MUNGKID - Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) An-Nuur di Sawitan, Mungkid berdiri megah di atas tanah seluas 5,0076 hektare. Pembangunan masjid tersebut menjadi satu upaya Pemprov Jateng untuk mendukung Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Borobudur. Nantinya, masjid itu dapat menampung sekitar 8.000 jemaah.
Berdasarkan pantauan, bangunan utama masjid dan menara sudah berdiri kokoh. Di halaman luar, ada sejumlah pohon dan rumput yang sengaja ditanam agar area masjid terasa sejuk. Masjid itu dirancang memiliki dua lantai dan akan diresmikan Presiden Joko Widodo pada awal Oktober.
Sekretaris Pemprov Jateng Sumarno menjelaskan, MAJT ini menjadi kontribusi pemprov untuk mendukung keberadaan DPSP Borobudur. Pembangunan masjid tersebut dilakukan secara kerja sama antara pemprov dengan Pemkab Magelang.
Pemkab menyediakan lahan seluas 1,9138 hektare dan pemprov menyediakan 3,2259 hektare. "Penyiapan bangunan fisik diawali dengan penyusunan studi kelayakan, sayembara desain, master plan, dokumen Amdal, studi Andalalin, dan dokumen perencanaan," ujarnya di sela peninjauan, Kamis (19/9).
Baca Juga: Proyek Pembangunan di Kawasan Borobudur Akan Diresmikan Jokowi pada Awal Oktober
Baca Juga: Kisah Cinta Rukmini dan Krisna: Jelmaan Sang Dewi Laksmi yang Menentang Takdir Pernikahan
Selain itu, pemprov juga telah melakukan proses review detail engineering design (DED) melalui kajian bersama tim ahli analisis dampak cagar budaya (HIA). Serta berkoordinasi dengan Museum dan Cagar Budaya (MCB) Borobudur.
Sumarno menyebut, MAJT mampu menampung sekitar 8.000 jemaah. Kapasitas itu dinilai cukup besar, sehingga ketika nantinya ada kegiatan keagamaan, bisa digelar di MAJT. Bangunan fisiknya menelan anggaran sebesar Rp 11 miliar.
Menariknya, ada menara setinggi 39 meter yang bisa melihat pemandangan sekitar, termasuk Candi Borobudur. "Ini (ketinggian) memang berbeda dari sebelumnya sekitar 50-an meter. Desain pun kita harus berkoordinasi dengan UNESCO. Karena terlalu tinggi, kita turunkan menjadi 39 meter karena tidak boleh melebihi stupa candi," sebutnya.
Dia menyebut, antara MAJT di Magelang memang tidak dilengkapi dengan payung elektrik seperti di Semarang dan dibiarkan terbuka. Sebab ada beberapa hal yang dipertimbangkan. Satu di antaranya, payung elektrik di Semarang jarang terpakai dan perawatannya terlampau mahal.
Sementara Masjid An-Nuur akan tetap berdiri dan dialihfungsikan sebagai perpustakaan. Karena masjid tersebut memiliki nilai sejarah. Harapannya, selain Candi Borobudur, MAJT tersebut juga bisa menjadi magnet bagi wisatawan. Sehingga wisatawan muslim dapat melaksanakan salat di MAJT. (aya)
Editor : Heru Pratomo