MAGELANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Magelang menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara Pilkada 2024. Simulasi ini dilakukan untuk mengidentifikasi masalah hingga memetakan waktu pencoblosan. Dari simulasi itu, pemilih rata-rata membutuhkan waktu maksimal tiga menit.
Simulasi tersebut diselenggarakan di Lapangan Kwarasan, Cacaban pada Rabu (6/11). Lapangan itu ditata layaknya tempat pemungutan suara (TPS) 007. Sebelum memilih, sebanyak 580 pemilih dari Kelurahan Cacaban mendapatkan dua surat suara. Yakni surat suara gubernur-wakil gubernur dan wali kota-wakil wali kota.
Warga diminta melakukan pencoblosan di bilik suara yang disediakan. Setelah selesai, surat suara itu dimasukkan pada kotak suara. Sesuai jenis dan warna surat suara. Di sana, juga ada para saksi yang dihadirkan untuk memantau jalannya pemungutan dan penghitungan suara.
Baca Juga: Adu Banteng Motor di Jalan Raya Magelang-Semarang, Pengendara Meninggal
Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Kota Magelang Yuda Aryunanda menuturkan, simulasi ini merupakan gambaran pemungutan dan penghitungan suara pada 27 November 2024 mendatang. "Kami menyosialisasikan pelaksanaan pilkada dan melihat kesiapan anggota KPPS seperti apa," ujarnya.
Saat simulasi, dia juga menyoroti pentingnya perencanaan dan memetakan waktu pemungutan suara. Terutama estimasi waktu yang dibutuhkan setiap pemilih. Mulai dari pengambilan surat suara hingga memasukkannya ke dalam kotak suara.
Hal ini bertujuan untuk memastikan kelancaran proses pemungutan dan penghitungan suara. Yuda menyebut, rata-rata setiap pemilih membutuhkan waktu maksimal tiga menit. Karena warga hanya mendapat dua surat suara, berbeda dengan Pemilu 2024 lalu.
Selain itu, lanjut Yuda, simulasi ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi permasalahan yang muncul saat pilkada. "Nanti akan kami siapkan bagaimana cara dan solusi jika terjadi masalah yang nanti akan kami sampaikan pada Kelompok Penyelengaara Pemungutan Suara (KPPS)," sebutnya.
Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Kota Magelang Yuda Aryunanda menuturkan, simulasi ini merupakan gambaran pemungutan dan penghitungan suara pada 27 November 2024 mendatang. "Kami menyosialisasikan pelaksanaan pilkada dan melihat kesiapan anggota KPPS seperti apa," ujarnya.
Saat simulasi, dia juga menyoroti pentingnya perencanaan dan memetakan waktu pemungutan suara. Terutama estimasi waktu yang dibutuhkan setiap pemilih. Mulai dari pengambilan surat suara hingga memasukkannya ke dalam kotak suara.
Hal ini bertujuan untuk memastikan kelancaran proses pemungutan dan penghitungan suara. Yuda menyebut, rata-rata setiap pemilih membutuhkan waktu maksimal tiga menit. Karena warga hanya mendapat dua surat suara, berbeda dengan Pemilu 2024 lalu.
Selain itu, lanjut Yuda, simulasi ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi permasalahan yang muncul saat pilkada. "Nanti akan kami siapkan bagaimana cara dan solusi jika terjadi masalah yang nanti akan kami sampaikan pada Kelompok Penyelengaara Pemungutan Suara (KPPS)," sebutnya.
Baca Juga: New Honda Scoopy Generasi Terbaru Siap Mencuri Perhatian Pecinta Skutik Unik dan Fashion
Terlebih, di TPS 007 Kelurahan Cacaban ini ada pemilih disabilitas. Sebab, nantinya seluruh TPS di tiga kecamatan harus ramah terhadap disabilitas. "Ada satu (pemilih) disabilitas dan satu lansia yang kami layani (pencoblosan) dengan mendatanginya ke rumah," imbuhnya.
Yuda mengatakan, layanan itu diberikan kepada pemilih prioritas seperti lansia atau warga yang sakit dan disabilitas. Agar mereka tetap mendapatkan hak untuk menyalurkan suaranya. KPU juga akan memastikan setiap TPS dapat mudah diakses bagi semua warga.
Karena itu, kata dia, KPU meminta PPS untuk mencari lokasi TPS yang aksesibilitas. Nantinya, KPU juga menyediakan template braille bagi tunanetra dan formulir C3 sebagai bentuk perjanjian agar pendamping yang mendampingi pemilih prioritas bersedia menjaga kerahasiaannya.
Simulasi ini, lanjut dia, juga merupakan media sosialisasi kepada warga terkait pelaksanaan Pilkada 2024. Sebelum pilkada tiba, KPU memang perlu memastikan seluruh tahapan penyelenggaraan pemilihan berjalan dengan baik. (aya)
Terlebih, di TPS 007 Kelurahan Cacaban ini ada pemilih disabilitas. Sebab, nantinya seluruh TPS di tiga kecamatan harus ramah terhadap disabilitas. "Ada satu (pemilih) disabilitas dan satu lansia yang kami layani (pencoblosan) dengan mendatanginya ke rumah," imbuhnya.
Yuda mengatakan, layanan itu diberikan kepada pemilih prioritas seperti lansia atau warga yang sakit dan disabilitas. Agar mereka tetap mendapatkan hak untuk menyalurkan suaranya. KPU juga akan memastikan setiap TPS dapat mudah diakses bagi semua warga.
Karena itu, kata dia, KPU meminta PPS untuk mencari lokasi TPS yang aksesibilitas. Nantinya, KPU juga menyediakan template braille bagi tunanetra dan formulir C3 sebagai bentuk perjanjian agar pendamping yang mendampingi pemilih prioritas bersedia menjaga kerahasiaannya.
Simulasi ini, lanjut dia, juga merupakan media sosialisasi kepada warga terkait pelaksanaan Pilkada 2024. Sebelum pilkada tiba, KPU memang perlu memastikan seluruh tahapan penyelenggaraan pemilihan berjalan dengan baik. (aya)