MUNGKID - Warga Dusun Wironayan, Kradenan, Srumbung digegerkan dengan adanya sosok bayi yang dibungkus selimut di sebuah gazebo, Rabu (8/1). Bayi malang itu diprediksi baru lahir karena masih terdapat sisa darah di kepalanya. Selain itu, tali pusar bayi tersebut tidak dipotong dengan baik.
Dari video yang beredar, bayi berjenis kelamin perempuan itu tampak dibalut selimut bergambar. Dia mengenakan baju berwarna putih dan kupluk berwarna merah muda lengkap dengan sarung tangan. Meski dalam kondisi sehat dan masih hidup, bayi itu tidak menangis saat pertama kali ditemukan.
Warga Dusun Wironayan Kristina mengutarakan, bayi perempuan itu ditemukan oleh sepupunya bernama Supriyanto sekitar pukul 06.00 di gazebo. Saat itu, Supriyanto hendak meminjam linggis kepada Sulamto, pemilik rumah di depan gazebo. Namun, betapa kagetnya dia saat menemukan sosok bayi yang tergeletak sendirian.
Kepala Puskesmas Srumbung Satoto memperkirakan, bayi tersebut lahir dua jam sebelum ditemukan karena masih ada darah. Meski plesentanya sudah terpotong, tapi kondisi tali pusar masih tergantung dan belum ditali. Setelah dibawa ke Puskesmas Srumbung, dokter segera memeriksanya. Dari hasil pemeriksaan, bayi itu dalam kondisi sehat.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu, kata dia, memiliki panjang 48 sentimeter, berat 3 kilogram, lingkar kepala 33 sentimeter, dan saturasi 98 persen. "Kami memberikan tindakan kepada bayi itu dengan menyuntikkan vaksin hepatitis, memberikan vitamin K, dan prosedur lain," ungkapnya.
Baca Juga: Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Tertinggi di Jateng, Warga Kebumen Suka Baca
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB PPPA) Kabupaten Magelang Bela Pinarsi mengatakan, bayi yang ditemukan di Wironayan, Kradenan, Srumbung itu dibawa ke Rumah Pelayanan Sosial Anak Balita Wiloso Tomo, Salatiga.
"Sementara (bayi) dititipkan di sana (rumah pelayanan) karena penanganan bayi yang ditelantarkan atau dibuang berada dalam kewenangan provinsi," lontarnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo