MUNGKID - Setelah lebih dari empat tahun ditiadakan, wisata sunrise di Candi Borobudur kembali dibuka. Bagi para pengunjung, momen ini bukan sekadar melihat matahari terbit, tetapi menyerap keheningan, sejarah, dan kekuatan spiritual dari situs warisan dunia itu.
Di balik langit yang masih gelap, langkah-langkah pelan terdengar menyusuri jalan setapak menuju Candi Borobudur. Waktu menunjukkan pukul 04.30. Matahari belum muncul, namun suasana terasa hidup. Seolah memberi gambaran untuk menatap Borobudur dengan cara baru.
Pengalaman itu dirasakan Maman, warga Semarang. Dia mengajak istri dan anaknya menyusuri perjalanan dini hari menuju Magelang. Sebelumnya, dia hanya mendengar soal program sunrise di Candi Borobudur. Dia pun tertarik untuk mencobanya.
Meski matahari tidak sepenuhnya terlihat, tapi dia merasakan sesuatu yang berbeda. Dia merasa seperti berada di tempat yang mahal, bukan cuma harga, tapi pengalaman yang didapat. "Ada rasa damai, dan kami bisa belajar banyak dari tempat ini," katanya di Candi Borobudur, Sabtu (26/7).
Pengalaman serupa juga dirasakan Gregoire Le Solleuz, wisatawan asal Prancis. Borobudur menjadi destinasi pertama yang dia pilih bersama keluarganya sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo dan Flores.
Terlebih, kunjungannya kali ini menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Menurutnya, Candi Borobudur adalah tempat yang menakjubkan. Meskipun matahari tidak muncul karena berawan, dia tidak kecewa. "Tempat ini tetap hidup dan kami bisa merasakannya," tuturnya penuh kekaguman.
Wisata sunrise ini bukan sekadar kembalinya agenda pariwisata, tetapi juga bagian dari upaya menghadirkan pengalaman yang lebih intim dan reflektif. Direktur Komersil InJourney Destination Management (IDM) Hetty Herawati menyebut, banyak wisatawan menantikan momen ini karena sensasi batiniah yang ditawarkan.
Sunrise kali ini, kata dia, didesain lebih meditatif dan syahdu. Bukan hanya soal melihat mentari terbit, tapi juga memberi ruang untuk merasakan Borobudur secara lebih dalam. "Ini permintaan dari banyak pihak untuk dihidupkan kembali," jelas Hetty.
Komisaris Utama PT TWC Kacung Marijan mengutarakan, kuota 100 orang ini jauh lebih tertib dari masa sebelumnya. "Kini kami ingin membentuk pengalaman yang lebih terkurasi, lebih menyentuh," terangnya.
Dalam pelaksanaan uji coba, PT TWC membatasi kunjungan wisata sunrise maksimal 100 orang per hari. Pengunjung diminta berkumpul lebih awal, yakni pukul 04.00 di Borobudur Cultural Center, sebelum diberangkatkan menuju kompleks candi.
Adapun tiket dibanderol seharga Rp 1 juta per orang, berlaku untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Harga itu termasuk berbagai fasilitas berupa wristband ticket, senter, sandal upanat, pemandu wisata bersertifikat, serta sarapan di restoran Lalitavistara.
Kuota 100 orang per hari ini, kata Kacung, bukan hal baru. "Sebelumnya malah sering over kapasitas. Tapi kali ini kami ingin lebih teratur. Dari uji coba ini, kami juga akan evaluasi,. Mulai dari layanan, fasilitas, hingga makanan," jelasnya.
Menurut Kacung, antusiasme pengunjung terhadap wisata sunrise mulai tumbuh. Akun Instagram resmi TWC pun telah mengumumkan program ini dan membuka kanal reservasi.
Terlebih, lanjut Kacung, program ini sudah menjadi bagian dari kesepakatan dengan Kementerian Kebudayaan. "Uji coba pertama sudah ditinjau langsung dan mendapatkan lampu hijau. Respons awal sangat positif," ujar pria yang dikenal sebagai pakar politik dan guru besar FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, ini.
Kacung tidak menampik, dalam praktiknya, sunrise memang tak selalu sempurna. Terkadang matahari bersembunyi di balik kabut atau mendung. Tapi, para pengunjung tampak tidak mempermasalahkan hal itu.
Justru banyak yang datang bukan hanya untuk memburu cahaya fajar, tapi untuk menyambut pagi dalam kesenyapan yang sakral. Menghayati jejak sejarah ribuan tahun dan membiarkan diri larut dalam suasana yang tak bisa direkayasa. (laz)
Editor : Heru Pratomo