Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Panen Raya, Harga Salak Pondoh dari Srumbung Tinggal Rp 1.000 per Kilogram

Naila Nihayah • Kamis, 9 Januari 2025 | 16:10 WIB

PANEN RAYA: Produksi salah pondoh di Desa Kaliurang, Srumbung melimpah sehingga berpengaruh terhadap harga jual.
PANEN RAYA: Produksi salah pondoh di Desa Kaliurang, Srumbung melimpah sehingga berpengaruh terhadap harga jual.




MUNGKID - Produktivitas salak pondoh di Kecamatan Srumbung melimpah. Sebab saat ini tengah berada di puncak masa panen raya. Hanya saja, kondisi itu justru membuat harga jual di tingkat petani menjadi rendah.

Seorang petani salak pondoh di Desa Kaliurang, Srumbung Ningsih menuturkan, saat ini harga salak sangat murah. Hanya berkisar di angka Rp 1.000 - Rp 1.500 per kilogram (kg). "Murah sekali (jualnya). Beberapa minggu lalu, harganya Rp 5.000 per kg," katanya, Rabu (8/1).

Harga itu, lanjut Ningsih, berlaku untuk salak kualitas bagus, ukuran besar, dan segar. Sedangkan salak kecil hasil sortir lebih murah lagi, hanya dikisaran Rp 500 per kg. 

Baca Juga: Harga Cabai di Magelang Makin Pedas, Dijual Rp 95 Ribu Per Kg

Menurut Ningsih, salak dari petani di Desa Kaliurang terkenal memiliki rasa manis karena perawatannya. Setelah dipetik dari kebun, buah salak langsung dibawa petani ke pedagang lokal sehingga terjaga kesegarannya.

Meski volume panen melimpah dibanding hari biasa. Namun, dengan harga saat ini, praktis membuat petani tidak mendapat keuntungan maksimal.

Ningsih mencontohkan, dalam satu minggu biasanya sekali panen minimal 50 kg atau dua keranjang. Sejak Desember 2024 hingga sekarang bisa 4-5 keranjang atau kisaran 1 kuintal. "Hasil panen banyak, tapi harga murah. Tidak dapat hasil uang banyak untuk kebutuhan," katanya.

Baca Juga: Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Tertinggi di Jateng, Warga Kebumen Suka Baca

Sementara itu, pedagang buah salak di Desa Kaliurang Muslihah menyebut, anjloknya harga salak juga dipengaruhi panen raya buah lain. Seperti rambutan, mangga, dan sawo. Menurutnya, masa panen buah dalam waktu yang sama itu biasanya terjadi setelah musim kemarau, sehingga konsumen di pasar banyak pilihan.

"Tentu menjadi banyak pilihan, sehingga harga jual buah salak rendah," jelas Muslihah.

Beberapa upaya juga dilakukan para petani salak untuk mendongkrak harga dan mengembalikan kejayaan buah eksotik ini. Salah satunya dengan ekspor ke beberapa negara di kawasan Asia maupun diolah menjadi makanan camilan. Seperti dodol, geplak, keripik, dan lainnya.

Baca Juga: Cerita Pemasok Susu Program MBG di Kota Magelang,Awalnya Iseng Sampai Kirim 15 Sampel Susu  

Dengan kondisi saat ini, para petani salak di lereng barat Gunung Merapi berharap, harga jual dapat kembali normal sehingga mereka tetap mendapat keuntungan. Dia menyebut, harga buah salak kategori ekspor di kisaran Rp 5.000 per kg. Sedangkan beberapa bulan sebelumnya, harganya bisa mencapai Rp 10.000 per kg.

Dia menambahkan, salak dari pedagang lokal biasanya dijual ke pasar di wilayah Tempel, Sleman dan pasar di Semarang dan Solo lewat pengepul besar. "Panen ini bisa terkumpul lebih 20 keranjang untuk dibawa ke pasar. Harga di situ (di pasar) juga murah," lontarnya. (aya)

Editor : Heru Pratomo
#harga jual #Kilogram #Srumbung #panen raya #salak pondoh #Magelang