RADAR PURWOREJO - Kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2024 masih menjadi perbincangan hangat. Sebab, publik menyebut ada 'perang bintang' karena bakal calon gubernurnya merupakan seorang jenderal bintang empat Andika Perkasa dan bintang tiga Ahmad Luthfi. Ditambah dengan partai pengusung dari kedua bakal calon itu yang dinilai cukup timpang.
Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menilai, kontestasi pilgub kali ini cukup unik. Ketika dilihat dari konteks narasi konspiratif, ada kekhawatiran soal potensi penggunaan instrumen kekuasaan. Terutama yang menjadi latar belakang dari nama-nama besar itu.
Dia menyebut, Andika memiliki latar belakang seorang TNI. Sementara Luthfi sudah menjadi jenderal bintang tiga dengan latar belakang Polri. "Apakah kemudian akan menggerakkan sel-sel instrumen politik itu atau tidak. Tentu ini menjadi wake up call bagi semua pihak supaya menjaga netralitas instrumen kekuasaan," ujarnya saat ditemui, Senin (2/9/2024).
Netralitas itu, kata dia, untuk meminimalisasi adanya tudingan-tudingan yang mengarah pada satu pihak. "Misalnya, di Jawa Tengah ada perang bintang, maka ada instrumen kekuasaan yang tidak netral. Itu akan menjadi catatan yang tidak produktif bagi demokrasi lokal di Jawa Tengah," sambung pengamat politik Universitas Paramadina itu.
Kemudian, Umam juga menyoroti soal potensi kemenangan di antara kedua bakal calon tersebut. Hal itu perlu diantisipasi karena adanya ketimpangan dukungan partai politik yang ada. Meski faktanya, PDIP memiliki golden ticket untuk mengusung sendiri calon gubernurnya. Terlebih, Jawa Tengah merupakan kandang banteng yang tidak pernah mengalami kekalahan. Karena PDIP selalu berjaya.
Tetapi, pada Pilkada 2024 ini, PDIP patut mengantisipasi situasi terburuk. Mengingat sebagian besar partai justru mendukung Luthfi dan mengantongi sekitar 75 persen kekuatan politik. Sementara Andika tidak memiliki basis elektabilitas yang tinggi. Karena dia menilai, Andika belum benar-benar menyiapkan diri untuk maju di Pilkada Jawa Tengah.
Di satu sisi, kata dia, partai politik yang belakangan ini menang pada Pilkada Jawa Tengah memiliki komposisi nasionalis santri. "Sementara posisi dari Pak Andika dengan Mas Hendi (Hendrar Prihati, Red) itu cukup patut diapresiasi. Dia (Hendi) bisa maju di Pilkada Kota Semarang sampai mengkonsolidasikan kotak kosong. Tapi, komposisi Pak Andika dan Pak Hendi itu di ceruk basis pemilih loyal yang sama, yaitu PDIP," katanya.
Ketika keduanya ingin menang, maka advancedment atau kemajuan di level segmen non-nasionalis juga harus diperkuat. Kondisi itu berbanding terbalik dengan Luthfi. Umam menuturkan, dari segmen nasionalis santri dipegang oleh PKB. Pada Pemilu 2024 lalu, PKB mengantongi 20 kursi dewan.
Terlebih, wakilnya Taj Yasin Maimoen merupakan mantan wakil gubernur Jawa Tengah 2018-2023. "Dia (Taj Yasin) juga merupakan putra dari almarhum mbah Maimoen Zubair. Ya kita tahu mbah Moen punya jaringan santri yang cukup kuat, utamanya di wilayah pantai utara seperti Demak, Jepara, Kudus, Pati, hingga Rembang. Sehingga berpotensi mendekati titik kemenangan lebih besar," paparnya.
Selain itu, ada satu segmen kekuatan non infrastruktur politik. Yakni soal jaringan non politik, seperti ormas keagamaan. Jawa Tengah menjadi salah satu basis dari Nahdlatul Ulama (NU). Pada Pilkada 2024, ormas tersebut nampaknya berada di belakang pasangan Luthfi dan Taj Yasin. Dari infrastruktur tersebut, dia menilai, Luthfi dan Taj Yasin lebih unggul di atas kertas dibanding Andika dan Hendi.
Padahal, lanjut Umam, sebelumnya PDIP cukup solid dengan menguasai sekitar 28 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Ketika PDIP tidak mengantisipasi hal tersebut, praktis Pilkada 2024 diprediksi menjadi titik awal kekalahannya di kandang sendiri.
"Kalau misal PDIP ini tidak bersiap dan tidak bisa mengantisipasi dinamika tadi, jangan sampai nanti ada yang kaget di mana Pilkada 2024 menjadi titik awal kekalahan PDIP di kandangnya sendiri," urainya. (aya)
Editor : Satria Pradika