MUNGKID - Menjelang kremasi hari ini (7/5), jenazah konglomerat Murdaya Widyawimarta Poo sudah disemayamkan di kaki Bukit Dagi, kompleks Taman Wisata Borobudur. Ada cerita di balik pemilihan tangal kremasi ini. Ternyata kremasi bertepatan hari ulang tahun pernikahannya ke-54 bersama Siti Hartati Murdaya.
Sebelumnya, jenazah Murdaya Poo disemayamkan di Vihara Griya Vipasana Avalokitesvara (GVA) Mendut sejak Senin (14/4). Lantas, kemarin (6/5), jenazahnya dibawa ke kaki Bukit Dagi sebelum dilakukan proses kremasi. Peti jenazah Murdaya Poo tiba sekitar pukul 11.15 bersama keluarga yang turut mengiringinya.
Peti tersebut diletakkan secara perlahan di tempat yang sudah disediakan. Setelah itu, ada puja amitabha atau penghormatan dari Sangha Tantrayana. Puja berlangsung sekitar 40 menit. Kemudian ada pula biksu maupun umat Buddha yang memberikan penghormatan kepada mendiang Murdaya Poo.
Anak kedua Murdaya Poo, Prajna Murdaya menyebut, prosesi kremasi sang ayah akan dipimpin seorang Lama dari India. Sebab nantinya, jenazah Murdaya Poo akan dikremasi secara tradisional menggunakan kayu cendana dan gaharu sekitar 1,5 meter kubik. "Mulai acaranya pagi dengan sembahyang dan ada prosesi naik ke Bukit Dagi," ucapnya, Selasa (6/5).
Dia menjelaskan, pemilihan tanggal kremasi itu tidak hanya tepat sebulan meninggal, tetapi juga bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke-54. Tepatnya pada 7 Mei 1971. Rencananya, jenazah Murdaya Poo dikremasi pukul 10.00 atau sebelum pukul 12.00 di Bukit Dagi.
Dia mengatakan, prosesi kremasi itu membutuhkan waktu sekitar lima hingga delapan jam dengan api kecil. Namun abu mendiang sang ayah baru dibawa satu atau dua hari, sembari menunggu dingin. Pada Jumat (9/5), abu itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam guci untuk didoakan.
Kemudian, kata Prajna, abu tersebut akan dibawa kembali ke Vihara GVA mendut untuk didoakan. Barulah pada Senin (12/5) atau tepat saat puncak perayaan Tri Suci Waisak, abu dibawa ke altar yang berada di Zona I, kompleks Candi Borobudur. Sehingga umat Buddha bisa turut mendoakan mendiang Murdaya Poo.
Dia menambahkan, saat prosesi kremasi, akan dihadiri Menteri Agama Nassaruddin Umar dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Serta keluarga, biksu, hingga perwakilan umat Buddha.
"Pak Poo itu menjadi contoh bagi kami semua sehingga banyak teman-temannya yang datang (melayat) setelah meninggal dunia," bebernya.
Menjelang kremasi, sisi emosional Prajna keluar. Pada Senin malam (5/5), dia sempat melihat jenazah Murdaya Poo sembari berdoa. "Hari ini malam terakhir (Murdaya Poo) masih utuh. Itulah yang membuat saya berpikir bahwa di dunia ini tidak kekal, termasuk orang tua," tambahnya. (laz)
Editor : Heru Pratomo