MAGELANG – Pemkot Magelang mulai menata ulang wajah koperasi agar tak lagi identik dengan aktivitas simpan pinjam semata. Lewat forum kontak bisnis Koperasi Merah Putih (KMP), pemkot berupaya membangun jejaring bisnis konkret bagi koperasi kelurahan dengan enam mitra strategis.
Enam entitas besar dihadirkan untuk membuka peluang kerja sama dan kemitraan. Seperti Perum Bulog, PT Pertamina Patra Niaga, PT Pupuk Indonesia, Bank Jateng, PT Jateng Agro Berdikari, dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Tengah.
Wakil Wali Kota Magelang Sri Harso mengatakan, koperasi saat ini perlu lebih dari sekadar legalitas administratif. Mereka harus diberi akses pasar, teknologi, hingga pembiayaan.
Menurut dia, koperasi tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri, melainkan harus bersinergi dengan lembaga usaha, keuangan, dan instansi pemerintah. Sehingga forum ini menjadi langkah awal membangun ekosistem koperasi kelurahan yang modern, mandiri, dan berdaya saing.
Namun, Sri Harso juga mengingatkan agar koperasi, terutama yang memiliki unit simpan pinjam harus berhati-hati dan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam operasionalnya. Karena anggota koperasi justru lebih mudah meminjam, tapi sulit saat mengembalikan. "Jadi harus benar-benar selektif dan profesional," katanya.
Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Mikro (DPPKUM) Kota Magelang Syaifullah menyebut, saat ini seluruh KMP di wilayahnya sudah resmi berbadan hukum.
Namun, Syaifullah mengakui jalan masih panjang. Sebab masih ada tantangan seperti permodalan, perizinan, dan ketersediaan tempat usaha. "Tapi dengan niat dan kolaborasi yang kuat, koperasi kelurahan akan mampu tumbuh dan memberi dampak nyata," sebutnya.
Kepala Balai Pelatihan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah Dwi Silo Raharja menjelaskan, koperasi tidak cukup hanya dibentuk. Tetapi juga harus benar-benar menjalankan usaha sesuai klasifikasi yang telah ditetapkan.
Mengacu pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), KMP didorong mengembangkan delapan jenis unit usaha potensial, yaitu gerai sembako, klinik desa, apotek desa, unit simpan pinjam, kantor koperasi, cold storage, logistik, dan usaha lain sesuai potensi lokal.
Kontak bisnis ini, dinilai penting karena menjadi media menjodohkan koperasi dengan mitra yang sesuai. "Kita ingin koperasi tumbuh sebagai aktor ekonomi, bukan hanya pengelola kas," tegas Dwi.
Forum ini juga menjadi bukti bahwa koperasi kelurahan tengah digeser dari paradigma lama menuju ekosistem baru yang berbasis pada kemitraan, inovasi, dan keberlanjutan usaha. Di tengah tantangan ekonomi global dan disrupsi digital, koperasi kembali dihidupkan sebagai tulang punggung ekonomi rakyat. (aya)