khususnya petani.


Kepala Desa Adipuro Waluyo mengutarakan, sebetulnya Blumbang Roto belum dibuka secara resmi untuk wisata. Karena aksesnya masih sempit dan merupakan jalan usaha tani. Ketika ada wisatawan dan berpapasan dengan petani, praktis akan membuat ketidaknyamanan.


Sejumlah warga juga mengeluh terkait keberadaan wisatawan tersebut. Sehingga untuk kebaikan semuanya, bagi wisatawan yang ingin ke Blumbang Roto. Dia sebetulnya juga berterima kasih dengan fakta ini. Tapi mohon maaf, dari desa belum bisa memberi kesempatan itu. “Karena jalannya belum memadai dan ada tanjakan terjal," bebernya, Selasa (30/7).


Pemdes bersama warga setempat telah memasang papan informasi bertuliskan 'jalan usaha tani, bukan jalan wisata- di jalur masuk menuju Blumbang Roto pada Sabtu (27/7). Selain itu juga di beberapa titik yang kerap dijadikan spot foto wisatawan.


Banyak wisatawan yang berfoto, lalu mengunggahnya ke medsos. Dari postingan tersebut, menjadikan Blumbang Roto viral dan semakin banyak yang berkunjung.

Waluyo menyebut, dengan lebar jalan kurang dari 2 meter, membuat petani kesulitan untuk menghindari wisatawan yang melintas ataupun kendaraan yang diparkir di tepi jalan. Ditambah jika petani membawa hasil pertaniannya.


Jalannya tidak cukup untuk berpapasan karena mereka juga membawa rumput dan lainnya. Itu kalau (petani) mau menghindar, tidak bisa. “Kan itu (jalan) bukan tempat parkir karena mereka rata-rata parkirnya di tepi jalan," paparnya.

Saat itu, pemdes juga belum mendeklarasikan Blumbang Roto menjadi destinasi wisata. Pemdes juga tidak menyangka jika Blumbang Roto akan menjadi viral. Memang, dia tidak menampik, pemandangannya cukup bagus dan cocok untuk sekadar berfoto atau menepi dari hiruk-pikuk perkotaan.

Di sisi lain, dia khawatir, begitu Blumbang Roto ramai oleh wisatawan, ada investor yang menawarkan investasi dan disulap menjadi area wisata. Itu salah satu kekhawatiran juga ada. Karena orang sini lahannya sedikit. “Sehingga kalau nanti dijual, istilahnya mesakke anak putune. Kehilangan aset selamanya," terangnya.

Waluyo menambahkan, meski ditutup untuk wisatawan, jalur itu kerap dilalui pendaki yang hendak menuju Gunung Sumbing. Sehingga mereka tetap diperbolehkan melintas. Apalagi jika menggunakan jasa ojek.

Camat Kaliangkrik Djoko Susilo tidak menampik, sebagian besar wilayah di Kecamatan Kaliangkrik memiliki spot pemandangan yang cukup menawan. Termasuk satu di antaranya adalah Blumbang Roto. Tapi selama ini, belum dikelola secara resmi sebagai objek wisata. “Baik oleh desa maupun kelompok atau komunitas yang ada di desa," sebutnya.

Kendati begitu, pemdes berencana untuk mengembangkan Blumbang Roto menjadi desa wisata. Namun, saat ini masih disinkronkan dengan kultur religi yang ada di Desa Adipuro. Sehingga tidak mudah untuk memberi pemahaman kepada masyarakat terkait dampak dari pengembangan wisata.

Djoko berharap, rencana tersebut tidak memengaruhi kultur yang ada di desa tersebut. Apalagi area Blumbang Roto merupakan jalan usaha tani. "Sehingga pemdes dan masyarakat menganggap bahwa kehadiran mereka belum benar-benar bisa disinkronkan dengan kebutuhan desa," urainya.

Kepala Disparpora Kabupaten Magelang Mulyanto melihat, penutupan tersebut merupakan dinamika yang terjadi di masyarakat. Serta ada miskomuninasi sehingga perlu duduk bersama. "Petani punya cara berpikir, punya konsep sendiri. Maka kita berharap adanya kolaborasi," terangnya, Selasa (30/7).

Dengan adanya kolaborasi tersebut, petani memiliki andil untuk ikut serta membangun pariwisata di Kabupaten Magelang. Terlebih, kawasan Blumbang Roto memiliki kesamaan dengan Negeri Sayur Sukomakmur. Keduanya sama-sama menyajikan lanskap alam serta hamparan sayur-mayur.

Blumbang Roto berpotensi untuk disulap layaknya Negeri Sayur Sukomakmur yang menyajikan agrowisata. Agrowisata juga memuat edukasi kepada wisatawan. Sebab tidak hanya bicara soal hasil, tapi juga proses.

"Dibesut oleh Desa Sukomakmur menjadi negeri sayur karena sayur juga menjadi ladang untuk mengais pariwisata, membersamai pariwisata. Cuma ini ada miskomunikasi, sehingga harus duduk bersama," sebutnya. 

Dia berharap, masyarakat dapat turut serta membangun pariwisata dan edukasi terkait potensi di Blumbang Roto. Namun, harus ada kolaborasi dengan seluruh komponen masyarakat. Baik oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis), gabungan kelompok tani (gapoktan), dan lainnya. 

Baca Juga: Harga Gabah Tinggi, Petani di Bantul Masih Tunggu Masa Panen

Dengan begitu, keberadaan Blumbang Roto di Dusun Prampelan, Adipuro, Kaliangkrik dapat menjadi wisata penyangga Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Borobudur. Apalagi geliat masyarakat untuk berwisata ke destinasi alam, cukup diminati. Hal itu praktis memberi multiplier effect.

Mulyanto mengaku kaget dengan langkah pemdes menutup akses jalan itu untuk wisatawan. Namun, dia tidak menampik, konsep pariwisata memang membutuhkan waktu demi mewujudkan 3A atau atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. 

Sebetulnya, dengan viralnya Blumbang Roto sebagai wisata alam yang hidden gem, mampu menggaet wisatawan dari berbagai daerah untuk datang. "Justru ini bagus. Mudah-mudahan ke depan bisa duduk bersama mencari solusi," paparnya. (aya)

 

Editor : Satria Pradika
#wisatawan #tutup akses jalan #petani #pemkab