MUNGKID - Rencana pemasangan chattra atau payung sudah berada pada tahap kajian teknis dan penyusunan Detail Engineering Design (DED). Chattra hasil rekonstruksi Theodore van Erp sudah dibongkar dan diukur. Hanya saja, masih ada sejumlah guidelines yang harus dipenuhi agar benar-benar layak dipasang di atas stupa induk Candi Borobudur.
Direktur Kebijakan Pembangunan Manusia, Kependudukan, dan Kebudayaan, BRIN Prof Anugerah Widiyanto mengatakan, kajian teknis dan penyusunan DED sudah rampung dilakukan. Hasilnya pun sudah dikantongi. Namun, dia enggan membeberkan hasil kajian itu karena harus disampaikan kepada Kemenag terlebih dahulu.
Dari hasil rekonstruksi Theodore van Erp, BRIN melakukan simulasi pemasangan di stupa induk. Dari kajian yang dilaksanakan sebelumnya, ada sejumlah bebatuan yang dianggap tidak asli. Nantinya, bebatuan tersebut tidak diikutsertakan dalam rekonstruksi chattra ke stupa induk Candi Borobudur.
Baca Juga: Lakon Dewa Ruci: Kisah Bima Menemukan Jati Diri dan Kesempurnaan Hidup
Anugerah menyebut, dulunya memang ada chattra di atas stupa induk dan kekuatan strukturnya dirasa cukup kuat. "Kita juga lihat dari struktur stupa induk candinya. Sehingga bisa dipasang chattranya. Tapi, kita juga harus melihat apakah bangunan itu benar-benar kokoh," katanya saat dihubungi, Selasa (10/9).
Ditambah dengan adanya isu megathrust atau gempa dan hujan abu. Dengan begitu, ketika chattra tersebut benar-benar dipasang di atas stupa induk, tidak membahayakan keselamatan pengunjung. Karena itu, BRIN juga memberikan beberapa rekomendasi terkait aspek keselamatan bangunan, pengunjung, dan lainnya.
Saat ini, Anugerah menambahkan, BRIN tengah mengebut untuk membuat laporan terkait hasil kajian teknisnya. "Nanti kalau rekomendasinya, kami belum berani menyampaikan. Karena harus kami sampaikan ke Kemenag dulu. Apalagi masih ada beberapa hal yang perlu dipikirkan," terangnya.
Koordinator Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Borobudur Wiwit Kasiyati mengutarakan, beberapa waktu lalu Kemdikbudristek telah mengeluarkan izin terkait kajian teknis dan penyusunan DED pemasangan chattra. Selama rentang waktu 1-9 September, tim dari BRIN dan Kemenag melaksanakan kajian tersebut.
Dia menyebut, chattra hasil rekonstruksi van Erp sudah dibongkar untuk dilakukan pengukuran tiap-tiap batu. Langkah-langkah itu memang harus dilakukan guna melengkapi kajian teknisnya. Kemudian, tim juga telah memasang perancah di stupa induk untuk mengukur chattra jika nantinya bisa terpasang.
Wiwit menyebut, selain kajian teknis dan penyusunan DED, masih ada sejumlah langkah yang harus dilakukan sebelum chattra benar-benar dipasang. Seperti Heritage Impact Assesment (HIA) atau penilaian dampak warisan. "Itu harus disampaikan kepada UNESCO," ujar dia di kantornya.
Sebab, kata dia, Candi Borobudur merupakan warisan budaya dunia. Sehingga ada guidelines atau aturan-aturan tertentu. Berdasarkan hasil sementara kajian teknis dan penyusunan DED, kekuatan struktur stupa induk tergolong lemah karena berat total chattra sekitar 1,4 ton. Sehingga berbahaya jika chattra dipasang.
Padahal, lanjut dia, susunan chattra itu berongga. Tidak 100 persen terdiri dari tumpukan bebatuan. "Sehingga apa yang disampaikan di media sosial, bisa ada chattra di sana (stupa induk). Tapi, harus melalui adaptive re-use. Itu mestinya ada kajian mendalam," lontarnya.
Selain itu, dia tidak mengetahui persis seperti apa hasil kajian teknisnya. "(Bebatuan chattra hasil kajian BRIN) belum diujicobakan dipasang (di stupa induk). Hanya dilakukan pengukuran. Mestinya tim kajian teknis ini akan menyampaikan dan melaporkan kepada pimpinannya," imbuhnya.
Wiwit menambahkan, ketika bebatuan chattra dipasang, hal itu menjadi kebijakan politis. Harapannya, ada kebijakan politis lagi usai melihat fakta hasil kajian teknis yang telah dilakukan. Apalagi kekuatan strukturnya sangat lemah. Sehingga akan menimbulkan risiko jika dipasang. (aya)