MAGELANG - Seorang warga diduga menimbun puluhan kucing di sebuah warung kecil di Kampung Kluyon, Kramat Utara, Kota Magelang. Kasus tersebut berhasil diungkap oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN) atas laporan dari masyarakat. JAAN menemukan total 42 ekor kucing, 25 di antaranya ditemukan dalam kondisi mati.
Kasus itu diunggah di akun Instagram JAAN yang memperlihatkan proses evakuasi kucing dari lokasi tersebut. Dari video itu, tampak beberapa kandang yang di dalamnya berisi kucing. Anggota JAAN juga memperlihatkan puluhan bangkai kucing.
Seorang Aktivis JAAN Mustika mengutarakan, semula dia mendapat laporan dari masyarakat pada 9 Oktober terkait kasus penelantaran kucing karena tidak memiliki biaya untuk merawatnya. Penimbun memiliki 42 ekor kucing. 25 ekor di antaranya mati dan 17 lainnya membutuhkan penanganan medis. Sebab kondisinya memprihatinkan.
Baca Juga: Wawasan Islami: Doa Para Nabi yang Diabadikan dalam Al-Qur’an
Baca Juga: Hari Jadi Ke-76 DPRD Purworejo, Anggota DPRD Terus Komitmen Jalankan Tugas Sebagai Anggota Dewan
Mustika menyebut, berdasarkan keterangan yang diperoleh, penimbun diusir dari tempat tinggal sebelumnya. Karena tetangga kerap mencium bau bangkai, kotoran, dan lain-lain yang tidak dapat ditoleransi. Kemudian, penimbun pindah dan menyewa sebuah tempat yang dulunya warung di Kampung Kluyon.
Dia mengatakan, penimbunan itu bahkan menyimpan sisa-sisa kucing yang telah mati beberapa bulan lalu. Saat dia bersama tim JAAN bertandang ke lokasi pun, dari luar sudah tercium bau tidak sedap. "Kayak bangkai kering. Karena pintunya digembok, saya diizinkan pemilik rumah untuk buka dari jendela," terangnya, Selasa (29/10).
Saat evakuasi pun, kata dia, tidak ada penimbun. Namun, karena mendesak untuk dilakukan, dia bersama tim JAAN membuka jendela dan mulai melihat kondisi kucing. Betapa kagetnya dia, bau tidak sedap semakin menguar. Sebab ada puluhan bangkai kucing.
Sementara belasan kucing lainnya berada di dalam kandang dan kondisinya tidak sehat. Kucing yang tersisa itu, lanjut dia, lantas dibawa ke klinik dokter hewan karena seluruhnya membutuhkan perawatan medis.
Sebetulnya, penimbun memiliki kecintaan terhadap kucing. Penimbun ingin menyelamatkan dan merawat kucing-kucing liar yang ditemui. Hanya saja, penimbun tidak memiliki biaya untuk merawatnya.
Baca Juga: Dandim 0709 Kebumen Minta Tak Ada Nobar di Dekat Lokasi Debat
Baca Juga: Lupa Jumlah Rakaat dalam Sholat? Begini Langkah yang Tepat untuk Mengatasinya
Setelah dilakukan perawatan di dokter hewan selama kurang lebih 8 hari, Mustika tidak mengira jika tagihannya terlampau tinggi, yakni Rp 14 juta. Padahal, JAAN juga perlu membayar tempat sementara untuk menampung belasan kucing itu. Termasuk makanan, kandang, hingga perawatan medis lebih lanjut.
Untuk itu, dia membutuhkan bantuan atau donasi untuk menolong kucing tersebut. Selain itu, dia juga mempersilakan apabila ada orang yang bersedia mengadopsinya. "Kami membuka donasi. Kalau mau adopsi juga boleh. Saat ini, posisi (kucingnya) di Magelang dan ada bakterinya sehingga tidak bisa dievakuasi di Jakarta," katanya.
Sementara itu, pemilik warung Ahmadi menyebut, penimbun berinisial E menyewa warungnya pada September lalu selama satu bulan. Dengan biaya sewa Rp 250 ribu. Hanya saja, Ahmadi harus membeli lampu baru dan meminta tukang untuk memasangnya dengan biaya total Rp 150 ribu. Praktis dia hanya mendapat Rp 100 ribu.
Sebetulnya, dia tidak mengetahui jika E menyewa warungnya untuk menimbun kucing. "Tahunya mau jualan nasi kucing. Ternyata menimbun kucing. Kucing-kucingnya diletakkan di dalam kandang. Banyak tetangga yang ngeluh karena bau," sebutnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo