Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Dua Ribu Umat Buddha dari Berbagai Negara Ikut ITC, Vibrasi Kebijaksanaan dari Candi Borobudur

Naila Nihayah • Sabtu, 5 Juli 2025 | 04:10 WIB
KHIDMAT: Umat Buddha mengikuti Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2569/2025 di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, 4-6 Juli 2025.
KHIDMAT: Umat Buddha mengikuti Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2569/2025 di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, 4-6 Juli 2025.

 

 

 

 

 

MUNGKID  - Ribuan umat Buddha berkumpul di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur untuk melantunkan kalimat-kalimat suci Tipitaka. Mereka menghadiri Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2569/2025 yang digelar Sangha Theravada Indonesia dan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia.

Kegiatan keagamaan yang telah berlangsung rutin sejak 2015 ini bukan sekadar pembacaan kitab suci. Melainkan juga momentum perenungan mendalam atas nilai-nilai luhur yang diyakini bisa menembus batas-batas agama, bangsa, dan bahasa.

Ketua Panitia Umum ITC dan Asalha Mahapuja 2569/2025 Bhikkhu Gutadhammo Mahathera mengatakan, tema yang diangkat tahun ini adalah Kebijaksanaan Dasar, Keluhuran Bangsa. "Karena kami meyakini dari kebijaksanaan akan lahir kedamaian," bebernya di sela acara Jumat (4/7).

Dia mengatakan, kegiatan ini tak hanya menghadirkan lantunan teks-teks suci dalam bahasa Pali. Tetapi juga menyuguhkan vibrasi spiritual yang menembus batas-batas kebangsaan, bahasa, bahkan keyakinan.

Tahun ini, lanjutnya, ada 2.000 peserta dari dalam dan luar negeri, termasuk dari Kamboja, Thailand, Sri Lanka, Myanmar, Malaysia, Singapura, Australia, Inggris, dan Amerika yang berpartisipasi secara aktif. Mereka terdiri atas biksu, samanera, atthasilani, dan upasaka-upasika.

Adapun teks yang dibaca adalah Majjhimanikāya Majjhimapaņņāsapāli Bhikkhuvaggo atau bagian dari Sutta Pitaka dalam Tipitaka. Para biksu cendekiawan hadir untuk membedah makna dan mengajak umat tak hanya menyimak tetapi memahami secara mendalam isi ajaran Buddha.

Bagi umat Buddha, ITC bukan hanya soal menghafal. Tapi tentang penghayatan supaya peserta pulang dengan pemahaman, bukan sekadar lantunan. "Tipitaka tak hanya dilafalkan, tapi dianalisis secara kritis dan batiniah," tambahnya.

Ketua pelaksana Upasaka Silakumaro Tony Coason menyebut, animo dari umat untuk mengikuti ITC dan Asalha Mahapuja setiap tahun meningkat. "Tapi karena keterbatasan tempat, kami batasi hanya 2.000 peserta,"  ungkapnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan dibagi menjadi beberapa sesi. Mulai pembacaan sutta, diskusi dhamma, pradaksina, meditasi, hingga prosesi spiritual. Puncaknya puja bakti agung Asalha Mahapuja yang diikuti lebih dari 11.000 umat dan biksu.

Pendekatan ini menjadikan ITC tak hanya ritual, tetapi juga pengalaman batin yang membekas. Karena dari bait-bait sutta yang dibacakan dalam keheningan Candi Borobudur, lahir harapan baru. Tentang dunia yang lebih damai hingga tentang umat manusia yang kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Dirjen Bimas Buddha, Kementerian Agama Supriyadi menegaskan, Candi Borobudur bukan sekadar destinasi wisata fisik, tetapi juga pusat wisata batin dunia. "Dengan kegiatan ini, kami ingin memperkuat keyakinan umat dan menjadikan Tipitaka sebagai pedoman hidup," ucapnya. (aya/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Indonesia Tipitaka Chanting #umat buddha #Candi Borobudur #itc